Benarkah Cuaca Dingin Belakangan Akibat Fenomena Aphelion? Ini Kata BMKG

Ilustrasi: cuaca dingin di kawasan Dieng, Jawa Tengah (facebook: @kawasandatarantinggidieng)
Ilustrasi: cuaca dingin di kawasan Dieng, Jawa Tengah (facebook: @kawasandatarantinggidieng)

Beberapa pakar meyakini bahwa aphelion mungkin berkontribusi pada suhu yang lebih dingin di Indonesia selama bulan-bulan musim panas.

Hal ini disebabkan karena jet stream lebih kuat yang dipicu fenomena aphelion. Sehingga udara dingin dari Kutub Utara kemungkinan bisa terbawa sampai ke Indonesia.

Namun sekali lagi, penting untuk dicatat bahwa hal tersebut masih merupakan teori. Sehingga pada akhirnya, pengaruh aphelion terhadap cuaca di Indonesia masih menjadi perdebatan.

Penjelasan BMKG

BMKG melalui laman twitter @InfoHumasBMKG menjelaskan. Kondisi cuaca dingin yang terjadi di wilayah Indonesia pada periode bulan Juli tidak terkait dengan fenomena Aphelion.

Fenomena suhu dingin ini sebenarnya sudah umum terjadi. Terutama pada bulan-bulan puncak musim kemarau, Juli sampai September.

Seperti diketahui, saat ini wilayah Pulau Jawa hingga NTT berada pada musim kemarau.

Periode ini ditandai pergerakan angin dari arah timur-tenggara yang berasal dari Benua Australia.

Pada bulan Juli, wilayah Australia berada dalam periode musim dingin. Pola tekanan udara relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara ke Indonesia. Ini lebih dikenal dengan istilah Monsoon Dingin Australia.

Monsoon yang bertiup menuju wilayah Indonesia melewati Samudera Indonesia. Di mana permukaan laut Samudera Indonesia juga relatif lebih dingin.

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com