Pameran Intersection, Jadi Ajang Refleksi Praktik Kurasi Seni di Kota Malang

Beberapa karya yang dipamerkan dalam ajang INTERSECTION (foto: Blok-a.com)
Beberapa karya yang dipamerkan dalam ajang INTERSECTION (foto: Blok-a.com)

Kota Malang, Blok-a.com — Pameran lintas disiplin, Intersection yang digelar 16-18 Januari 2026, di Kota Malang menjadi ruang refleksi atas praktik kuratorial yang tidak lagi bertumpu pada penataan ruang semata, melainkan berangkat dari gagasan sebagai fondasi utama.

Didit Prasetyo, dosen Universitas Ma Chung, praktisi seni, sekaligus kurator pameran ini, menegaskan bahwa gagasan harus menjadi fondasi utama dalam setiap praktik kuratorial. Ia menilai bahwa pameran merupakan proses konseptual yang menuntut kejelasan ide sebelum berhadapan dengan lokasi, bentuk visual, dan audiens.

Dalam setiap proses kurasi yang ia lakukan, Didit bertolak dari gagasan yang menjadi titik awal untuk menentukan arah keseluruhan pameran. Baginya, ruang dan konteks tempat berpameran adalah elemen yang mengikuti konsep yang telah disiapkan sejak awal.

“Harus ada gagasan dulu. Ruang itu nanti mengikuti. Kalau karya sudah matang, baru lokasi ditentukan. Visual bisa disesuaikan dengan ruang tanpa mengubah konsep dasar,” ujar Didit saat diwawancarai Blok-a.com, Selasa (14/1/2026).

Sebagai pengajar yang sehari-hari berinteraksi dengan mahasiswa seni, Didit menilai pengalaman mengajar turut memengaruhi cara ia membaca karya di luar ruang kelas.

“Setiap mahasiswa punya karakter dan karya yang berbeda. Dari situ saya belajar memahami bagaimana mereka membentuk karya, dan itu menjadi pelajaran baru bagi saya,” katanya.

Namun, ia juga mencatat adanya kecenderungan yang masih sering ditemui di lingkungan akademik seni, yakni fokus berlebihan pada hasil akhir dibandingkan proses dan pengolahan gagasan. Hal ini, menurutnya, menjadi tantangan tersendiri dalam pendidikan seni yang menuntut kedewasaan berpikir konseptual.

“Biasanya mereka lebih memikirkan hasil. Proses dan konsep kadang dipikirkan belakangan. Padahal kami melatih agar semuanya dikonsep sejak awal, supaya ketika karya jadi, itu sudah matang,” jelasnya.

Didit Prasetyo Nugroho, kurator Pameran INTERSECTION (foto: ist)
Didit Prasetyo Nugroho, kurator Pameran INTERSECTION (foto: ist)

Ia juga menyinggung soal perbedaan generasi yang tak terelakkan, terutama dalam konteks perkembangan teknologi dan medium baru. Didit menilai bahwa dosen dan praktisi perlu terus membuka diri agar tidak tertinggal dari dinamika yang dihadapi mahasiswa saat ini.

“Teknologi berkembang cepat. Kadang kita ketinggalan. Upayanya dengan membaur, mencari tahu apa yang sedang relevan bagi mahasiswa, berani bertanya, dan tetap terbuka,” ujarnya.

Sementara dalam praktik kuratorial di pameran lintas disiplin seperti INTERSECTION, Didit mengakui adanya tantangan ketika mahasiswa mengangkat tema-tema tradisional yang secara pengalaman tidak selalu dekat dengan keseharian mereka. Ia melihat kecenderungan pengambilan tema secara permukaan, terutama ketika perhatian lebih banyak tertuju pada eksplorasi medium visual dan teknis.

“Sering kali konsep tradisional hanya diambil di permukaan karena mereka fokus ke medium visual. Di situ peran saya membantu agar pemaknaannya lebih dalam. Untuk visual dan teknis, saya serahkan ke mereka,” katanya.

Lebih jauh, Didit menekankan bahwa mahasiswa seni hari ini perlu membangun kepekaan terhadap lingkungan sekitar sebagai sumber gagasan. Ia menilai banyak potensi karya justru lahir dari realitas sehari-hari yang kerap terabaikan.

“Anak-anak sekarang kadang sibuk dengan dirinya sendiri. Padahal lingkungan sekitar dan hal-hal kecil bisa diangkat menjadi karya. Itu bisa jadi referensi penting dalam berkarya,” ujarnya.

Terkait kehadiran isu sosial dalam pameran, Didit menegaskan bahwa karya tidak harus selalu membawa isu secara eksplisit. Namun, karya tetap perlu memiliki orientasi kepada publik, karena seni pada akhirnya dipresentasikan untuk dibaca dan dialami oleh orang lain.

“Kita mempresentasikan karya untuk orang lain, bukan hanya untuk diri sendiri. Pasti ada kedekatan dengan hal-hal yang berbau sosial,” katanya.

Mengenai INTERSECTION, Didit berharap pameran yang digelar di Astaloka Coffee tersebut dapat memperluas cakrawala publik terhadap praktik seni media baru di Malang. Ia melihat masih minimnya ruang yang mempertemukan seni dengan teknologi secara terbuka kepada masyarakat umum.

“Supaya lebih banyak orang tahu bahwa di Malang kita bisa melakukan pameran seni media baru. Selama ini mungkin kurang dilirik. Harapannya, masyarakat bisa memahami bagaimana teknologi bisa berdampingan dengan seni,” tuturnya. (ber/gni)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com