Gresik, blok-a.com – Damar kurung adalah lampion yang terbuat dari kayu berbentuk segi empat dan dilapisi kertas yang berhiaskan lukisan dengan banyak motif. Terkenal sebelum abad ke-16 pada masa Sunan Prapen.
Setelah abad ke-16, damar kurung dipopulerkan kembali oleh Mbah Masmundari, maestro sekaligus perajin Damar Kurung.
Damar Kurung telah ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda nasional yang berasal dari Kota Gresik sejak tahun 2017.
Sepeninggal Mbah Masmundari, secara perlahan ketertarikan masyarakat terhadap Damar Kurung semakin berkurang, apalagi ditambah dengan percepatan teknologi.
Tradisi ini menjadi latar belakang bagi Yayasan Gang Sebelah untuk menyelenggarakan acara Ziarah Damar Kurung, yang bertujuan untuk menelusuri dan mengenang jejak-jejak Damar Kurung yang masih dapat dikunjungi atau diceritakan.
Selama perjalanan ziarah ini, peserta berkesempatan untuk mempelajari lebih dalam mengenai sejarah dan makna dari tradisi Damar Kurung.
Perjalanan dimulai di Kafe Sualoka Hub dengan menyaksikan langsung proses perakitan Damar Kurung yang dilakukan oleh ibu-ibu dari Sidokumpul yang selama ini diberdayakan oleh Anhar yang merupakan salah satu Seniman di Gresik.
Peserta dapat melihat bagaimana Damar Kurung dirangkai dan diproduksi secara tradisional. Selanjutnya, peserta diajak untuk mengunjungi Museum Masmundari secara virtual.
Kepala Museum Masmundari Raja Iqbal Islamy, menjelaskan bagaimana sosok Mbah Masmundari dan tentang karya-karya Mbah Masmundari.
“Mayoritas karya dari Masmundari tidak terlepas dari aktivitas Gresikan, salah satunya peristiwa-peristiwa yang ada di Kroman, daerah pesisir Gresik, dan juga ada lukisan yang bertemakan ancol,” ujarnya.
Setelah mengunjungi museum virtual, peserta kemudian melanjutkan perjalanan ke Gresiknesia, sebuah Kedai kopi yang menyimpan koleksi-koleksi lukisan Damar Kurung orisinal karya Mbah Masmundari. Di sana, mereka melihat lebih dekat karya-karya Mbah Masmundari.
Para peserta tampak sangat antusias, bertanya tentang bagaimana pewarnaan yang digunakan oleh Mbah Masmundari pada masa itu serta bagimana cara merawat lukisan-lukisan yang sudah ada sejak tahun 1990-an ini.
Setelah itu, peserta menuju ke rumah Mbah Masmundari yang terletak di Pojok, sesampainya di sana peserta disambut oleh Ahmad Andrianto, cucu dari Mbah Masmundari.
Di rumah tersebut, peserta diajak melihat lukisan-lukisan, alat lukis, dan bahan pewarna yang dahulu digunakan oleh Mbah Masmundari untuk membuat Damar Kurung.
Selain itu Andre, sapaan akrabnya, juga menjelaskan mengenai struktur dan komposisi dari lukisan-lukisan Mbah Masmudari.
“Jadi ini merupakan beberapa lukisan yang merupakan karya Mbah Masmundari. Seperti yang di Pameran The Jumping City juga karyanya diambil dari sini,” jelasnya.
Namun, sayangnya, kini keluarga Mbah Masmundari tidak lagi menjual Damar Kurung pada saat padusan. Dikarenakan cucu dari Mbah Masmundari yang sebelumnya menjadi penerus dan penjual Damar Kurung telah wafat. Dengan kepergiannya, tradisi tahunan ini terhenti.
“Jadi kami pasukan kemarin nggak menjual Damar Kurung karena cucu Mbah Masmundari sudah meninggal,” ungkapnya.
Andre berharap dengan tradisi Damar Kurung ini agar bisa dilestarikan oleh generasi sekarang.
“Harapannya seni Damar Kurung harus tetap dilestarikan oleh generasi generasi mendatang khususnya generasi masa kini. Seni yang punya makna mendalam di dalamnya,” pungkasnya. (ivn/lio)









