Kota Malang, blok-a.com – Bulan Ramadan selalu identik dengan takjil segar yang menggugah selera. Salah satu bahan favorit dalam minuman khas berbuka adalah cincau. Dengan tekstur yang kenyal, pastinya akan berpadu sempurna dengan es serta sirup manis. Di Kota Malang, ada satu rumah produksi cincau yang melegenda sejak 1964. Namanya adalah Mak Cao.
Berlokasi di sebuah gang sempit di Jalan Zainal Zakse, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, pabrik cincau rumahan ini telah melewati tiga generasi. Suratmi (62), sang pemilik saat ini, mewarisi usaha tersebut dari keluarganya dan terus menjalankan produksi cincau dengan cara tradisional.
Dari luar, pabrik ini tampak seperti rumah biasa dengan halaman yang dipenuhi tumpukan kayu bakar dan kaleng cetakan cincau. Begitu masuk ke dalam, deretan kaleng berisi cincau yang tengah didinginkan langsung terlihat. Lebih ke dalam lagi, dapur produksi menjadi saksi kesibukan para pekerja yang dengan cekatan memasak cincau di atas api kayu bakar.
Setiap Ramadhan, rumah produksi Mak Cao selalu disibukkan dengan lonjakan pesanan. Jika di hari biasa hanya memproduksi sekitar 10 kaleng cincau, jumlah ini bisa melonjak hingga 150–200 kaleng per hari selama bulan puasa.
“Kalau hari biasa itu cuman 10 kaleng. Tapi kalau Ramadhan biasanya bisa sampai 150 sampai 200-an kaleng. Satu kaleng itu saya jual seharga Rp 50 ribu,” ujar Suratmi.
Bersama sang anak, Hariyati (40), dan dua pekerja lainnya, Suratmi terus memastikan produksi berjalan lancar. Pesanan datang dari berbagai penjuru Kota Malang, mulai dari Kebalen, Mergan, Bandulan, Kedungkandang, hingga Lesanpuro. Namun, ada yang berbeda pada Ramadhan tahun ini. Suratmi mengaku jumlah pesanan turun drastis dibanding tahun sebelumnya.
“Tahun ini turun dibanding tahun kemarin, dari yang sebelumnya 300 kaleng per hari turun jadi 100-150 kaleng,” katanya.
Meski begitu, pelanggan setia tetap berdatangan. Salah satunya adalah Mulyoto, yang sudah berlangganan sejak 2021. Baginya, cincau Mak Cao adalah bahan utama dalam minuman es yang dijualnya selama Ramadhan.
“Sekali ambil itu langsung 10-12 kaleng untuk dibuat minuman es. Biasanya setelah ambil terus dijual itu sore sudah habis,” tuturnya.
Di tengah naik-turunnya pesanan, pabrik cincau Mak Cao tetap bertahan sebagai bagian dari tradisi berbuka puasa di Malang. Rasa yang tak berubah sejak puluhan tahun lalu membuatnya terus dicari, menjadikannya bukan sekadar bahan takjil, tetapi juga bagian dari kenangan manis Ramadhan. (yog/bob)








