Kota Malang, blok-A.com – Pemerintah telah membuat
tim gabungan Independen pencari fakta (TGIPF) untuk mengusut tuntas penyebab dan siapa yang bertanggung jawab di Tragedi Kelam Kanjuruhan.
Tim itu terdiri dari:
Ketua: Menko Polhukam Mahfud MD
Wakil Ketua : Menpora Zainudin Amali
Sekretaris : Dr. Nur Rochmad S.H, M.H (Mantan Jampidum/Mantan Dep. III Kemenko Polhukam
Anggota: Prof. Dr. Rhenald Kasali (akademisi/UI)
Prof. Dr. Sumaryanto (rektor UNY)
Akmal Marhali (Pengamat olahraga/Koordinator Save Our Soccer)
Anton Sanjoyo (jurnalis Olahraga-Harian Kompas)
Nugroho Setiawan (Mantan pengurus PSSI dengan lisensi FIFA)
Letjen TNI (purn) Doni Monardo (Mantan Kepala BNPB)
Mayjen TNI (Purn) Dr. Suwarno S. IP. M.Sc (wakil Ketua Umum 1 KONI)
Irjen Pol (Pur) Sri Handayani (Mantan Wakapolda Kalimantan Barat)
Laode M. Syarif S.H. LLM. Ph. D (Kemitraan)
Kurniawan Dwi Yulianto (Mantan pemain Timnas /APPI)
Dari nama-nama tim independen itu tidak terlihat ada perwakilan dari kelompok atau komunitas korban yang berjatuhan di Tragedi Kelam Kanjuruhan, yakni Aremania.
Hal ini pun memunculkan kritikan dari KontraS. Ketua KontraS, Andy Irfan menyebut bahwa seharusnya Aremania dilibatkan dalam tim itu. Alasannya adalah Aremania merupakan korban.
“Bentuk tim independen yang melibatkan aremania di dalamnya. Aremania adalah korban,” ujarnya.
Namun dalam susunan TGIPF bentukan pemerintah itu tidak ada perwakilan dari Aremania. Andi pun menyebut proses pengusutan tragedi itu tanpa melibatkan Aremania adalah omong kosong.
“Aremania adalah korban, semua penindakan hukum tanpa mendengar suara korban itu omong kosong saja,” tuturnya.
Sementara itu, KontraS dan Aremania tidak tinggal diam meskipun tidak dilibatkan dalam tim itu. Andi menyebut dia telah berkoordinasi dengan Aremania dan keluarga korban membentuk tim independen. Tujuannya untuk mengumpulkan data sendiri, terkait jumlah korban dan sejumlah fakta lainnya.
“Kami mempunyai tim sendiri untuk mengumpulkan data dari teman-teman Aremania. Dan teman-teman semua harap bantu kami. Karena ini harus diusut tuntas,” tutupnya.
Sebagai informasi, hingga kini data yang diperoleh blok-A.com korban meninggal atas kejadian tersebut masih simpang siur. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menyebut korban meninggal adalah 131. Namun Kapolri, Jendral Listyo SIgit menyebut hanya 125 melayang. (bob)










Balas
Lihat komentar