Benjamin dan Sanna Hampir 2 Tahun Keliling Dunia Pakai Sepeda, Suarakan Jeritan Rakyat Sahara Barat

Benjamin dan Sanna bersama sepeda angin yang mereka gunakan keliling dunia.

Surabaya, blok-a.com – Dua aktivis hak asasi manusia (HAM), Benjamin Landra dan Sanna, keliling dunia dengan mengendarai sepeda angin, guna menolak penjajahan Maroko atas Sahara Barat.

Sahara Barat negara kecil di benua Afrika ini, dijajah sejak 1975. Namun hingga kini negara berbendera mirip Palestina dengan gambar bulan sabit dan tiga bintang di tengah ini tak berdaya akan aksi kekerasan dari penjajah Maroko.

Dari situlah aktivis Ham asal Swedia ini, nekat keliling dunia. Menyuarakan perjuangan Sahara Barat, melawan penjajah Maroko.

Tidak ada satu pun negara yang membela. Bahkan PBB juga tidak ada suara menolak penjajahan itu.

Benjamin dan Sanna memilih perjuangan ekstrem. Warga Negara Swedia itu memutuskan bersepeda keliling dunia memakai sepeda pancal.

Dari 30 negara yang didatangi selama 1,8 tahun keliling dunia ini, Benjamin dan Sanna menyuarakan nasib warga Sahara yang rentan menjadi korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM) akibat dijajah Maroko.

Benjamin dan Sanna bersama sepeda angin yang mereka gunakan keliling dunia.

Benjamin dan Sanna sudah menempuh perjalanan cukup jauh. Dia memulai aksinya tahun 2022 silam.

Hingga saat ini, sudah ada 18 negara yang dia datangi. Salah satunya Indonesia.

“Negara yang sudah kami datangi adalah Jepang, Korea, Denmark, Taiwan, Sweden. Lalu, Germany, Austria, Slovakia, Slovenia, Bosnia, Albania, MontenegroNorth Macedonia, Malaysia, Greece dan Turkey,” ujar Benjamin, Selasa (21/11).

Berawal dari komunikasi sesama aktivis Ham asal Jombang, Isma Hakim Rahmat, yang juga pengurus PWI Jatim, Benjamin, berbicara banyak soal Sahara Barat.

Isma terperanjat karena baru dengar ada penjajahan di muka bumi ini oleh negara selain Israel, dan invasi Rusia.

Kata dia, masyarakat tak dapat melakukan protes atas pejajahan tersebut. Sebab, jika kedapatan melakukan aksi demo, maka akan ditangkap, disiksa dan ditahan oleh polisi dan militer.

“Masyarakat Sahara di bawah pendudukan Maroko dan diasingkan dari tanah airnya sendiri selama hampir 50 tahun,” ujarnya.

Benjamin menceritakan selama 50 tahun warga Sahara hidup dalam pengungsian.

Tinggal di dalam tenda pengungsian di gunung pasir Aljazair. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya hanya bergantung kepada bantuan kemanusiaan.

“Kondisi yang terjadi di Sahara hampir tidak ada yang tahu. Karena Maroko memang melarang jurnalis atau penggerak organisasi HAM masuk ke wilayah yang diduduki tersebut,” bebernya.

Benjamin berharap, aksi yang dilakukan itu dapat merubah nasib yang dialami warga Sahara tersebut. Negara yang pernah didatanginya diharapkan akan dapat mendorong agar Sahara bebas dari penjajahan.

“Setidaknya presiden atau pimpinan kepala negara di berbagai dunia dapat mendorong kemerdekaan warga Sahara. Melalui diplomasi atau aksi lain untuk mencapai cita-cita tersebut,” pungkasnya.

Ditemui Isma HR, di Hotel Bumi Surabaya, ini Benjamin menunjukkan bahwa dirinya juga mempersiapkan keselamatan diri saat menyuarakan Ham ini.

“Saya berhati-hati, di daerah sana. Dan jika di luar daerah Maroko seperti Indonesia saya kira aman,” tukasnya lagi.

Benjamin dan Sanna akan keliling beberapa kota di Indonesia, termasuk di Jawa Timur.

Sebelumnya dia akan ke Universitas Airlangga, di Fakultas Ilmu Sosial Politik dan memaparkan kondisi di Sahara Barat.

Selanjutnya, dia akan ke sejumlah Universitas Islam seperti UIN, menemui pengurus PWI Jatim, Mojokerto, dan Sanggar seni Topeng Jati Duwur.

“Kita akan sambut aktivis teman kita sesama aktivis HAM asal Swedia ini dengan tarian Topeng Universal milik desa wisata kami di Jati Duwur , Kesamben, Jombang,” ujar Cakisma, pengurus PWI Jatim, menimpali.(kim)