Kisah Heroik Reno dari Polda Riau yang Gugur Saat Cari Korban Longsor di Sumatra

Reno, anjing pelacak (K-9) milik Polda Riau, yang gugur dalam tugas kemanusiaan di Agam, Sumbar. (foto: ist)
Reno, anjing pelacak (K-9) milik Polda Riau, yang gugur dalam tugas kemanusiaan di Agam, Sumatra Barat (foto: ist)

Blok-a.com – Reno, seekor anjing milik Polda Riau, gugur saat menjalankan tugas kemanusiaan dalam proses evakuasi korban bencana banjir di Kabupaten Agam, Sumatra Barat, pada Minggu (30/11/2025). Reno tumbang di tengah upaya pencarian yang berlangsung berhari-hari, ketika ia terus membantu menemukan jenazah korban yang tertimbun material longsor.

Reno adalah anjing pelacak berpengalaman dari Unit Polsatwa Ditsamapta Polda Riau. Ia dikirim ke Agam sebagai bagian dari Operasi Aman Nusa II, sebuah operasi besar yang dikerahkan untuk menangani bencana hidrometeorologis yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatra.

Sebagai anjing spesialis search and rescue (SAR), Reno sebelumnya telah berkali-kali terlibat dalam operasi pencarian korban musibah, sehingga kehadirannya di lokasi bencana sangat diandalkan.

Upacara pemakaman Reno digelar secara kedinasan sebagai bentuk penghormatan atas dedikasinya. Prosesi dipimpin langsung oleh Direktur Samapta Polda Riau, Kombes Syahrial M Abdi, yang turut menyampaikan duka mendalam atas kehilangan anggota K9 yang berjasa ini.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Riau, Kombes Anom Karibianto, mengatakan, “Reno gugur dalam tugas negara saat membantu operasi kemanusiaan di Kabupaten Agam. Dedikasinya patut diteladani. Kami seluruh keluarga besar Polda Riau menyampaikan rasa kehilangan yang sangat mendalam.”

Misi Reno Mencari Korban Longsor

Reno, seekor Belgian Malinois berusia 8 tahun 4 bulan. Diterjunkan ke Kabupaten Agam untuk membantu mengidentifikasi lokasi jenazah korban longsor. Agam menjadi salah satu daerah yang terdampak paling parah akibat banjir dan longsor besar yang terjadi pada akhir November, di mana banyak titik permukiman luluh lantak oleh curahan hujan dan material tanah yang turun dari perbukitan.

Bencana tersebut turut dicatat oleh BNPB sebagai salah satu bencana hidrometeorologis paling mematikan sepanjang tahun 2025. Dalam informasi terkini yang dirilis BNPB pada Kamis (4/12), jumlah korban meninggal dunia akibat rangkaian bencana itu telah mencapai 776 jiwa. Angka ini menggambarkan beratnya kondisi di lapangan dan tingginya urgensi tim SAR dalam menemukan para korban.

Reno bertolak ke Agam pada Sabtu (29/11). Setibanya di sana, ia langsung bergabung dengan tim personel Operasi Aman Nusa II untuk membantu pencarian korban. Meski sudah memasuki usia senior bagi standar anjing tugas, Reno tetap menunjukkan kemampuan dan ketangguhan yang selama ini menjadikannya salah satu K9 andalan Polda Riau.

Sejak diturunkan, Reno bekerja menelusuri area yang sulit dijangkau manusia. Medan pencarian dipenuhi lumpur tebal, bebatuan, pepohonan tumbang, hingga sisa-sisa bangunan yang terseret longsor. Tim SAR harus berhati-hati agar tidak memicu longsoran susulan, sementara Reno memanfaatkan ketajaman penciumannya untuk menemukan tanda-tanda keberadaan jenazah.

Pada Minggu sekitar pukul 11.00 WIB, Reno kembali menjalankan pencarian di titik yang sebelumnya dilaporkan berpotensi menjadi lokasi korban tertimbun. Tim menyebut proses pencarian tersebut berlangsung intens karena medan semakin berat, ditambah waktu yang kian mendesak untuk menemukan para korban.

Namun sekitar satu setengah jam kemudian, Reno mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan kondisi. Tubuhnya melemah, pernapasannya semakin berat, hingga akhirnya ia tumbang di tempat. Situasi ini langsung membuat anggota kepolisian yang mendampinginya panik dan segera membawa Reno ke klinik hewan terdekat untuk mendapat pertolongan.

Sayangnya, meskipun sudah menjalani perawatan darurat, Reno tidak berhasil diselamatkan. Dokter menyatakan bahwa Reno telah meninggal saat tiba di klinik. Kabar gugurnya Reno kemudian menyebar cepat dan memicu rasa duka di kalangan petugas dan publik.

Respons Publik dan Sorotan terhadap Jam Kerja K9

Kepergian Reno menyentuh hati banyak orang, termasuk komunitas pecinta hewan yang menilai kontribusi anjing pelacak dalam operasi kemanusiaan sering kali kurang diperhatikan. Melalui akun Instagram @animalstoriesindonesia, mereka mengapresiasi pengabdian Reno sekaligus menyoroti pentingnya pengaturan jam kerja anjing pelacak.

Dalam unggahan tersebut, mereka menulis, “Total kerja dalam satu hari tidak boleh lebih dari 4 jam. Operasi 24 jam harus dengan rotasi K9, bukan memaksa satu anjing terus bekerja,” sambil mengingatkan bahwa “K9 bukan mesin, mereka hidup, bernapas, dan punya batas fisik.”

Curahan tersebut disambut banyak komentar dari warganet yang turut merasa kehilangan. Banyak yang menganggap Reno sebagai simbol keberanian sekaligus menjadi pengingat bahwa hewan juga memiliki batas kemampuan yang harus dihargai dalam operasi kemanusiaan. (mg1/gni)

Penulis: Rosa Dwi Eliyah (Mahasiswa Magang UTM Bangkalan)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com