Blitar, Blok-a.com – Kondisi pasar tradisional dan pusat kuliner di Kota Blitar yang semakin lengang mendapat perhatian serius dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).
Sekretaris Komisi 2 DPRD Kota Blitar, Nuhan Eko Wahyudi, menyatakan keprihatinannya melihat tren penurunan omset yang drastis. Bahkan, ada yang menyebut kondisi beberapa pasar seperti “mati suri”.
Dalam pantauannya, Nuhan menyoroti sembilan pasar utama yang menjadi tumpuan ekonomi warga. Di antaranya Pasar Legi, Pasar Pon, Pasar Wage, Pasar Pahing, Pasar Dimoro, Pasar Templek, Pasar Sepeda, Pasar Loak, hingga Pusat Kuliner.
“Hasil pantauan kami, sembilan pasar ini mengalami tren penurunan pengunjung yang mengkhawatirkan. Disperindag tidak boleh ‘tidur’. Harus ada langkah luar biasa, bukan sekadar pemeliharaan rutin. Jika pola pengelolaannya masih menggunakan cara lama, pasar-pasar kita akan habis tergilas zaman,” kata Nuhan Eko Wahyudi, Sabtu (2/5/2026).
Nuhan menegaskan, sepinya pasar tidak bisa terus-menerus dikambinghitamkan pada faktor belanja daring atau online shop.
“Menurut saya, ada masalah mendasar pada manajemen dan kurangnya inovasi dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Blitar,” tegasnya.
Kondisi yang paling memprihatinkan saat ini dirasakan di Pasar Legi yang disebut aktivitas ekonominya sudah sangat lesu.
“Banyak keluhan pedagang, omset turun drastis. Terutama di Pasar Legi itu bahkan seperti pasar yang mati. Kita tidak bisa terus menyalahkan online shopping, ini soal manajemen dan inovasi,” ujarnya.
Politisi PPP ini, juga menyoroti potensi besar yang belum digarap maksimal, terutama pada pasar-pasar tematik seperti Pasar Sepeda, Pasar Loak, dan Pusat Kuliner. Seharusnya, tempat-tempat ini memiliki segmentasi pasar tersendiri dan bisa menjadi objek wisata.
“Pasar Sepeda dan Pasar Loak itu punya segmentasi hobi, harusnya bisa dibuatkan festival atau bursa rutin agar orang luar daerah mau datang ke Blitar. Begitu juga dengan Pusat Kuliner, fasilitas sudah ada tapi kalau minim promosi dan kreativitas, ya akan tetap sepi,” jelasnya.
Merespons kondisi ini, Komisi 2 mendesak adanya revitalisasi konsep pengelolaan pasar yang mencakup tiga hal utama:
- Digitalisasi Pasar: Membantu pedagang masuk ke ekosistem digital.
- Perbaikan Kenyamanan: Menjamin kebersihan dan tata ruang agar tak kalah saing dengan ritel modern.
- Aktivasi Event: Mengadakan agenda rutin untuk memancing keramaian.
Nuhan menandaskan, jika pihaknya akan segera memanggil Disperindag untuk meminta penjelasan dan meminta roadmap yang jelas, bukan sekadar wacana.
“Kami juga akan turun langsung melakukan sidak ke lapangan. Kasihan pedagang kalau kita hanya diam. Retribusi ditarik, tapi keramaian pasar tidak diciptakan,” pungkas Nuhan Eko Wahyudi. (jar/ova)










Balas
Lihat komentar