Bukber di Surabaya, Shinta Nuriah Gus Dur Tempa Moral Anak Bangsa

Hajjah Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, istri mendiang Gus Dur saat bukber di Gedung Menara Sains, Kampus ITS, Sabtu (8/4/2023). (dok. ITS)
Hajjah Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, istri mendiang Gus Dur saat bukber di Gedung Menara Sains, Kampus ITS, Sabtu (8/4/2023). (dok. ITS)

Surabaya, blok-a.com – Hajjah Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, istri mendiang Gus Dur, menyapa anak-anak binaan Sekolah Rakyat Kejawan, anak yatim dan janda atau duda di Surabaya, Sabtu (8/4/2023).

Mengambil tema ‘dengan berpuasa kita tempakan kembali ketaqwaan, kemanusiaan, moral dan persatuan ke dalam jiwa anak bangsa,’ bukber digelar di Gedung Menara Sains, Kampus ITS.

Selain anak yatim, janda/duda serta murid-murid binaan Sekolah Rakyat Kejawan, acara juga dihadiri oleh para perwakilan dari lintas agama, aktivis penggerak kebhinnekaan, mahasiswa dari beragam wilayah dan suku bangsa, alumni perguruan tinggi serta perwakilan berbagai elemen pendukung.

Begitu Bu Shinta memasuki acara, lantunan selawat dan syair Yalal Wathon dikumandangkan oleh UKN Cinta Rebana ITS.

Diawali lagu Indonesia Raya, acara diisi pembacaan ayat suci Alquran oleh Azka Mazaya dan sari tilawah oleh Muhammad Abdurrahman Daafiq (murid SRK).

Prof. Muhammad Ashari (Rektor ITS), menyambut hangat dan gembira atas kehadiran Ibu Negara Ri ke-4 di ITS.

Ashari menceritakan kembali bahwa ITS pernah memberikan penghargaan kepada KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang telah berkontribusi memajukan derajat kehidupan dan peradaban melalui pengembangan sains, teknologi, dan inovasi untuk kemaslahatan manusia.

Penghargaan yang diberikan saat Dies natalis ITS ke 61, itu diterima dan diwakili oleh Anita Hayatunnufus Wahid (putri ketiga Gus Dur).

Pada kesempatan itu Rektor ITS juga mengenalkan jajaran wakil rektor, serta memberikan apresiai tinggi pada Angkatan 93 ITS yang telah mengawali kontribusi pada ITS dan bangsa melalui komunitas mantan mahasiswa ITS angkatan 1993.

Doktor Ikhsan, Sekda Kota Surabaya mewakili Wali Kota Surabaya, mengatakan Pemkot juga telah menjalankan ajaran Gus Dur, yakni mengamalkan kebhinnekaan, membangun Rumah Pancasila, menjaga dan menguatkan keberagaman sebagai daya dukung persatuan.

Surabaya adalah miniatur Indonesia yang Pancasila dan Bhinneka. Kita kuatkan lagi, toleransi beragama. Kami senang sekali Ibu Shinta sebagai icon kebhinnekan dan kemanusiaan telah hadir menguatkannya. Terima kasih atas kerjasama semuanya” pungkas Ikhsan.

Bu Shinta didampingi Nia Syarifudin (ANBTI) Rektor ITS,dan Sekda Kota Surabaya, menyampaikan rasa terima kasihn kepada semua pihak yang selama tidak kenal lelah mendukung dan menjalankan ajaran yang dirintis selama 23 tahun.

Dia menceritakan acara yang telah ia rintis bersama Gus Dur adalah lebih kepada sahur bersama kaum dhuafa, kaum marjinal se-Indonesia.

Mengapa sahur bersama karena saat sahur biasanya sepi dari penyelenggaraan dan dirasa lebih tepat mendukung yang akan berpuasa.

“Kegiatan saya adalah sahur bersama , bukan buka Bersama. Mengapa? Karena antara buka bersama dengan sahur jauh bedanya. Memang, memberi yang buka akan melipatgandakan pahalanya. Namun dalam pelaksanaannya sudah banyak yang keluar dari maknanya. Buka adalah membatalkan puasa, banyak orang yang menyelenggarakan (menyebarkan) buka bersama, bahkan berlomba-lomba, dari surau, masjid besar, masjid kecil, hotel-hotel dan sebagainya. Yang menyelenggarakan kadang-kadang tidak puasa,” ujarnya.

Dialog juga dilakukan murid SRK, anak yatim dan janda/duda dengan Bu Shinfa.

Bu Shinta dengan bangga menyapa peserta dari berbagai suku ini baik dadi, Madura, Batak, Sunda, Jawa, NTT, Maluku, Papua, dan Bugis.

Salah satu peserta Rifdah Azizah Salsabila (mahasiswa ITS, pendamping SRK) mengapa selama 78 tahun banyak masyarakat masih kurang menghargai dan menerima perbedaan.

Menjelang magrib, acara ditutup dengan doa yang disampaikan oleh KH Miftahul Luthfi Muhammad al Mutawakkil (Gus Luthfi), pengasuh Pondok Pesantren Ali BaSyah Tambak bening Surabaya.

Di acara ini disisipkan pembagian sembako dan santunan dari Baznas RI, Angkatan 93 ITS, Perbanas dan AGP) kepada para anak Yatim(Ganendra dan Diva) serta Janda (MbokTijah, Bu Sulastri, Bu Siswanto).

Sita Pramesthi (pengelola Sekolah Rakyat Kejawan) sangat gembira dengan kehadiran Ibu Shinta.

Dia berharap kedatangan Bu Shinta memberikan support anak-anak SRK masyarakat dalam jangkauan SRK untuk memahami tentang kebhinnekaan, saling menghormati dan menghargai perbedaan.

“Ini penyemangat kami dari Sekolah Rakyat Kejawan sebagai bagian dari ikon Pancasila, menjadi tempat berkomunitas, wahana pembelajaran tidak saja akdemis, tapi juga pembelajaran perilaku sosial,” pungkas Sita Angkatan 93 ITS dari jurusan Matematika.

Acara ini adalah kolaborasi antara Yayasan Puan Amal Hayati Bersama Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI), Sekolah Rakyat Kejawan (SRK), BAZNAS RI, Ditjen Kebudayaan RI, Direktorat Kemahasiswaan ITS, Komunitas Alumni Perguruan Tinggi (KAPT), Alumni Sanmar Surabaya, Angkatan 93 ITS, PERBANAS, Arha Graha Peduli (AGP) dan Great Diponegoro (GD) hotel didukung Relawan dari Bidik Misi PENS (E-BIO) dan Hima Mekatronika PENS.(kim/lio)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?