Malang, Blok-a.com – Nama Hermanto Tanoko bukanlah nama asing di dunia bisnis Indonesia. Ia dikenal sebagai salah satu konglomerat sukses Tanah Air, dengan sederet perusahaan lintas sektor yang menjadi sumber kekayaannya. Menurut data Real Time Billionaires Forbes per 21 Mei 2025, kekayaan bersih Hermanto Tanoko mencapai US$2,1 miliar atau sekitar Rp32,9 triliun.
Belakangan, sosok Hermanto kembali menjadi perbincangan hangat, khususnya di kalangan warga Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Hal ini tak lepas dari proyek pembangunan apartemen dan hotel bintang lima yang diusung oleh Tanrise Property, salah satu lini bisnis properti miliknya.
Proyek yang mencakup pembangunan Vasa Hotel dan Apartemen ini menuai polemik. Sejumlah pihak menuding adanya pelanggaran prosedur perizinan, aktivitas konstruksi yang dilakukan secara diam-diam, hingga dugaan gratifikasi kepada pejabat terkait.
Namun, pihak manajemen Tanrise Property telah membantah seluruh tuduhan tersebut. Mereka menyatakan bahwa proses perizinan dilakukan sesuai regulasi dan menyampaikan komitmen untuk membuka ruang dialog serta menerima masukan konstruktif demi kemajuan bersama.
Latar Belakang Hermanto Tanoko
Hermanto Tanoko lahir di Malang pada September 1962. Ia adalah anak bungsu dari pasangan Soetikno Tanoko dan Soeryani. Masa kecilnya tidak mudah—keluarganya hidup dalam keterbatasan dan menghadapi tekanan sosial-politik, termasuk diskriminasi terhadap warga keturunan Tionghoa yang sempat marak di era 1960-an. Keluarga Tanoko bahkan sempat tidur di emperan toko dan vihara karena harus terus berpindah-pindah tempat tinggal.
Namun, ketekunan dan kerja keras orang tuanya membuahkan hasil. Pada tahun 1962, Soetikno mendirikan toko cat kecil di Malang, yang kemudian menjadi cikal bakal bisnis keluarga. Dua tahun kemudian, sang istri membuka toko kelontong untuk menopang ekonomi rumah tangga.
Sejak usia lima tahun, Hermanto sudah diajarkan untuk memahami nilai uang dan dagang. Ia menggunakan uang angpau Imlek untuk membeli barang-barang yang harganya diprediksi naik, seperti telur dan tepung. Ketika beranjak usia 10 tahun, ia mulai membantu menjaga toko cat milik ayahnya.
Pada 1976, ayahnya membeli sebuah apotek yang letaknya tak jauh dari rumah. Hermanto pun dipercaya untuk mengelolanya. Ia mulai bereksperimen dengan strategi dagang: menawarkan harga terjangkau dan layanan antar obat gratis—terobosan yang cukup langka pada masa itu.
Perjalanan Bisnis Hermanto Tanoko
Di usia 19 tahun, Hermanto menikah dengan Sanderawati Joesoef. Mereka dikaruniai empat orang anak, di antaranya Belinda Natalia Tanoko, Melisa Patricia Tanoko, Robert Christian Tanoko, dan Caroline Novilia Tanoko. Keempatnya kini juga aktif dalam pengelolaan berbagai lini bisnis keluarga.
Seiring berjalannya waktu, bisnis keluarga berkembang pesat. Pabrik cat yang dahulu hanya memiliki 18 karyawan, kini tumbuh menjadi PT Avia Avian—produsen cat yang sangat dikenal masyarakat Indonesia lewat merek-merek seperti Avian dan Avitex.
Tak berhenti di sana, Hermanto mendirikan dan memimpin Tancorp Abadi Nusantara (Tancorp), sebuah perusahaan holding berskala nasional. Di bawah kepemimpinannya, Tancorp kini menaungi lebih dari 150 merek aktif, dikelola oleh 51 unit bisnis, dan didukung oleh lebih dari 30.000 karyawan.
Tancorp bergerak di berbagai sektor, termasuk industri, distribusi, properti, perhotelan, makanan dan minuman, kesehatan dan kecantikan, jaringan bisnis, hingga kafe dan restoran.
Salah satu anak perusahaan yang cukup menonjol adalah PT Sariguna Primatirta Tbk, produsen air minum dalam kemasan merek Cleo. Pada tahun 2022, Cleo mencatatkan penjualan sebesar Rp1,36 triliun—naik 23,1% dibanding tahun sebelumnya.
Selain Cleo dan Avian, beberapa merek ternama lainnya yang berada di bawah naungan Tancorp antara lain No Drop (produk pelapis anti-bocor), Tanrise Property (pengembang properti dan residensial), serta jaringan hotel bintang lima Vasa Hotel. (mg1/gni)









