Mojokerto, blok-a.com – Petani tebu di Mojokerto mengeluhkan beratnya tanggungan pinjaman bank serta turunnya daya serap pasar gula lokal akibat maraknya gula rafinasi impor. Kondisi ini dikhawatirkan akan mengganggu kelancaran produksi sekaligus mengancam musim tanam tahun 2026.
Seorang petani, H. Mubin menyebutkan, beban terbesar yang dihadapi adalah kewajiban melunasi pinjaman sesuai perjanjian dengan perbankan, koperasi, dan pabrik gula.
“Tenggat waktu pembayaran sudah ditentukan. Kalau harga gula tidak segera bergerak, kami terpaksa harus mencari cara bagaimana bisa membayar tepat waktu. Tidak ada opsi perpanjangan,” ujarnya, Kamis (18/9/2025).
Selain cicilan, biaya operasional sehari-hari juga menjadi tekanan tersendiri. Petani harus menanggung ongkos tebang dan angkut yang dibayarkan setiap hari, termasuk gaji pekerja tetap serta biaya transportasi truk.
Dari sisi produksi, sebenarnya rendemen tebu Mojokerto cukup kompetitif, berkisar 7,3 hingga 7,8 persen dengan mutu bersih segar (MBS). Namun, harga jual di tingkat petani dinilai tidak stabil.
Pemerintah telah menetapkan harga gula Rp14.500 per kilogram, sementara di pasaran ada yang mencapai Rp17.500 hingga Rp18.500. Meski demikian, penyerapan gula lokal tahun ini dianggap jauh menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Alasannya karena banyak gula rafinasi beredar di pasar umum. Padahal mestinya hanya untuk kebutuhan industri makanan dan minuman. Akibatnya, gula petani terganggu penyerapannya,” tambahnya.
Situasi ini juga berimbas pada kesiapan masa tanam berikutnya. Dana yang biasanya dialokasikan untuk sewa lahan, biaya garap, hingga pembelian pupuk kini terpaksa ditahan untuk membayar ongkos operasional.
Para petani pun menyampaikan tiga harapan utama kepada pemerintah:
1. Penyediaan varietas bibit unggul melalui program P3DE agar produktivitas meningkat.
2. Penyesuaian pupuk dengan kondisi lahan di tiap desa dan kecamatan.
3. Fasilitasi kredit yang lebih ringan bagi petani.
“Kami sudah menyampaikan hal ini ke Menteri maupun Menko. Harapannya sebelum musim giling berakhir, seluruh gula petani bisa terserap. Dengan dukungan regulasi yang tepat, kami optimis produksi akan meningkat,” tandasnya.(sya/lio)










Balas
Lihat komentar