Melihat Tradisi Ritual Tutup Suro di Jember

Suasana tradisi tutup Suro, di Desa Curahnongko, Tempurejo, Jember.
Suasana tradisi tutup Suro, di Desa Curahnongko, Tempurejo, Jember.

Jember, blok-a.com – Sedekah Bumi digelar oleh ratusan warga petani di Desa Curahnongko, Kecamatan Tempurejo, Jember, pekan ini.

Tradisi ini sudah berjalan puluhan tahun. Budaya warisan leluhur setiap tutup bulan Asyura atau Muharram ini hingga kini terus dilestarikan oleh warga setempat.

Tujuan tradisi itu adalah wujud ungkapan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Sang Maha Kuasa.

Ritual ini dilaksanakan satu tahun sekali di penghujung bulan Muharram sesuai perhitungan kalender Jawa. Kali ini tepat pada Senin (14/8/2023) kemarin.

Ada pemandangan menarik dari tradisi tutup suro yang digelar warga Desa Curahnongko ini, yakni adanya sajian masakan yang biasa disebut dengan Nasi Ayam Ingkung. 

Ayam Ingkung merupakan ayam utuh yang dihidangkan lengkap bersama jeroannya.

Ada makna tersendiri kenapa harus ayam utuh. Bukan sekadar ayam yang dimasak, namun memiliki arti filosofi yang melekat pada ayam utuh atau ingkung ini.

Ayam Ingkung memiliki arti mengayomi. Diambil dari kata Jinakung dalam Bahasa Jawa Kuno, serta kata Manekung yang artinya memanjatkan doa.

Menurut tokoh masyarakat Desa Curahnongko, Yateni, tradisi ritual Tutup Suro dimaknai masyarakat sebagai bentuk bersih desa serta mendoakan para leluhur agar masyarakatnya diberikan kemudahan, keselamatan serta kemakmuran dalam menjalankan kehidupan.

“Doa kita dipanjatkan kepada Sang Maha Kuasa, kita turut doakan para leluhur agar desa kami selalu terhindar dari marabahaya. Dan masyarakatnya dapat selalu hidup rukun, guyub dan makmur,” ujarnya.

Nasi Ayam Ingkung kali ini  dibuat secara gotong-royong oleh warga selanjutnya dihidangkan dalam ritual yang digelar.

Warga secara bersama-sama penuh kerukunan menikmati sajian yang dibagikan oleh para sesepuh desa.

“Selain membaca sholawat nabi dan tahlil, ada juga yang khas dibacakan warga yakni puji-pujian kepada sang Maha Kuasa yang dilantunkan dengan mengunakan bahasa Kejawen yang sampai saat ini terus dijaga dan dilestarikan masyarakat di Desa Curahnongko,” paparnya.

Sekadar diketahui Desa Curahnongko, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember sendiri memiliki history panjang atas perjuangan ribuan petani di desa itu dalam mendapatkan hak atas tanah seluas 332 hektare dari pemerintah.

Konflik agraria terjadi antara ribuan warga petani dengan PTPN XII Kebun Kalisanen.

Bahkan sampai saat ini masih menyisakan derita serta harapan bagi kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat petani di Desa Curahnongko dan Andongrejo.(aif/kim)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?