Kota Malang, blok-a.com – Di tengah arus modernisasi dan digitalisasi, tradisi upacara adat di Jawa Timur (Jatim) justru menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Ritual seperti bersih desa, sedekah bumi, larung sesaji, hingga topeng Malangan yang sempat memudar, kini kembali digelar dengan semarak di berbagai daerah, terutama Malang Raya.
Budayawan Jawa Timur, Isa Wahyudi atau akrab disapa Ki Demang, menilai fenomena ini sebagai bentuk “restorasi makna” masyarakat terhadap tradisi leluhur.
“Upacara adat bukan sekadar seremoni, tapi sarana menjaga harmoni antara manusia, alam, leluhur, dan Tuhan. Kini masyarakat mulai sadar bahwa tanpa tradisi, akar budaya akan hilang,” ujarnya.
Fenomena ini terlihat dari kembali digelarnya Bersih Desa di Tumpang, Larung Sesaji di Pantai Ngliyep, hingga kebangkitan Topeng Malangan di Pakisaji, Ngajum, dan Wonosari. Tradisi yang dulu hanya dilakukan terbatas warga desa, kini dikemas dalam bentuk festival budaya yang juga menarik wisatawan.
Pemerintah daerah pun ikut memberi dukungan. Sejumlah agenda budaya seperti Festival Panji Malang maupun Grebeg Suro Ponorogo dijadikan kalender tahunan pariwisata.
“Tradisi yang dihidupkan kembali bukan hanya menyatukan masyarakat, tapi juga mendorong ekonomi lokal,” kata Ki Demang.
Namun, ia mengingatkan agar kebangkitan tradisi tidak terjebak pada komodifikasi semata. Ia berharap generasi muda bisa memahami makna-makna tradisi itu.
“Risikonya, sakralitas ritual bisa tergeser hanya menjadi tontonan. Generasi muda harus memahami filosofi di baliknya, bukan sekadar kostum atau arak-arakan,” tegasnya.
Era digital, lanjutnya, memberi peluang sekaligus tantangan. Dokumentasi ritual lewat media sosial memang membuat tradisi lebih dikenal luas, bahkan bisa disaksikan diaspora Jawa di luar negeri.
“Tetapi jangan sampai hanya berhenti di layar. Tradisi harus tetap hidup dalam jiwa masyarakat,” pungkas Ki Demang. (yog)










Balas