Kabupaten Malang, blok-a.com – Arema FC harus menelan kekalahan kandang 1-3 saat menjamu Bali United dalam lanjutan pekan ke-8 BRI Super League pada Sabtu (31/10/2026) di Stadion Kanjuruhan. Dua kartu merah mewarnai jalannya pertandingan yang disaksikan sekitar 2.652 suporter dari kedua tim.
Pertandingan sempat berjalan seimbang pada 40 menit pertama. Kedua tim saling menciptakan peluang, tetapi Arema belum mampu mengonversinya menjadi gol.
Bali United membuka keunggulan pada menit ke-41 melalui Marco Dugandzic. Ia memanfaatkan umpan cut back Remco Balk yang sempat tersentuh Irfan Jaya. Syahrul Tisna gagal mengamankan tendangan yang mengarah ke gawangnya.
Menjelang turun minum, Irfan Jaya menggandakan keunggulan Bali United pada menit ke-45. Skor 0-2 pun bertahan hingga jeda.
Memasuki babak kedua, Arema melakukan dua pergantian pemain. Gustavo Franca masuk menggantikan Samuel Otusanya, dan Johan Ahmad Al Farisi menggantikan Leo Hudntara.
Singo Edan berusaha memperkecil ketertinggalan melalui sejumlah peluang. Di antaranya tendangan Achmad Maulana, Marcos Vinicius, John Alfarisi, dan Betinho.
Namun, Bali United justru memperlebar keunggulan pada menit ke-67 melalui Teppei Yachida. Skor berubah menjadi 0-3.
Situasi Arema semakin sulit setelah Dewangga menerima kartu merah pada menit ke-74. Namun, Arema akhirnya memperkecil ketertinggalan pada menit ke-79, setelah memanfaatkan blunder pemain belakang Bali United.
Di penghujung laga, Julian Guevara juga mendapat kartu merah setelah menekel Teppei Yachida dari belakang.
Andre menilai Arema sebenarnya mampu mengimbangi permainan lawan sebelum gol pertama tercipta. Namun, dua gol dalam rentang waktu singkat membuat mentalitas pemainnya menurun.
“Setelah gol pertama, saya pikir mental kami langsung jatuh begitu drastis. Para pemain tidak bisa mempercayainya. Kemudian gol kedua terjadi menjelang akhir babak pertama,” lanjut Andre.
Andre mengakui kartu merah menjadi masalah besar bagi timnya. Ia menilai kehilangan pemain saat masih memiliki waktu untuk mengejar ketertinggalan membuat perjuangan Arema semakin berat.
“Kehilangan satu pemain ketika masih ada waktu sekitar 25 menit untuk bermain adalah hal yang sangat buruk,” tambahnya.
Andre menginstruksikan para pemainnya berjuang hingga pertandingan berakhir, terlepas dari besarnya selisih gol.
“Saya tidak peduli jika kami kalah empat atau lima gol. Saya ingin tim terus mendesak, mencoba mencetak gol lagi, dan berjuang untuk setiap bola. Di saat terburuk sekalipun, Anda harus terus melangkah,” tegasnya.
Ia menyebut kekalahan tersebut menjadi pelajaran bagi Arema. Terutama terkait mentalitas saat menghadapi situasi sulit dan kedisiplinan pemain.
“Jika Anda ingin bertarung secara adil dalam pertandingan, jumlah pemain harus seimbang. Anda tidak bisa bermain dengan sembilan atau sepuluh pemain. Itu momen buruk bagi kami dan harus menjadi pelajaran agar tidak pernah terjadi lagi,” pungkas Andre. (yog)









