Hidup Suratman si Tukang Becak di Malang Berpasrah pada Sedekah

Suratman (55) tukang becak di Kota Malang (Mahasiswa Magang Unitri, Akroman)
Suratman (55) tukang becak di Kota Malang (Mahasiswa Magang Unitri, Akroman)

Kota Malang, blok-a.com – Di tengah Kota Malang, tepatnya di sekitar Alun-alun Tugu Malang, Suratman (55) sedang santai duduk di atas becak-nya. Tukang becak itu menunggu pelanggan yang tak kunjung datang, Jumat (14/2/2025).

Setiap hari memang kondisinya seperti itu. Kondisi tanpa penumpang ini sudah dialaminya sejak Covid-19 melanda hingga sekarang.

“0 itu gak ada penumpang ya sampai sekarang mulai dari Covid-19. Sejak ada Ojol itu sudah mengurangi sampai sekarang benar-benar 0 penumpang,” jelasnya ke blok-a.com.

Suratman meskipun tidak ada penumpang masih setia menjalani kerjaannya sebagai tukang becak di Kota Malang. Pria asli Blitar ini sudah mengayuh becak sejak tahun 1986 di Kota Malang. Dia konsisten jam 06.00 pagi berangkat hingga jam 21.00 pulang sampai sekarang.

Dia menjelaskan, karena tidak ada pendapatan, dia kini hanya pasrah dengan belas kasih warga Kota Malang atau bergantung pada sedekah. Bapak tiga anak ini mengatakan, setiap harinya pasti ada sedekah yang diberikan, entah itu berupa makanan, sembako, hingga amplop berisi uang.

“Pemasukan saya itu sehari-harinya itu karena orang Malang itu ini ya, iman-nya orang Malang itu sangat tinggi, jadi istilahnya hati sedekahnya itu tinggi sekali,” kata dia.

Saat ditemui blok-a.com, Suratman menunjukkan sudah mendapatkan nasi kotak berisi makanan hari ini. Nasi kotak itulah yang bakal mengisi perutnya untuk hari ini hingga esok menunggu lagi sedekah lagi.

“Saya pastikan dapat. Ini nasi saya dapat dua. Ini baru dapat lagi. Biasanya ada yang ngasih sembako itu dari mahasiswa juga ada,” tambahnya.

Kebiasaan hanya bergantung hidup lewat sedekah ini, kata pria yang sudah jadi tukang becak 37 tahun ini karena saat Covid-19. Covid-19 bukanlah bencana baginya. Pandemi tersebut adalah hari-hari penuh keberkahan bagi tukang becak sepertinya di Kota Malang.

“Kalau di waktu Covid-19 itu saya sykuri sangat-sangat. Mereka sangat-sangat memperhatikan tukang becak. Waktu Covid-19 itu pasti dapat bantuan. Kalau pas normal dari Covid-19 ini malah berkurang,” jelasnya.

Ketergantungan dengan sedekah ini ditambah karena memang sudah tidak ada yang tertarik naik becak, kecuali wisatawan untuk berkeliling.

“Itu saja pas hari Sabtu atau Minggu. Itu kadang ada 1 atau 2 itu aja kadang gak ada. Jadi ya bisa dikatakan 0,” jelasnya.

Suratman sendiri 3 anaknya sudah menikah. Alhasil, anak-anaknya tidak lagi membebaninya. Istrinya pun sudah meninggal dunia.

Oleh karena itu, dia tidak lagi punya beban keluarga untuk dinafkahi. Sedekah yang setiap hari ia dapat hanya untuk kepentingannya membeli kopi dan rokok di warung.

“Seandainya saya masih punya tanggungan anak sekolah macam-macam. Mungkin anak saya gagal sekolah bisa. Untungnya, jauh sebelum Covid-19 anak saya sudah lepas semua. Cucu saya 8 kok,” kata dia.

Suratman kini menikmati massa tuanya sendirian di daerah Jalan Muharto Gg 5 sebatang kara. Anak pertamanya kini di Blitar, anak kedua di Palembang, dan si bungsu di Padang.

“Jadi saya sendirian di sini. Sumber penghasilan itu satu-satunya ya dari becak ini. Sekarang istilahnya cuma bertahan,” tutupnya. (bob)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com