Bukan Bioskop, Baliho Film Jadul Milik Warkop Klodjen Djaja Ini Kampanye Prokes

Baliho Film Jadul Di Warkop Klodjen Djaja
Baliho Film Jadul Di Warkop Klodjen Djaja - Foto: Bob Bimantara

KOTA MALANG – Sebuah baliho protokol kesehatan di sudut Kota Malang, tepatnya di pojok persimpangan Jalan Cokroaminoto Kecamatan Klojen ini unik. Baliho sebesar kurang lebih 15×10 meter itu dikonsep bak papan jadwal film jaman dulu.

Terlihat dari jauh, terpampang cover film jadul seperti film Warkop DKI ‘Gengsi Doong’, film ‘Si Buta Lawan Jaka Sembung’ dan juga ‘Saor Sepuh’, lengkap pula dengan jadwal tayangnya.

Di bawah cover film tahun 80-an tersebuttertulis anjuran protokol kesehatan dengan ejaan lama, yakni mencuci tangan, menggunakan masker, dan menjaga jarak.

Apakah baliho tersebut menunjukan tempat bioskop dengan tontonan jadul?

Ternyata bukan. Baliho prokes dengan film jadul dan prokes itu berasal dari ide pemilik warung kopi Klodjen Djaja 1956, Ahmad Iswahyudi.

Warung kopi yang terletak di bawah pas baliho itu baru buka 8 hari lalu. Karena membuka warung dengan konsep retro, maka Didik memasang pula baliho jadul yang terpampang besar di atas warung kopinya.

“Jadi awalnya tempat ini punya teman saya. Bangunannya jadul memang retro begitulah. Akhirnya saya beli sepeda ontel untuk hiasan. Nah saya berpikir bagaimana ya supaya terlihat jadul lagi? Akhirnya tercetus ide untuk menggunakan baliho jadul itu,” kata Didik.

Sebelum memasang baliho dengan film jadul itu, Didik berkonsultasi ke pemilik tempat yang sekaligus temannya tersebut.

“Saya tanya bro? Apakah kosong? Ternyata kosong. Terus saya minta izin untuk memasang baliho. Syaratnya gak boleh promo. Iya saya tepatin gak ada promo jualan kopi saya. Saya cuma ingin memasang baliho dengan film jadul saja. Ternyata oke ya saya jalan,” kata orang dibalik suksesnya event kopi ‘Jazz Coffee Sunset’ itu.

Pemasangan balihonya sendiri tanpa konsep. Didik mengaku asal comot film yang dipilih dari internet. Didik lakukan sendiri semuanya. Mulai dari proses editing hingga ke tempat print baliho.

“Saya itu masang itu h-1 buka belum apa-apa bro. Cuma ada ide izin. Nah pas oke lalu saya cari di internet asal comot saja bro. Pokoknya jadul dan sesuai saya print. Akhirnya pas datang di print-printan lalu saya minta ke pegawainya satu hari bisa (langsung jadi balihonya?) Ternyata bisa dan gas jalan,” kata dia.

Tak dinyana, baliho film jadul tersebut membuat orang-orang tertarik datang ke Klodjen Djaja 1956.

“Awalnya ya lihat-lihat buat foto terus dikira di sini ada bioskop. Saya biarin saja. Akhirnya mereka tanya dan ngopi di sini,” tutur dia.

Didik pun tak perlu memberikan promo gratis bagi pengunjung untuk warung kopi barunya, sebagaimana warung kopi lainnya.

Baliho tersebut sudah berhasil mempromosikan bisnisnya dengan cara yang ia sebut sebagai cara tidak terduga.

“Ini loh cuma butuh Rp 100 sampai Rp 200 ribu. Gak perlu promo aneh-aneh. Undang sana-sini atau gelar launchig sudah ramai,” tutup pemilik yang memiliki enam warung kopi di Kota Malang itu.

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com