Kota Malang, blok-a.com – Bermula dari keterpaksaan, Muhamad Fasha Fais Fadillah kini berdiri gagah di podium juara sebagai peraih medali emas cabang olahraga (Cabor) taekwondo Porprov IX Jawa Timur (Jatim) 2025. Atlet asal Kota Malang ini tampil impresif di kategori Kyorugi Senior M+87 dan mengharumkan nama daerah.
Fasha, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya mengisahkan awal mula dirinya terjun ke dunia taekwondo. Bukan karena keinginan sendiri, tetapi karena orang tua yang mendaftarkannya.
“Waktu itu saya masih kelas 1 SD, tahun 2010. Saya ingin ikut ekstrakurikuler futsal, tapi orang tua malah mendaftarkan saya ke taekwondo. Terpaksa ikut karena memang dipaksa,” kenangnya, Kamis (26/6/2025).
Namun, paksaan itu lambat laun berubah menjadi kecintaan. Semangatnya tumbuh sejak meraih perak dalam kejuaraan pertamanya. Sejak saat itu, Fasha mulai menekuni taekwondo dengan sepenuh hati.
“Waktu itu saya masuk final dan dapat perak. Meskipun belum emas, itu memacu saya untuk lebih serius,” ujarnya.
Latihan intens dilakukan dua kali sehari, pagi dan sore. Fasha mengaku harus bangun pukul 04.00 WIB untuk salat subuh dan bersiap latihan pukul 05.00 hingga 07.00 WIB. Sore harinya, ia kembali berlatih dari pukul 15.30 hingga 18.00 WIB.
“Latihannya berat, menuntut stamina, teknik, dan mental. Tapi itu semua terbayar ketika saya bisa mewakili Kota Malang di Porprov,” jelasnya.
Fasha mencatatkan kemenangan mutlak di setiap laga, termasuk mengalahkan lawan-lawannya dari Kabupaten Malang, Surabaya, hingga Sidoarjo, semuanya dalam dua ronde langsung.
Menurutnya, kebersamaan tim dan kedisiplinan yang ditanamkan pelatih jadi kunci keberhasilannya. Namun, musuh terbesar tetaplah diri sendiri.
“Emosi dan ego itu musuh utama. Kalau nggak bisa mengontrol, kita bisa kalah dari diri sendiri,” ungkap atlet berusia 21 tahun itu.
Meski sibuk sebagai atlet, Fasha tetap menomorsatukan pendidikan. Menjaga keseimbangan antara kuliah dan latihan bukan perkara mudah, namun ia tetap berusaha konsisten.
“Ada jadwal kuliah, ada jadwal latihan. Kadang capek, tapi ini jalan yang saya pilih,” tegasnya.
Fasha juga tak lupa menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung perjuangannya. Ia menyebut dukungan keluarga, pelatih, tim, hingga Pemkot Malang sebagai sumber kekuatannya.
“Saya berterima kasih ke semuanya. Medali ini bukan hanya untuk saya, tapi hasil kerja keras kolektif,” tuturnya.
Tak ingin berhenti di Porprov, Fasha kini menargetkan bisa kembali masuk Puslatda Jawa Timur dan melangkah ke level nasional bahkan internasional.
“InsyaAllah saya ingin membawa nama Jawa Timur ke tingkat yang lebih tinggi. Mohon doa agar proses ini bisa saya jalani dengan lancar,” pungkasnya penuh harap.
Kisah Fasha menjadi bukti bahwa konsistensi, dedikasi, dan dukungan yang tepat dapat mengubah keterpaksaan menjadi prestasi luar biasa. (yog)









