Harga Mahal, Warung di Kota Malang Tak Jual Lagi Olahan Daging Ayam

Warung makan milik Satumi, di Jalan Ambarawa, yang harus tertatih akibat harga ayam naik. (foto : Widya Amalia/Blok-a.com)

Kota Malang, Blok-a.com – Olahan daging ayam masih menjadi favorit bagi masyarakat, terutama mahasiswa di Kota Malang.

Seperti yang diketahui, ada banyak tempat makan yang menyajikan olahan daging ayam di Kota Malang.

Namun, harga daging ayam yang fluktuatif selama sepekan ini akhirnya membuat sejumlah pemilik warung makan menyerah. Salah satunya pemilik warung pojok di Jalan Ambarawa, Satumi. Dia menyebut sudah lama berhenti menjual menu olahan ayam.

“Sudah nggak beli ayam, mahal. Minggu ini 31 (ribu) kadang 35 sekian atau 36 (ribu) jadi sudah nggak (beli daging ayam untuk dijual),” papar wanita berhijab ini.

Untuk warung sederhana, Satumi hanya mengambil untung kecil. Terlebih dia harus menjual makanan dengan harga murah untuk menyesuaikan dengan harga beli mahasiswa. Sebelumnya, Satumi menjual menu olahan ayam. Seperti ayam geprek, sop ayam, dan ayam goreng sederhana. Dengan konsep prasmanan, Satumi menjual per porsinya berkisar Rp 10 hingga 15 ribu.

Laju penjualannya pun tidak kencang. Terlebih, setelah pandemi dia harus kehilangan banyak pelanggan mahasiswa. Dulunya, Satumi bisa menjual hingga 5 kilogram sajian nasi. Untuk olahan ayam sendiri dia bisa menjual ratusan porsi, baik makan di tempat maupun di bawa pulang.

Kini, dia hanya berjualan sedikit saja. Bahkan, sajian nasi setiap harinya tidak sampai 1 kilogram. Untuk menu olahan ayam, dia menggantinya dengan rujak dan tahu telur. Hal itu mampu menyelamatkannya untuk kebutuhan sehari-hari. Pasalnya, Satumi mengeluh kesulitan mencari uang. Selain karena adaptasi pasca pandemi, harga sembako pun juga semakin naik dan tidak menentu.

“Sekarang cari uang susah, sudah tidak bisa menabung. Bisa makan juga sudah bagus. Di sini juga banyak warung itu yang berhenti jualan,” beber dia.

Hal serupa juga dialami oleh pengusaha warung makan, Nila. Untungnya semakin menipis usai harga ayam fluktuatif. Pasalnya, dia harus menyesuaikan daya beli mahasiswa. Apabila menaikkan harga sedikit, banyak pelanggan yang berpaling ke lain hati.

“Kita ya ambil laba cuma seribu, dua ribu. Kalau sampai naik harga banyak yang tanya nih kenapa kok naik, kenapa gini gitu. Aduh, deh. Jadi supaya pelanggannya tetap makanya sebisa mungkin kita akalin,” ujar wanita berhijab ini.

Dia menyebut, menu yang dia tawarkan berkisar di harga Rp 15 hingga Rp 18 ribu. Untuk tetap menyenangkan hati pelanggan, Nila menyediakan layanan pesan antar. Namun, dia menyerah untuk menjual olahan ayam sebagai menu utama.

“Kita akhirnya nawarin menu-menu olahan telur dan sambal. Kan juga anak mahasiswa masih mampu, kebeli, gitulah,” tukas wanita asli Jombang ini. (mg2/bob)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com