MALANG – Tingginya tingkat pernikahan dini di wilayah kerja Puskesmas Arjowinangun menjadi masalah tersendiri. Pasalnya, para remaja itu terkadang hamil lebih dulu tanpa memperhatikan apakah mereka masuk kategori KEK (Kekurangan Energi Kronis) atau tidak.
Jika KEK, ibu hamil akan berpotensi melahirkan bayi stunting. Upaya ini disiasati Puskesmas Arjowinangun dengan rajin memberi tablet tambah darah kepada remaja.
“Kita rajin bagikan tiap Jumat. Biasa ke sekolah-sekolah kita bagi ke para remaja itu,” papar Mahmud Afandi, Nutrisionist Puskesmas Arjowinangun, Sabtu (5/9).
Ketika pandemi, sekitar 390 kader Puskesmas Arjowinangun siap mengambil alih membagikan tablet tambah darah itu kepada remaja. Para kader juga punya tugas menghitung berat badan dan tinggi badan bayi secara door to door. Selain itu, UPT (Unit Pelaksana Teknis) dibawah naungan Dinas Kesehatan Kota Malang itu juga rutin membagikan Vitamin A.
“Semua SMA dan SMK di wilayah kita kira-kira ada 15, itu kita drop disana, kita bagikan. Kalau sebelum pandemi biasanya guru yang bagikan ke siswa,” tambahnya.
Hal ini dilakukan demi menurunkan angka stunting di kawasan kerja Puskesmas. “Jadi rutin kota tiap Jumat. Kita harap dengan ini angka stunting bisa terdorong makin berkurang,” tandas Mahmud.




