Kota Malang, blok-a.com – Pameran seni rupa Lompat Pagar #2 resmi dibuka di ruang pamer Dewan Kesenian Malang (DKM), Jalan Majapahit No. 3, Kota Malang, pada Kamis (24/10/2025). Mengusung tema “Lintas Jaman Arus Budaya,” pameran ini berlangsung hingga 30 Oktober 2025 dan menampilkan karya dari 33 perupa lintas generasi dan latar belakang.
Pembukaan pameran dilakukan oleh Dr. Tengsoe Tjahyono, sastrawan sekaligus dosen yang dikenal dengan gaya berbicara lugas dan reflektif terhadap budaya.
Acara berlangsung hangat, diwarnai tawa dan percakapan di antara para seniman serta pengunjung yang memenuhi ruang pamer.
Pameran ini merupakan kelanjutan dari Lompat Pagar pertama yang sukses digelar di Malang, Yogyakarta, dan Minneapolis, Amerika Serikat.
Jika sebelumnya karya yang ditampilkan didominasi warna hitam putih dengan ukuran kecil, kini para seniman diberi kebebasan penuh untuk bereksperimen dengan warna dan media hingga ukuran 70×90 cm.

Menurut panitia, pameran ini lahir dari semangat untuk menjembatani arus budaya lintas zaman.
“Makna dari Lompat Pagar adalah keberanian keluar dari kebiasaan lama. Seorang perupa yang biasanya realis bisa mencoba abstrak atau surealis. Tahun ini kami ingin mempertemukan seniman muda dan senior agar tercipta keseimbangan gagasan,” ujar salah satu penyelenggara.
Proses perekrutan peserta dilakukan secara terbuka dan kolektif tanpa kurator resmi.
“Awalnya cuma sembilan orang, lalu bertambah jadi 29, kemudian 30 di Yogyakarta, dan sekarang 33 perupa. Kami mengandalkan jejaring komunitas. Kalau ada yang tertarik, kami ajak bergabung. Sifatnya gotong royong,” jelas panitia.
Pemilihan Dewan Kesenian Malang (DKM) sebagai lokasi pameran dinilai paling tepat karena memiliki ruang yang lebih luas dan representatif.
“Awalnya mau di Hamor Arvics, tapi karena jumlah karya makin banyak, ruangnya nggak cukup. DKM menawarkan tempat yang lebih luas dan di sini juga banyak ruang dialog antarseniman,” tambahnya.
Tak hanya menampilkan karya visual, Lompat Pagar #2 juga membuka ruang kolaborasi lintas bidang seni. Komunitas puisi dan media lokal turut meramaikan acara pada 25 Oktober 2025 dengan pembacaan puisi dan diskusi santai tentang seni kontemporer.
“Tema Lintas Jaman Arus Budaya kami angkat untuk menunjukkan bahwa seni selalu bergerak. Dulu mungkin karya hanya dipamerkan di galeri, tapi sekarang bisa dinikmati di ruang digital. Namun nilainya tetap sama: seni adalah cara manusia berkomunikasi,” ujar salah satu peserta senior.
Pameran ini menghadirkan berbagai gaya seni, mulai dari realisme, ekspresionisme, hingga karya eksperimental menggunakan bahan tak biasa seperti logam, kain bekas, dan serpihan kaca. Setiap karya menjadi refleksi atas dinamika budaya dan cara seniman membaca zamannya.
Sementara itu, salah satu peserta muda, Ilyas Bednews (22), mengaku bangga bisa bergabung dalam proyek kolektif tersebut.
“Buat saya, Lompat Pagar itu bukan cuma tema, tapi cara berpikir. Melukis sekarang bukan hanya soal teknik, tapi tentang menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan identitas,” katanya.
Karya Ilyas menyoroti transformasi budaya di tengah digitalisasi, digambarkan melalui visual yang enerjik dan penuh simbol.
Penyelenggara berharap Lompat Pagar dapat menjadi ruang belajar dan pertemuan ide, bukan sekadar ajang pamer karya.
“Kami ingin pengunjung berani berinteraksi, bertanya, bahkan mencoba melukis. Kalau pengunjung punya kafe, ayo kolaborasi bikin kegiatan seni. Kalau perupa, ayo bareng-bareng bereksperimen,” ungkap panitia.
Keputusan menghadirkan Dr. Tengsoe Tjahyono sebagai pembuka acara juga menjadi daya tarik tersendiri.
“Biasanya pembukaan dilakukan oleh pejabat atau kurator, tapi kami ingin berbeda. Pak Tengsoe dikenal ceplas-ceplos dan berpikir bebas, sesuai semangat melompat pagar,” katanya.
Sebelumnya, Lompat Pagar #1 di Yogyakarta diikuti 30 peserta dengan 67 karya dan dibuka oleh seniman Nasirun. Tahun ini, jumlah karya lebih banyak dan suasana lebih terbuka terhadap beragam aliran seni.
Dengan mengusung semangat keterbukaan dan keberagaman, Lompat Pagar #2 menjadi simbol perjalanan seni rupa Malang yang terus bergerak.(mg1/lio)
Penulis: Rosa Dwi Eliyah (Mahasiswa Magang UTM Bangkalan)










Balas
Lihat komentar