Kasus Keracunan & Kebakaran Gas, Gus Fawait Minta 2 Dapur SPPG Jember Ditutup

Ketua Satgas MBG, Ahmad Imam Fauzi (foto: Dok. Diskominfo Jember)
Ketua Satgas MBG, Ahmad Imam Fauzi (foto: Dok. Diskominfo Jember)

Jember, Blok-a.com — Pemkab Jember mengambil tindakan tegas kepada dua dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayahnya. Surat rekomendasi resmi dikirimkan ke Badan Gizi Nasional (BGN) di Jakarta, untuk menyetop total operasional SPPG Al Mubarok di Kaliwates dan SPPG Sumbersari 2.

Langkah itu diambil usai rentetan kejadian fatal yang diakibatkan oleh kelalaian operasional dua SPPG tersebut. Mulai dari siswa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) penerima manfaat yang diduga keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Sampai insiden dapur yang kebakaran yang diduga akibat kebocoran gas.

Tak mau tinggal diam, Bupati Jember, Gus Fawait, melalui tim satuan tugas (satgas) bentukan daerah. Langsung melakukan penyisiran dan memeriksa kelayakan dapur-dapur tersebut, hingga melaporkan temuan ke tingkat kementerian di pusat.

Ketua Satgas MBG sekaligus Pj Sekretaris Daerah Jember, Achmad Imam Fauzi, saat bertemu awak media membeberkan kondisi operasional kedua dapur tersebut kepada awak media pada Sabtu (23/5/2026) siang. Ia juga menyebut surat rekomendasi penutupan sudah diterbangkan ke pusat per tanggal 22 Mei 2026 kemarin.

“Surat rekomendasi untuk menghentikan operasional dua dapur gizi tersebut resmi dikirim kemarin, 22 Mei 2026, atas perintah langsung dari Bupati Jember, Gus Fawait. Kita tidak main-main dalam urusan ini. Hasil supervisi tim satgas di lapangan menemukan banyak sekali masalah, mulai dari dapur yang kotor, standar kelayakan masakan yang rendah, sampai masalah keselamatan kerja para pegawainya. Selain itu, laporan dari orang tua murid juga menumpuk di kanal pengaduan ‘Wadul Guse’. Jadi kami harus bergerak cepat mengamankan situasi,” kata Achmad Imam Fauzi.

Fauzi menceritakan kronologi insiden di SPPG Al Mubarok Kaliwates. Sejumlah balita dari sekolah PAUD dan TK dilaporkan mengalami gejala keracunan usai menyantap paket menu MBG dari dapur tersebut.

Lebih lanjut, saat petugas satgas melakukan sidak ke dalam dapur, mereka menemukan puluhan tabung gas elpiji ditaruh di dalam ruangan sempit yang terkunci rapat tanpa ventilasi udara. Situasi tersebut dinilai merupakan kelalaian fatal, di mana sewaktu-waktu bisa memicu terjadinya ledakan.

“Faktanya memang ada korban anak-anak yang harus dirawat, dan itu otomatis menjadi perhatian paling serius bagi pemerintah daerah. Keselamatan nyawa anak-anak penerima manfaat program ini adalah harga mati yang wajib diprioritaska,” imbuh Fauzi.

Nasib serupa tapi tak sama juga terjadi di SPPG Sumbersari 2. Beberapa waktu sebelumnya, dapur ini sempat mengalami insiden kebakaran yang dipicu oleh kebocoran pipa gas pada bagian mesin oven pengering tempat wadah makanan.

Setelah diperiksa secara menyeluruh, ternyata sistem instalasi pipa gas di dapur tersebut dipasang secara asal-asalan dan jauh dari standar keamanan. Temuan lainnya, posisi fisik bangunan dapur ternyata berada tepat di sebelah saluran irigasi primer berukuran besar. Saat musim hujan dengan curahan yang tinggi, saluran irigasi ini rawan meluap dan memicu banjir.

Gus Fawait melalui Satgas MBG menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis ini adalah program masa depan untuk mencetak generasi emas. Oleh karena itu, semua pengelola dapur wajib menjaga kebersihan dan kelayakan operasionalnya secara ketat.

Pemkab Jember juga tak akan segan-segan menindak tegas siapa pun mitra yang kedapatan nakal dan ceroboh. Namun, meski surat rekomendasi penutupan sudah dikirim, Fauzi mengingatkan warga bahwa keputusan akhir bukanlah ranahnya. Apakah kedua dapur ini akan ditutup permanen atau diganti vendor baru, keputusannya tetap berada di tangan BGN. (rio/ova)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com