Jombang, blok-a.com – Ketua Organizing Committee (OC) Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, memastikan situasi di arena Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, tetap terkendali meski sempat terjadi protes dan aksi masuknya sejumlah orang ke area sidang pleno.
Gus Ipul mengatakan, panitia sempat mendapati beberapa orang masuk dari sisi kiri tenda tempat berlangsungnya sidang pleno. Bahkan, terdapat kerusakan pada perangkat pendingin udara (AC). Namun, situasi tersebut dapat segera diamankan sehingga tidak berlangsung lama.
“Yang pertama, apakah ada unsur kesengajaan atau memang kebetulan saja beberapa orang masuk dari sisi kiri tenda tempat sidang pleno. Yang kita pelajari, tiba-tiba ada orang masuk, sempat merusak AC. Tapi semuanya bisa diamankan oleh panitia. Hanya sekitar beberapa menit, setelah itu terkendali,” ujar Gus Ipul, Minggu malam (30/8/2026).
Menurutnya, peristiwa tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Ia menilai dinamika yang muncul selama Muktamar merupakan bagian dari proses demokrasi dan penyampaian aspirasi warga Nahdliyin.
Di sisi lain, Gus Ipul juga menyinggung adanya aksi penyampaian aspirasi di depan arena sidang. Ia mengaku dapat memahami aksi tersebut selama dilakukan sebagai bentuk penyampaian aspirasi.
“Di depan ada semacam unjuk rasa yang menurut saya sudah bisa saya maklumi. Kita pahami sebagai bagian untuk menyalurkan aspirasi. Itu sungguh-sungguh kita pahami, kita maklumi,” katanya.
Gus Ipul: NU Punya Cara Menyelesaikan Persoalan
Gus Ipul menegaskan, Nahdlatul Ulama memiliki tradisi panjang dalam menyelesaikan berbagai persoalan melalui musyawarah. Menurutnya, Muktamar NU telah digelar sebanyak 35 kali dan selama itu pula organisasi mampu menghasilkan keputusan yang disepakati bersama oleh para peserta.
“Kita semua yakin Nahdlatul Ulama punya cara untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ada di Muktamar ini. Sudah ke-35 kali kita bermuktamar dan selama 35 kali itu pula NU berhasil mengambil keputusan-keputusan yang telah disepakati bersama oleh peserta,” ujarnya.
Ia menambahkan, sejauh ini agenda Muktamar yang telah direncanakan dapat dilalui sesuai tahapan yang ditetapkan.
Gus Ipul juga mengapresiasi para ulama dan peserta Muktamar yang memilih menyelesaikan persoalan melalui musyawarah.
“Yang terjadi sedikit protes itu sudah bisa diselesaikan dan sudah dilakukan musyawarah bersama-sama para ulama, para kiai. Bahkan tadi hadir Rais Aam, Ketua Umum dan juga ada Gus Yusuf. Semua bermusyawarah dengan baik. Itulah NU,” tegasnya.
Di tengah dinamika tersebut, proses penting dalam Muktamar ke-35 NU tetap berjalan, yakni tabulasi suara untuk menentukan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Gus Ipul menyebut proses tabulasi saat itu telah mencapai sekitar 90 persen. Setelah seluruh penghitungan selesai, akan diketahui sembilan nama dengan perolehan suara terbanyak yang kemudian ditetapkan sebagai anggota AHWA.
“Ini tabulasi untuk menetapkan AHWA dan sudah berproses 90 persen. Sebentar lagi selesai. Kita akan ketahui sembilan nama yang akan ditetapkan sebagai anggota AHWA,” jelasnya.
Sembilan anggota AHWA tersebut selanjutnya akan bersidang untuk menentukan Rais Aam PBNU masa khidmat 2026–2031. Menurut Gus Ipul, setelah Rais Aam terpilih, barulah tahapan pemilihan Ketua Umum PBNU dapat dilaksanakan.
“Setelah itu anggota AHWA akan bersidang untuk memilih Rais Aam, kemudian akan dilanjutkan dengan sidang pemilihan Ketua Umum,” katanya.
Tahapan tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam proses pemilihan kepemimpinan NU. Dalam perkembangan selanjutnya, Sidang Pleno Muktamar ke-35 NU menetapkan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU melalui AHWA setelah opsi perubahan mekanisme memperoleh 401 suara, sementara 150 peserta memilih mempertahankan mekanisme one man one vote dan satu suara dinyatakan tidak sah.
Gus Ipul menjelaskan, anggota AHWA memiliki kewenangan dalam menentukan Rais Aam. Nama yang dipilih tidak harus berasal dari sembilan anggota AHWA.
“Rais Aam bergantung anggota AHWA. Bisa memilih di antara sembilan nama itu, bisa di luar dari sembilan nama,” ujarnya.
Dengan demikian, sembilan anggota AHWA berperan sebagai forum yang memiliki mandat untuk bermusyawarah dan menentukan Rais Aam terpilih.
Setelah Rais Aam ditetapkan, proses pemilihan Ketua Umum PBNU baru dapat dilanjutkan sesuai mekanisme dan tata tertib yang telah disepakati dalam Muktamar.
Peserta Dipersiapkan untuk Tahapan Pemilihan
Gus Ipul juga menjelaskan bahwa peserta yang memiliki hak suara akan menjalani proses penataan kembali sebelum masuk ke tahapan pemilihan. Menurutnya, arena Muktamar memiliki pembagian ruang untuk membedakan sidang pleno besar dengan sidang khusus peserta yang memiliki hak suara.
“Peserta Muktamar yang memiliki hak suara bisa memilih satu hingga lima nama. Tempat sidang pleno ini ada dua, yang depan untuk sidang pleno besar, yang belakang untuk sidang pleno khusus pemilik suara,” jelasnya.
Penataan ruang tersebut dilakukan untuk menjaga ketertiban ketika proses pemilihan berlangsung.
“Kalau mau pemilihan, kita seleksi lagi ke ruang lain sehingga lebih tertib,” tambahnya.
Muktamar Dijadwalkan Berlanjut hingga Penutupan
Gus Ipul memastikan seluruh tahapan Muktamar terus berjalan sesuai agenda yang telah ditetapkan.
Ia berharap proses penentuan AHWA, pemilihan Rais Aam, hingga pemilihan Ketua Umum PBNU dapat berlangsung lancar tanpa gangguan berarti.
“Ini adalah jadwal yang sudah ditetapkan dan sudah berlangsung dengan baik. Insyaallah besok kalau tidak ada halangan Muktamar akan ditutup langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto pada pukul 09.00 WIB,” ujarnya.
Gus Ipul juga mengimbau para peserta, santri, dan jamaah yang hendak mengikuti rangkaian penutupan agar datang lebih awal demi menjaga ketertiban.
Ia menegaskan, dinamika dan perbedaan pendapat yang muncul selama Muktamar tidak semestinya mengganggu tujuan utama forum, yakni menghasilkan keputusan terbaik bagi masa depan Nahdlatul Ulama.
Bagi Gus Ipul, perbedaan merupakan bagian dari proses musyawarah. Namun, seluruh pihak tetap harus menjaga ketenangan, menghormati para ulama, serta mengedepankan kepentingan organisasi di atas kepentingan kelompok.
Dengan semangat tersebut, seluruh rangkaian Muktamar ke-35 NU diharapkan dapat dituntaskan dengan tertib dan menghasilkan kepemimpinan yang mampu membawa NU semakin kuat, rukun, dan memberikan kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan negara.(Sya)










Balas