Dua Hari Dua Kali Warga Malang Bunuh Diri, Psikolog Orang Dekat Harus Lebih Peka

Ilustrasi gantung diri. (iStock)

Kota Malang, Blok-a.com – Kasus bunuh diri di Malang muncul kembali. Terakhir adalah siswi salah satu SMA Negeri di Kota Malang bunuh diri dengan cara gantung diri diduga karena asmara.

Tentu saja hal ini menarik banyak perhatian publik. Hal ini jelas miris mengingat beberapa di antaranya masih di bawah umur, termasuk kasus terakhir bunuh diri di Kota Malang.

Baca selengkapnya: Diduga Gegara Asmara, Siswi SMA Negeri di Kota Malang Gantung Diri
Depresi, Kuli Tambang Pasir Gantung Diri di Rumah Saudaranya di Wagir Malang

Psikolog Rumah Sakit Jiwa Dr Radjiman Wedyodiningrat Lawang Daisy Prawitasari Poegoeh menilai, kasus bunuh diri adalah buah dari penyakit depresi.

Penyakit ini bisa menyerang siapa saja. Banyak faktor yang menyebabkan seseorang depresi. Apalagi apabila seseorang yang memiliki masalah bertumpuk.

“Contohnya masalah penyakit keras dan ekonomi (bersamaan) itu memang bisa memberikan sugesti berbahaya,” jelasnya melalui panggilan WhatsApp kepada wartawan Blok-A, (14/9/2023).

Representasi dari kedua masalah itu, mencerminkan kesehatan dan kekayaan adalah dua hal yang selalu diinginkan manusia secara naluri. Tanpa keduanya, manusia akan menciptakan sugesti. Kemudian, sugesti itu datang dari pikiran-pikiran yang membentuk dinding pembatas sosial.

Dia menjelaskan, dari sudut pandang korban, dinding itu bisa menutup semua solusi. Meski manusia yang tidak di posisi korban berfikir ada solusi yang bisa diupayakan, namun tidak bagi pelaku bunuh diri. Dinding itu juga memberikan buah perilaku menutup diri dari interaksi sosial. Akibatnya, pola pikir yang terus-menerus itu justru menjerumuskan korban menuju pilihan mengakhiri hidup.

Masih ada penanggulangan, lanjut Daisy, yang bisa dilakukan. Dia meminta masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi sekitar. Kebanyakan, perasaan orang yang cenderung ingin mengakhiri hidup lebih sensitif. Butuh rangkulan yang kuat agar perasaan sensitif itu tidak bergejolak lebih.

“Korban yang depresi dan putus asa akan kehilangan keinginan untuk hidup. Itulah yang membunuh mereka,” jelas ibu dua anak ini.

Dia menyebut, apabila seseorang memiliki tanda-tanda ingin mengakhiri hidup harus segera mencari pertolongan. Perasaan itu harus dilawan sekuat tenaga bersamaan dengan uluran tangan masyarakat. Pertolongan bisa dicari ke layanan kesehatan jiwa, masyarakat, atau teman terdekat. (mg2/bob)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?