KABUPATEN MALANG – Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Malang mempercantik Terminal Wisata Pasar Tumpang Kabupaten Malang. Dishub mempercantiknya dengan memoles sudut pujasera.
Ya, Pujasera yang dibangun sejak September 2020 itu membuat 56 Pedagang Kaki Lima (PKL) di Terminal Wisata Pasar Tumpang jadi tertata rapi. Tidak seperti dulu, PKL berdagang secara liar dan juga membuat kumuh pemandangan Terminal Wisata Pasar Tumpang.
Lahan parkir juga sempit termakan tenda-tenda yang dibangun secara bebas di lahan yang sebenarnya diperuntukan parkir angkutan atau jeep dari atau akan ke Bromo.
“Kalau puluhan tahun yang lalu PKL memakan lahan parkir. Kumuh lah. Kan dulu PKL itu bangun tenda besar-besar. Hasilnya lahan untuk parkir jeep atau kendaraan yang akan ke Bromo jadi sempit. Dan hadirnya pujasera ini membuat lahan sempit itu jadi luas dan rapi,” kata Kepala Dishub Kabupaten Malang, Hafi Lutfi ke Blok-A, Minggu (13/12).
Hafi mengatakan bahwa pujasera tersebut terdiri dari 43 kios yang bentuk bangunannya membentuk huruf L. Satu kiosnya memiliki luas 2 x 2 meter untuk kios dengan dagangan makanan dan 2 x 1,5 meter untuk kios dengan dagangan souvernir.
“Dan lahan tersebut berupa pengecoran dan juga atap spandek. Satu kios terdapat sekat atau pembatas juga. Seragam kok semuanya dan kami tata rapi,” kata ia.
Pembangunan pujasera tersebut sendiri memakan anggaran sekitar Rp 200 juta dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2020.
“Sebenarnya ini sudah kami usulkan bertahun-tahun untuk dianggarkan tapi baru tahun 2020 terealisasi,” kata Hafi.
Terpisah, Ketua Paguyuban Pedagang Terminal Wisata Pasar Tumpang, Lukman Faliq mengaku berterimakasih atas adanya pujasera tersebut. Kini Faliq tidak perlu lagi bongkar pasang lagi tenda lagi. Tidak perlu lagi tidak merasa enak ke pedagang Pasar Tumpang.
Dan yang paling penting kini tempat PKL berjualan jadi naik kelasnya. Tidak lagi menggunakan terpal berwarna biru yang nampak kotor, tapi berupa kios yang setara dengan pujasera di kawasan perkotaan.
“Dulu selama bertahun-tahun kami seperti orang yang dinilai membuat kumuh pemandangan Pasar Tumpang. Soalnya kan ini lahan parkir jadi habis. Dan juga tenda kami yang dari terpal itu juga tidak terawat. Tapi dengan adanya pujasera ini ya kami jadi bersyukur mempunyai kios cantik dan tidak memperkumuh Pasar Tumpang,” kata Lukman ke Blok-A.
Atas rasa syukur tersebut, Lukman dan PKL lainnya iuran untuk membangun musala dan toilet di sekitar pujasera. Satu PKL iuran sekitar Rp 1,8 juta – 2,2 juta. Saat ini musholla dan toilet tersebut sedang dibangun dan letaknya kurang lebih 20 meter dari pujasera itu.
“Kan kami sangat berterimakasih telah dibangunkan pujasera ini. Untuk itu kami iuran untuk pembangunan musala dan toilet. Karena untuk menunjang fasilitas pujasera. Dan seluruh PKL ikhlas,” tuturnya.
Sementara itu, Lukman juga mengungkapkan bahwa biaya sewa atau retribusi di pujasera tersebut juga terbilang murah. Satu PKL musti membayar Rp 3 ribu per hari sebagai retribusi usaha jasa ke Dishub Kabupaten Malang.
“Dan dengan kios seperti ini juga terbilang murah. Karena kalau kami nyewa tempat di pinggir jalan di sekitar Pasar Tumpang itu satu bulannya Rp 300 ribu. Kalau di sini cuma Rp 3 ribu dan kalau dihitung sebulan ya Rp 90 ribu,” kata sosok yang berdagang buah-buahan selama 23 tahun itu.
Dengan biaya yang cukup murah dan Pujasera yang ditata rapi itu, Lukman mengaku penghasilan dari PKL di Terminal Wisata Pasar Tumpang juga ikut meningkat. Lukman menargetkan penambahan penghasilan itu adalah sekitar 10 persen.
“Kios saya ini masih berjalan satu minggu. Tapi saya yakin nanti meningkat 10 persen lah. Karena dengan adanya kios ini nanti saya juga akan berinovasi dengan menjual jus buah selain jualan buah. Saya satu bulan biasanya bisa mendapatkan pendapatan kotor Rp 15 juta. Kalau ada kios ini ya meningkat jadi Rp 16,5 juta,” tutupnya.










Balas
Lihat komentar