Blok-a.com – Operasi militer berskala besar yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2025 merupakan gejolak geopolitik di kawasan Timur Tengah. Namun, meski terjadi ribuan kilometer dari Indonesia, ternyata konflik ini membawa ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi nasional.
Institute for Essential Services Reform (IESR) memperingatkan bahwa eskalasi ketegangan ini dapat berdampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Berikut lima dampak utama yang perlu diwaspadai:
1. Lonjakan Harga Minyak Dunia
Sejarah mencatat bahwa konflik di Timur Tengah selalu memicu perubahan harga minyak yang ekstrem. Pada Juni 2024, ketika Israel melancarkan serangan udara ke Teheran, harga minyak Brent langsung melonjak 13 persen menjadi USD78,50 per barel dalam hitungan jam.
Dengan konflik yang kini berlangsung dalam skala jauh lebih besar, analis dari Barclays memperkirakan harga minyak dapat menembus angka USD100 per barel ketika pasar dibuka kembali.
Lonjakan harga ini akan berdampak langsung pada berbagai sektor ekonomi Indonesia, terutama karena hampir 50 persen kebutuhan minyak nasional berasal dari impor.
2. Penutupan Jalur Energi, Selat Hormuz
Jalur pasokan energi Indonesia menghadapi ancaman serius akibat posisi strategis Selat Hormuz. Selat yang lebarnya hanya sekitar 21 mil laut (sekitar 34 kilometer) ini merupakan jalur vital bagi pengiriman minyak dari Timur Tengah ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
Menurut data US Energy Information Administration (EIA), sekitar 21 juta barel minyak per hari atau sekitar 21 persen dari konsumsi minyak global melewati Selat Hormuz.
Usai eskalasi konflik terbaru, muncul laporan bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz mengalami gangguan serius. Garda Revolusi Iran bahkan mengeluarkan peringatan bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melintas melalui selat tersebut.
Jika Selat Hormuz benar-benar ditutup, Indonesia yang mengimpor sebagian besar minyak dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Irak, dan Kuwait akan menghadapi krisis pasokan energi.
3. Kenaikan Harga BBM dan Inflasi Berganda
Kenaikan harga minyak global akan menciptakan efek domino terhadap perekonomian domestik. Harga bahan bakar minyak (BBM) yang meningkat akan mendorong kenaikan biaya transportasi, yang pada gilirannya akan menaikkan harga berbagai komoditas, khususnya bahan pangan.
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa Indonesia mengonsumsi sekitar 1,7 juta barel minyak per hari, sementara produksi domestik hanya mampu menyuplai sekitar 860 ribu barel per hari. Defisit produksi ini membuat Indonesia sangat rentan terhadap gejolak harga minyak global.
Inflasi yang meningkat akan menggerus daya beli masyarakat. Pengeluaran rumah tangga untuk energi dan transportasi akan membengkak, mengurangi alokasi untuk kebutuhan lain seperti pendidikan, kesehatan, dan konsumsi produktif.
4. Gangguan Rantai Pasok Global dan Biaya Logistik
Perusahaan pelayaran global seperti Hapag-Lloyd dan Maersk telah menangguhkan operasi mereka di kawasan Timur Tengah. Keputusan ini menambah tekanan pada rantai pasokan global dan biaya logistik.
Gangguan ini tidak hanya memengaruhi pasokan energi, tetapi juga distribusi berbagai komoditas dan barang impor yang menjadi kebutuhan industri dan konsumsi dalam negeri. Biaya pengiriman yang meningkat akan ditransfer kepada konsumen akhir, memperparah tekanan inflasi.
5. Dampak Langsung pada Anggaran Belanja Rumah Tangga
Bagi rumah tangga Indonesia, dampak konflik yang berlangsung ribuan kilometer jauhnya dapat dirasakan secara nyata melalui kenaikan harga kebutuhan sehari-hari dan berkurangnya kemampuan finansial untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Konflik di Iran membuktikan bahwa perang yang terjadi jauh dari Nusantara dapat memengaruhi harga-harga di pasar tradisional, ongkos transportasi harian, bahkan anggaran belanja dapur rumah tangga Indonesia.
Dari kenaikan harga cabai, beras, telur, hingga biaya transportasi, semua terkena dampak dari gejolak harga minyak global yang dipicu konflik di Timur Tengah. (mg3/ova)
Penulis: Dominikus Oktavianus Obi (Mahasiswa magang UNITRI)










Balas
Lihat komentar