Apa Itu Global Sumud Flotilla? Armada Kapal Sipil yang Berani Tantang Blokade Israel di Gaza

Armada kapal-kapal kemanusiaan dalam gerakan Global Sumud Flotilla (foto: @fazrulazreen/threads)
Armada kapal-kapal kemanusiaan dalam gerakan Global Sumud Flotilla (foto: @fazrulazreen/threads)

Blok-a.com – Puluhan kapal dari berbagai negara berlayar menuju Gaza dengan misi menembus blokade laut Israel yang sudah berlangsung lebih dari 17 tahun. Gerakan ini dikenal dengan nama Global Sumud Flotilla. Selain mengangkut bantuan kemanusiaan, armada kapal-kapal tersebut juga membawa pesan moral dan politik. Mencoba mengingatkan kepada dunia untuk tidak mengabaikan penderitaan warga di Gaza.

Apa Itu Global Sumud Flotilla?

Global Sumud Flotilla (GSF) adalah armada kapal sipil internasional yang dibentuk untuk menembus blokade laut Israel terhadap Gaza. Kata sumud dalam bahasa Arab berarti “keteguhan” atau “ketahanan”, yang merepresentasikan semangat rakyat Palestina untuk tetap bertahan meski berada dalam tekanan berkepanjangan. Kehadiran flotilla ini tidak hanya membawa bantuan kemanusiaan, tetapi juga membawa pesan politik dan moral bagi dunia bahwa penderitaan di Gaza tidak boleh diabaikan.

GSF mulai menjadi sorotan global pada pertengahan 2025, ketika puluhan kapal dari berbagai negara berlayar bersama menuju Gaza. Tidak hanya aktivis dan relawan kemanusiaan, sejumlah tokoh publik internasional juga bergabung. Armada ini disebut sebagai salah satu aksi solidaritas sipil terbesar yang pernah dilakukan untuk Palestina, menandai babak baru dalam upaya menantang blokade yang telah berlangsung lebih dari 17 tahun.

GSF lahir dari gabungan beberapa gerakan internasional, termasuk Freedom Flotilla Coalition, Global Movement to Gaza, Maghreb Sumud Flotilla, serta Sumud Nusantara yang mewakili Asia Tenggara. Organisasi-organisasi ini memiliki sejarah panjang dalam mendukung perjuangan Palestina melalui jalur damai. Bedanya, kali ini kolaborasi dilakukan lebih besar dan terstruktur, sehingga melahirkan sebuah armada dengan puluhan kapal dan ratusan relawan dari berbagai benua.

Peluncuran armada ini dilakukan dari berbagai pelabuhan Eropa dan Mediterania, termasuk Barcelona, Catania, dan Tunisia. Dari sinilah kapal-kapal berlayar dengan membawa bantuan kemanusiaan. Skala GSF yang besar membuatnya disebut sebagai “armada raksasa solidaritas dunia”. Dibanding flotilla sebelumnya, GSF jauh lebih ambisius karena mencoba menghadirkan tekanan moral internasional yang lebih luas terhadap Israel.

Perjalanan GSF Menjalankan Misi Kemanusiaan

Misi utama Global Sumud Flotilla adalah menantang blokade Israel yang dianggap ilegal dan melanggar hukum kemanusiaan internasional. Blokade tersebut telah menyebabkan warga Gaza kesulitan mendapatkan kebutuhan dasar, mulai dari makanan, obat-obatan, hingga listrik dan bahan bakar. Dengan membawa bantuan kemanusiaan, flotilla ini berusaha menjadi jalur alternatif yang menghubungkan Gaza dengan dunia luar.

Selain itu, GSF juga memiliki misi politis berupa kampanye kesadaran global. Kehadiran tokoh-tokoh internasional dan media di dalam kapal diharapkan mampu menyoroti blokade Gaza di mata dunia. Melalui aksi damai ini, mereka ingin menegaskan bahwa perjuangan rakyat Palestina bukan hanya isu regional, tetapi juga isu kemanusiaan yang menyangkut seluruh umat manusia.

Armada Global Sumud Flotilla (GSF) bertolak dari Spanyol bulan lalu dengan misi mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza, wilayah yang kini tengah menghadapi kelaparan parah dan krisis akibat konflik berkepanjangan.

Mendapatkan Intervensi Israel

Setelah meninggalkan Spanyol, kapal-kapal GSF sempat singgah di Tunisia selama sepuluh hari. Namun, keberadaan mereka di sana menjadi sasaran serangan drone. Usai dari Tunisia, rombongan kembali melanjutkan pelayaran pada 15 September, sebagaimana dilaporkan AFP.

