Kabupaten Malang, blok-A.com – Petani kopi di Kecamatan Dampit Kabupaten Malang ini patut mendapat pujian. Namanya adalah Mistono. Dia menciptakan inovasi di dunia perkopian, yakni kopi yang memabukkan.
Namanya adalah kopi wine. Dia mulai menciptakan produk tersebut sekitar tahun 2016. Dia waktu itu bekerja di hotel di Kota Malang. Penciptaan kopi wine itu berasal dari diskusinya dengan barista di hotel tersebut.
“Saya menciptakan kopi wine ini dari otodidak saja. Dulu waktu 2016 itu ya saya diskusi kecil-kecilan dengan bartender. Apa bisa saya bikin kopi yang seperti ini (wine) tapi tanpa alcohol? Katanya bisa,” kata dia dalam acara bertajuk ‘Kopi Robusta Bukan Kopi Kelas Dua’ di Kecamatan Dampit Kabupaten Malang, Rabu (31/08/2022).
Akhirnya pun Mistono yang juga petani kopi itu mulai mencoba membuat kopi wine. Tantangan pun ada. Dia harus mencoba meriset kopi jenis apa yang cocok dibuat kopi tersebut. Kopi jenis itu harus sudah difermentasi.
Awalnya dia mencoba menggunakan kopi robusta. Namun gagal. Karena proses fermentasinya gagal. Dua bulan waktu untuk uji coba itu pun sia-sia.
“Iya awalnya pakai kopi biasa tapi ya gagal. Karena kan fermentasinya harus lama,” cerita dia.
Akhirnya, dia tercetus ide untuk menggunakan kopi jenis kopi luwak. Pilihannya tepat. Sebab kopi jenis tersebut sudah terfermentasi di hewan Luwak.
Kebetulan, kopi luwak itu pun melimpah di Kabupaten Malang. Beberapa orang tidak berani membeli kopi jenis tersebut. Alasannya adalah harganya cukup mahal, yakni Rp 150 ribu per kilogram.
“Tapi kami berani karena kopi itu sudah difermentasi di perut Luwak kan. Kami hanya hanya bantu support saja fermentasi. Akhirnya ya berhasil,” kata dia.
Kopi wine ini pun bahannya menariknya tanpa anggur. Pria tersebut hanya membutuhkan ragi dan gula serta kopi luwak itu untuk pembuatan kopi wine. Dua tahun adalah waktu Mistono untuk proses fermentasi hingga dihidangkan sebaga kopi wine.
“Dan akhirnya berhasil itu mas pas tahun 2018 saya ikut suatu acara di Jakarta dan langsung diliput oleh media itu,” tuturnya.

blok-A.com pun berkesempatan untuk mencoba kopi produk Mistono itu. Rasanya segar, masam, dan juga manis khas wine. Mistono pun menyebut kopi wine itu membuat peminumnya mendapat sensasi memabukkan. Sebab, kandungan caffeinenya hingga 40 persen.
“Alkoholnya ini 0 persen. Namun yang memabukkan ini karena caffeinenya 40 persen,” tuturnya.
Pasar Kopi Wine Mistono Sukses di Luar Negeri tapi Gagal di Dalam Negeri
Mistono pun bercerita, kopi wine-nya setelah berhasil jadi produk ini langsung dilirik oleh perusahaan minuman beralkohol dari luar negeri, yakni Jhonnie Walker. Saat 2018, produk kopi Mistono itu dibeli 100 botol.
“Langsung dibeli mas. 100 botol dibeli Jhonnie Walker. Curah belinya mereka,” kata dia.
Setelah itu, Mistono pun juga kebanjiran orderan dari luar negeri. Contohnya adalah Korea Selatan. Mistono pun atas permintaan dari pemborongnya dari negara Asia Timur itu pun juga menambah gingseng diracikan kopi wine-nya.
“Iya dicampuri gingseng karena memang request-nya. Jadi ada kopi wine dan juga gingseng,” ujarnya.
Tak hanya itu, dia juga melakukan ekspor ke Amerika. Ratusan botol dia impor sejak tahun 2018 ke negara yang dijuluki Paman Sam itu.
“Iya banyak peminatnya mas di luar negeri. Jadi ada seratus botol itu juga saya kirim ke Amerika,” ucapnya.
Nasib baik di luar negeri itu pun tak berhinggap di dalam negeri. Kopi wine buatan Mistono tidak laku di daerahnya sendiri.
Buktinya, dia bercerita, adalah tiga kafe yang sudah tutup. Kafe tersebut terletak di Kabupaten Malang. Menu andalannya itu adalah kopi wine. Alasannya adalah karena warga sekitar Kabupaten Malang tidak mampu membeli kopi wine.
“Mahal mas. Ini saja satu gelas Rp 100 ribu dan satu botol Rp 1 juta. Mana bisa ada yang beli. Akhirnya tiga kafe itu pun tutup,” tuturnya.
Akartana Sebagai Solusi
Melihat masalah Mistono, Akartana, perusahaan di bidang kopi pun menjadi solusi. Akartana merupakan perusahaan kopi sejak 1922 namun mulai aktif Kembali sejak 2020.
Direktur Akartana, Adimas Kertosastro kini sedang mencari formula agar kopi dari Mistono itu bisa dinikmati masyarakat Indonesia secara umum.
Kekinian, dia dan Mistono pun sudah menyerahkan sampling kopi wine itu untuk dianalisa kandungannya di PT. Sucofindo Analytical Laboratories.
“Ada nutrisi factnya dan 0 persen alcohol produk kopi wine itu,” tuturnya.
Adimas juga menjelaskan kini dia juga sedang mengusahakan agar kopi wine yang namanya adalah Kopi Bacem itu mempunyai label halal dari MUI.
“Selain itu juga bagaimana mendapat perizinan dari BPOM itu yang kami usahakan. Dan untuk proses pembuatannya sendiri sudah higenis,” tuturnya.
Akartana sendiri tidak hanya focus ke Mistono, ada sejumlah petani di Dampit yang akan diajari melakukan branding hasil pertanian kopinya. Tujuannya tentunya untuk meningkatkan perekonomian para petani kopi.
“Kami ajari cara memetik yang benar mungkin memberikan treatment ke kopi yang benar itu yang benar. Hingga cara packaging dan juga pemasaran akan kami bantu untuk para petani di Dampit,” tuturnya.
Salah satu contohnya adalah acara hari ini. Di acara bertajuk ‘‘Kopi Robusta Bukan Kopi Kelas Dua’, ini Akartana mengundang Expert Kopi asal Luar Negeri, Dr. Manuel Diaz untuk berbicara ke sejumlah petani lokal.
Manuel bercerita bahwa Indonesia terutama kawasan Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang ini merupakan pusat dari kopi robusta. Dia pun menyebut bahwa Indonesia adalah pusat untuk riset dunia perkopian.
“Jadi kalian harus tahu bahwa Indonesia ini pusat riset terutama robusta. Saya berharap, Akartana ini bisa melakukan pendampingan ke petani agar bisa menaikkan kelas kopi asli sini (Dampit),” ujarnya. (bob)










Balas
Lihat komentar