KABUPATEN MALANG – Sebanyak 50 hektar tanaman cabai di Kecamatan Poncokusumo dibiarkan membusuk. Tidak dipanen dan tidak juga dijual ke pasar. Para petani kecewa, karena biaya produksi tinggi dan harga ke pengepul tinggi.
Menanggapi masalah ini, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang, Dr Budiar Anwar, MM mengaku fenomena tersebut adalah hal wajar.
Sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia, harga jual cabai dari petani kepada pengepul menurun. Sebabnya adalah permintaan konsumen lebih sedikit.
“Karena kan warung-warung banyak yang tutup. Jadi cabai ini permintaannya sedikit dan maka dari itu harga jual juga dipatok lebih murah dan harga jual itu lebih rendah dari biaya produksi. Hasilnya, ya banyak yang tidak dipanen,” kata Budiar ke Blok-A Selasa (8/9).
Budiar juga menjelaskan, sebenarnya telah disiapkan sejumlah pasar sayur yang bisa langsung menampung hasil panen itu tanpa ada perantara pengepul.
“Jadi langsung ke pasar bisa. Seperti pasar Mantung di Pujon, dan juga pasar sayur di Karangploso. Tapi tetap saja petani enggan ke sana karena ya biaya ke sana kan mahal, transportasinya. Jadi banyak yang enggan mengirim juga,” kata ia.
Budiar pun memberikan solusi beralih ke komoditas tanam, yakni sawi putih. Sawi putih disarankan karena diprediksi masih banyak permintaan internasional ataupun nasional.
“Itu bisa diganti sawi putih. Karena ada pasarnya. Kan seperti Korea Selatan bikin kimchi. Pasti ada pasarnya. Itu saran kami,” tutupnya.










Balas
Lihat komentar