GSF juga melaporkan adanya serangan di lepas pantai Pulau Kreta, Yunani, ketika sebuah pesawat tanpa awak menjatuhkan bahan peledak ke arah kapal mereka. Insiden lain terjadi pada Rabu (1/10/2025), saat armada mendekati perairan Mesir. Menurut keterangan resmi GSF, kapal utama mereka, Alma dan Sirius, sempat dikepung serta diganggu oleh kapal perang Israel dalam sejumlah insiden terpisah.

Armada marinir Israel mencoba mengintervensi kapal flotilla (foto: nbc)
Armada marinir Israel mencoba mengintervensi kapal flotilla (foto: nbc)

“Pada dini hari tadi, pasukan angkatan laut pendudukan Israel melancarkan operasi intimidasi terhadap GSF,” ungkap penyelenggara GSF.

Kapal Alma dilaporkan sempat terkepung beberapa menit sebelum akhirnya kapal Israel meninggalkan lokasi, sementara kapal Sirius juga mengalami gangguan manuver serupa.

Anggota parlemen Prancis, Marie Mesmeur, yang berada di atas kapal Sirius, membenarkan adanya intimidasi. Ia menyebut melihat setidaknya dua kapal tak dikenal, salah satunya mendekat hingga jarak yang berbahaya.

“Kami melihat setidaknya dua kapal tak dikenal, salah satunya sangat dekat dengan kami. Ada juga kapal patroli militer yang menyinari kami dengan lampu besar,” ujarnya.

Menurutnya, kejadian itu semakin menyulitkan karena radar dan sambungan internet di kapal mendadak terputus.

Imbauan Menghentikan Aksi

Di sisi lain, Spanyol dan Italia sempat mengerahkan kapal angkatan laut untuk mengawal GSF. Namun, kedua negara tetap menegaskan agar armada tidak melanjutkan pelayaran menuju zona ekonomi eksklusif Israel sejauh 150 mil laut dari Gaza.

Menteri Transformasi Digital Spanyol, Oscar Lopez, bahkan menegaskan bahwa pengawalan dari pihaknya tidak akan melewati batas tersebut.

Italia pun menyampaikan sikap serupa, meminta para aktivis menghentikan misi mereka. Akan tetapi, para peserta flotilla menolak desakan itu. Mereka menilai keputusan Spanyol dan Italia justru merupakan bentuk pengkhianatan sekaligus upaya menyabotase perjuangan solidaritas kemanusiaan menuju Gaza.

Israel beralasan bahwa blokade laut terhadap Gaza merupakan langkah sah untuk mencegah masuknya senjata ke wilayah tersebut. Namun, aktivis GSF menegaskan bahwa tindakan itu melanggar hukum internasional, khususnya Konvensi Jenewa, karena menghalangi pasokan bantuan bagi penduduk sipil. Situasi inilah yang membuat Global Sumud Flotilla menjadi simbol perlawanan damai terhadap militerisasi jalur laut Gaza.

Para Peserta Gerakan GSF

GSF melibatkan lebih dari 40 kapal sipil dan sekitar 500 relawan dari berbagai negara. Uniknya, tidak hanya aktivis kemanusiaan yang bergabung, tetapi juga tokoh publik dunia. Greta Thunberg, aktivis lingkungan asal Swedia, menjadi salah satu peserta yang paling menyita perhatian media.

“Several vessels of the Hamas-Sumud flotilla have been safely stopped and their passengers are being transferred to an Israeli port, Greta and her friends are safe and healthy.” Tulis Kementerian Luar Negeri Israel di platform X

Selain itu, Mandla Mandela, cucu dari Nelson Mandela, turut menyampaikan pesan sebagai simbol solidaritas Afrika Selatan untuk Palestina.

“South Africans are beneficiaries of international solidarity. Those that rallied behind our cause and stood side by side in supporting the anti-apartheid movement ensured that we attained our freedom in our lifetime, this is why today we utilize our voice to support the oppressed and most vulnerable nations across the globe.” Ucap Mandela dikutip dari DemocracyNow.

Dari Asia Tenggara, gerakan Sumud Nusantara mengirim relawan dari beberapa negara Malaysia, Indonesia, Thailand, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, Filipina, Maldives, dan Bhutan.

Indonesia diwakili oleh delegasi dari Indonesian Global Peace Convoy (IGPC), dengan jumlah 26 orang terdiri dari relawan, aktivis, dan jurnalis.

Hingga akhir September 2025, beberapa kapal flotilla berhasil mendekati Gaza, meski sebagian lain dihentikan Israel. Beberapa relawan, termasuk tokoh publik, dilaporkan diamankan dan dibawa keluar dari wilayah blokade. Meski menghadapi intervensi keras, pihak penyelenggara menegaskan bahwa flotilla tidak akan berhenti. Mereka merencanakan keberangkatan lanjutan hingga misi kemanusiaan benar-benar bisa mencapai Gaza. (mg2)

Penulis Muhammad Naufal Abiyyu (mahasiswa magang UTM Bangkalan)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com