Kota Malang, blok-a.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang menyatakan bahwa bau menyengat di sekitar Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang tidak hanya disebabkan oleh sampah, tetapi juga berasal dari kandang ayam yang berada di dekat lokasi tersebut.
Hal ini disampaikan oleh Kepala DLH Kota Malang, Noer Rahman Wijaya, setelah melakukan inspeksi bersama anggota Komisi C DPRD Kota Malang.
“Kami sudah melakukan identifikasi. Salah satu potensi bau ya tetangga sebelah (kandang ayam),” ujar Rahman.
Menurutnya, kandang ayam yang berdekatan dengan TPA memiliki luas sekitar 13 hektare dan menghasilkan bau tidak sedap, terutama saat musim hujan.
Rahman juga menjelaskan bahwa DLH telah bekerjasama dengan perusahaan untuk memproduksi bakteri yang mampu mengurangi bau dari cairan sampah. “Kami telah kerjasama dengan perusahaan untuk menghasilkan bakteri itu. Setiap hari kami tabur. Sekarang kita berada di TPA Supiturang, ada baunya tidak?” ungkapnya.
Selain itu, DLH Kota Malang tengah melakukan pendekatan dengan pelaku usaha peternakan ayam untuk mencari solusi bersama.
“Kita lakukan upaya pendekatan, bagaimana bisa sama-sama melakukan treatment agar dampak bau bisa teratasi,” katanya.
Bau menyengat ini juga dikeluhkan oleh warga sekitar, khususnya di wilayah Desa Jedong dan Pandanlandung, Kabupaten Malang, karena menimbulkan banyak lalat yang mengerumuni rumah-rumah warga saat musim hujan. Namun, Rahman mengaku belum memiliki kajian mendalam terkait kaitan bau ayam dengan munculnya lalat.
“Saya belum punya kajiannya berkait dengan di mana bau itu. Menurut pemahaman saya, kalau bau yang menyengat, pastilah lalat akan datang,” imbuh Rahman.
Rahman menegaskan bahwa masalah bau tidak sepenuhnya bisa dihilangkan, tetapi DLH akan terus berupaya meminimalkan dampaknya. “Ada beberapa masalah dari dulu, kita lakukan percepatan bagaimana masalah bisa kita selesaikan. Saya gak berani bilang akan hilang, tapi kita berharap ini agak berkurang baunya,” ujarnya.
Dengan luas TPA hampir 26 hektare, peningkatan volume sampah menjadi tantangan tersendiri. Rahman juga menyoroti perlunya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah untuk membantu mengatasi masalah ini.
“Pola pikir masyarakat harus berubah. Sehebat apapun inovasi dan improvisasinya, banyaknya anggaran, persoalan terbesar ada di hulu yakni perilaku masyarakat,” tutupnya. (yog/bob)









