Situbondo, blok-a.com – Nama Zainal Arifin Emka dikenal luas di kalangan jurnalis Jawa Timur. Wartawan senior ini telah puluhan tahun malang melintang di dunia jurnalistik dan mengenyam asam garam profesi kewartawanan hingga kini berusia 75 tahun.
Ketertarikan Zainal terhadap dunia jurnalistik berawal dari kebiasaannya berlangganan koran sejak muda. Dari situ, tumbuh keinginan untuk menjadi wartawan. Padahal, semasa sekolah dasar hingga menengah, ia memiliki cita-cita menjadi seorang guru.
“Saat saya duduk dibangku SD hingga SMA, cita-cita saya itu ingin menjadi seorang pendidik alias guru,” ungkapnya.
Usai lulus SMA, keinginan menjadi wartawan profesional semakin kuat. Meski kondisi ekonomi terbatas, Zainal tetap melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dengan mengambil jurusan Ilmu Komunikasi. Di bangku kuliah itulah ia mulai mendalami ilmu kewartawanan sekaligus terbesit keinginan mendirikan perusahaan media.
Ia menilai profesi wartawan menuntut wawasan luas, kecermatan berpikir, serta kemampuan merangkai kata berdasarkan fakta dan data. Menurutnya, karya jurnalistik adalah karya ilmiah yang harus dipertanggungjawabkan kebenarannya.
“Profesi wartawan itu adalah profesi yang mulia. Memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat luas,” ucap Zainal.
Bersama rekan-rekannya semasa kuliah, Zainal mendirikan media bernama Indonesia Membangun. Namun, perusahaan media tersebut hanya mampu bertahan selama dua tahun karena keterbatasan modal.
“Faktor modal yang membuat perusahaan media itu kami hentikan,” ujarnya.
Setelah media yang dirintisnya berhenti, semangat Zainal untuk menjadi wartawan justru semakin berkobar. Ia lalu melamar ke sejumlah media besar di Jawa Timur.
“Selepas perusahaan media yang saya dirikan kolab. Saya melamar jadi wartawan beberapa perusahaan media yang ada di Jawa Timur,” katanya.
Lamaran tersebut akhirnya membuahkan hasil. Zainal diterima sebagai wartawan di media cetak Surabaya Post, salah satu media besar di Jawa Timur pada masa itu.
“Pada masa itu, media Surabaya Post itu media cetak yang cukup besar, oplah korannya ribuan bahkan puluhan ribu,” tuturnya.
Di Surabaya Post, karier Zainal terus menanjak. Berawal dari reporter, ia kemudian dipercaya menduduki posisi Wakil Pemimpin Redaksi. Ia setia mengabdi hingga media tersebut akhirnya tutup.
Setelah Surabaya Post berhenti terbit, Zainal kembali mendapat kepercayaan untuk mengembangkan media Berita Sore. Namun, media tersebut juga hanya bertahan selama dua tahun.
Pengabdiannya di dunia jurnalistik tak berhenti di ruang redaksi. Dengan bekal pengalaman panjang, Zainal kemudian menyalurkan ilmunya di dunia pendidikan sebagai dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (STIKOSA AWS).
Sebagai dosen mata kuliah Jurnalistik, ia telah mengabdi selama 33 tahun. Ribuan mahasiswa telah merasakan didikan dan bimbingannya, menjadikan Zainal bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga mentor bagi banyak jurnalis muda.(mam/lio)










Balas
Lihat komentar