Arema FC Pertimbangkan Tak Pakai Stadion Kanjuruhan Usai Insiden Pelemparan Bus Persik

Stadion Kanjuruhan tampak depan usai dilakukan renovasi (blok-a.com/ Putu Ayu Pratama S)
Stadion Kanjuruhan tampak depan usai dilakukan renovasi (blok-a.com/ Putu Ayu Pratama S)

Malang, blok-a.com – General Manager (GM) Arema FC, Yusrinal Fitriandi, menyampaikan kekecewaan mendalam atas insiden pelemparan bus tim Persik Kediri usai pertandingan Liga 1 2024/2025 di Stadion Kanjuruhan, Minggu (11/5/2025).

Yusrinal menyoroti berbagai aspek penyelenggaraan pertandingan, termasuk mempertimbangkan untuk tidak bermain di Stadion Kanjuruhan dalam waktu dekat.

“Kita kecewa dengan beberapa stakeholders pertandingan kemarin,” ujar Yusrinal melalui pernyataan resmi klub dilansir dari website resmi Arema FC.

Tiga tahun terakhir, kata Yusrinal, Arema FC sudah berusaha keras bertahan di tengah keterbatasan. Klub disebutnya berdarah-darah demi bisa pulang ke rumah sendiri, namun justru merasa tidak dihormati di tempatnya sendiri.

“Tiga tahun kami berusaha mempertahankan eksistensi klub. Bersungguh-sungguh untuk kembali ke rumah sendiri. Sementara itu banyak pihak tiada henti mencaci maki klub, yang disatu sisi klub berusaha bertahan dan tabah menghadapi padahal klub mengalami masa sulit dengan keterbatasan dana, karena tidak ada pemasukan lantaran harus terusir, rasanya hanya cukup sisa tenaga, semangat dan niat tulus mempertahankan klub ini. Kami terasa sudah berdarah darah, sekuat daya dan upaya kami lakukan, namun hasilnya seakan-akan kita tidak dihormati di sini.” tegasnya.

Yusrinal juga menyinggung soal suporter yang selama tiga tahun tidak bisa memberi dukungan langsung. Begitu klub kembali ke Malang, kata dia, yang muncul justru tuntutan kesempurnaan yang berlebihan.

“Kami mengingatkan suporter itu pendukung, tiga tahun mereka tidak dapat memberi dukungan ke Arema FC, begitu kita pulang, alih-alih dukungan yang didapat tapi justru tuntutan kesempurnaan yang berlebihan harus dituruti.” imbuhnya.

Pihak keamanan juga tidak luput dari sorotan. Yusrinal menyinggung soal standar pengamanan Arema FC selama di Stadion Kanjuruhan.

“Pihak keamanan mohon lakukan evaluasi, tuntutan kesempurnaan dari sisi mereka yang akhirnya semua dibebankan ke Arema FC. Laga kemarin itu level renpam high risk match, dan Arema FC sudah penuhi semuanya. Kami prihatin kejadian pelemparan bus Persik terjadi di area zona 4 diluar area stadion yang menjadi konsen pihak keamanan.” ungkapnya.

Yusrinal menjelaskan bahwa dari sisi produksi pertandingan, manajemen sudah melakukan banyak peningkatan sesuai regulasi dan rencana pengamanan. Bahkan untuk dua laga terakhir, termasuk Charity Games dan lawan Persik, dana yang dikeluarkan mencapai lebih dari Rp1 miliar.

“Dari sisi produksi semua upgrading kita lakukan mulai ring 1, ring 2, sampai ring 4 sesuai regulasi dan kebutuhan renpam. Kami memahami semua harus dilakukan untuk kepentingan dan keamanan jalannya pertandingan, kami memahami ini ‘Stadion Kanjuruhan’.” kata Yusrinal.

Manajemen Arema FC, lanjutnya, merasa kerap dijadikan pihak yang paling disalahkan atas segala insiden. Termasuk dalam kasus pelemparan bus Persik.

“Manajemen selalu jadi bahan cercaan, seolah pelaku utamanya pelemparan bus, entah itu oknum atau seseorang atau kelompok yang merasa bahwa perilakunya tidak salah. Sekali lagi kejadiannya terjadi di area zona 4 diluar kawasan stadion dan jauh dari kewenangan Panpel. Semestinya bisa diantisipasi,” tutur Yusrinal.

Yusrinal mendesak pihak kepolisian untuk menangkap pelaku pelemparan bus dan mengungkap motifnya.

“Polisi harus tangkap dan ungkap pelaku dan motif pelemparan bus Persik Kediri. Jika pelaku kecewa dengan terkait penyelenggaraan atau kecewa karena Arema FC kalah, kenapa tidak dilimpahkan ke kami?” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Yusrinal menyerukan agar semua pihak melakukan introspeksi dan perubahan bersama. Manajemen disebutnya sudah terbuka terhadap masukan dan forum komunikasi.

“Semua harus berubah, manajemen sudah selalu jalankan semua arahan dan masukan. Berbagai forum komunikasi pun sudah kami lakukan antar stakeholder. Ayo berpakta integritas, jangan semuanya salah manajemen, intropeksilah.” tegasnya.

Karena itulah, lanjut Yusrinal, Arema FC mempertimbangkan masa depan Singo Edan di sisa kompetisi Liga 1 musim ini, termasuk kemungkinan tidak bermain di kandang sendiri. (bob)

 

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com