6 Fakta Kasus Mahasiswa Bunuh Diri dan Dugaan Bullying di Universitas Udayana

Universitas Udayana
Universitas Udayana (Foto: ppid.unud.ac.id)

Blok-a.com – Seorang mahasiswa Universitas Udayana (Unud), Bali, berinisial TAS (22), ditemukan meninggal dunia setelah melompat dari salah satu gedung di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).

Kasus TAS mencuat setelah beredar tangkapan layar percakapan sejumlah mahasiswa yang dianggap tidak menunjukkan empati. Dalam percakapan tersebut, kabar kematian TAS dijadikan bahan ejekan di sebuah grup chat.

Banyak warganet menduga bahwa TAS mengalami perundungan selama di kampus, yang diduga menjadi salah satu pemicu tindakan nekatnya.

Dirangkum Blok-a.com, Sabtu (18/10/2025), berikut deretan fakta terkait kasus bunuh diri dan dugaan bullying mahasiswa Unud.

Kronologi

Kepala Seksi Humas Polresta Denpasar, Kompol I Ketut Sukadi, menjelaskan bahwa insiden bunuh diri mahasiswa Unud, TAS, terjadi pada Rabu, 15 Oktober 2025.

Sekitar pukul 08.30 WITA, saksi berinisial NKGA (21) melihat TAS keluar dari lift dan menuju lantai 4 Gedung FISIP. Ia mengenakan baju putih, membawa tas ransel, dan tampak gelisah sambil memperhatikan sekeliling.

“Korban duduk di kursi panjang yang terletak di sebelah barat kelas. Namun, karena saksi tidak mengenalnya, maka [korban] tidak dihiraukan dan melanjutkan berbincang dengan rekannya,” terang Sukadi dilansir dari Tirto, Sabtu (18/10/2025).

Sekitar pukul 09.00 WITA, saksi lain berinisial MAW (48) mendengar suara benda jatuh dan menemukan TAS tergeletak di depan lobi gedung. Korban langsung dibawa ke RSUP Prof. Ngoerah menggunakan mobil dinas dekan, namun nyawanya tidak tertolong.

Alami Pendarahan Organ Dalam

Kompol I Ketut Sukadi menyampaikan bahwa hasil pemeriksaan medis menunjukkan TAS mengalami luka serius. Di antaranya, tulang pinggul kiri dan kanan bergeser dan patah, tulang lengan atas patah, serta sendi kanan juga mengalami patah.

“Korban mengalami pendarahan pada organ dalam dan kesadaran terus menurun. Pada pukul 13.03 Wita, korban dinyatakan meninggal dunia,” kata Sukadi.

Ibu TAS Sebut Ada Perubahan Perilaku

Menurut keterangan ibu korban, SKY (48), lima bulan sebelum kejadian, ia mulai melihat perubahan perilaku pada anaknya. TAS kadang bersikap aneh dan pernah berjalan kaki sendirian ke kampus. Karena khawatir, sang ibu datang ke Bali untuk menemani anaknya selama kuliah.

“Ada perubahan perilaku, di mana terkadang anaknya bersikap aneh, bahkan pernah jalan kaki ke kampus sendiri sehingga saksi (ibu korban) datang ke Bali untuk menemani korban selama kuliah di Bali,” ungkap Sukadi.

Setelah kejadian, pihak keluarga memutuskan untuk tidak melaporkan kasus tersebut ke kepolisian. Mereka telah menyampaikan surat pernyataan dan mengikhlaskan kepergian TAS.

Pelaku Bullying

Sejumlah mahasiswa yang terlibat dalam percakapan tidak empatik terkait kasus TAS telah membuat video klarifikasi dan menyampaikan permintaan maaf. Ironisnya, beberapa dari mereka merupakan pengurus aktif Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (Himapol) Unud.

Sebagai bentuk sanksi, Ketua Himapol FISIP Unud memutuskan untuk memberhentikan para pelaku dari kepengurusan organisasi. Berdasarkan surat resmi yang dikeluarkan Himapol FISIP Unud, berikut nama-nama yang diberhentikan:

  • Vito Simanungkalit – Wakil Kepala Departemen Eksternal Himapol FISIP Unud Kabinet Cakra
  • Muhammad Riyadh Alvitto Satriyaji Pratama – Kepala Departemen Kajian, Aksi, Strategis, dan Pendidikan
  • Maria Victoria Viyata Mayos – Kepala Departemen Eksternal
  • Anak Agung Ngurah Nanda Budiadnyana – Wakil Ketua Departemen Minat dan Bakat

Selain itu, dua nama lain dari organisasi kampus berbeda juga ikut diberhentikan:

  • Leonardo Jonathan Handika Putra – Wakil Ketua BEM Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP) Unud
  • Putu Ryan Abel Perdana Tirta – Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FISIP Unud

Sanksi dari Pihak Unud

Selain diberhentikan dari kepengurusan organisasi masing-masing, mahasiswa yang terlibat dalam percakapan tidak empatik terhadap TAS juga mendapat sanksi dari FISIP Unud.

Dalam sidang organisasi mahasiswa yang dipimpin Wakil Dekan III FISIP, I Made Anom Wiranata, diputuskan bahwa para pelaku akan dikenai pengurangan nilai soft skill selama satu semester. Selain itu, mereka direkomendasikan untuk tidak diluluskan dalam seluruh mata kuliah yang diambil pada semester berjalan.

“Langkah ini bersifat pembinaan, bukan pembalasan. Kami ingin menanamkan empati dan tanggung jawab moral kepada mahasiswa,” tegas Anom Wiranata.

Tanggapan Pihak Unud

Melalui akun Instagram resminya, Universitas Udayana memberikan klarifikasi terkait percakapan tidak empatik yang beredar di media sosial setelah meninggalnya mahasiswa berinisial TAS.

Pihak kampus menegaskan bahwa percakapan tersebut terjadi setelah peristiwa, bukan sebelumnya, dan tidak berkaitan langsung dengan penyebab kematian TAS. Meski begitu, pihak kampus menilai tindakan tersebut melanggar etika dan nilai kemanusiaan.

Universitas juga menyatakan komitmennya untuk menindak tegas segala bentuk perundungan dan sikap tidak empatik yang bertentangan dengan nilai-nilai akademik. (hen)

 

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com