Blok-a.com – Ulama terkemuka dari Narukan, Kragan, Rembang, KH Bahauddin Nur Salim, mengajak umat Islam untuk menemukan kebahagiaan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Dalam video YouTube yang diunggah akun NU Channel, Gus Baha, sapaan akrabnya, menyampaikan pesan penting ini dengan mengutip Al-Qur’an.
Menurutnya, senang merupakan bagian integral dari ajaran Islam, sebagaimana yang tertulis dalam surat Yunus ayat 58.
Ayat tersebut bila diterjemahkan berisi: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58).
“Saya minta, jadi orang Islam itu yang senang. Karena senang itu yang menjadikan Anda pantas bertemu Allah SWT,” kata Gus Baha.
Dia menjelaskan bahwa kesenangan seharusnya berasal dari hal-hal yang halal dan sesuai dengan ajaran agama, bukan dari perbuatan yang melanggar aturan.
Gus Baha juga menegaskan bahwa baik orang yang memiliki nasab ulama maupun yang tidak, memiliki hak yang sama untuk menikmati kebahagiaan dalam menjalani ajaran Islam.
“Orang bisa senang dengan maksiat, dengan hal-hal yang tidak halal. Terus dengan perkara halal tidak bisa senang, itu masalah,” tambahnya.
Gus Baha juga memberikan argumen ilmiah tentang pentingnya memiliki leluhur yang saleh, yang bisa membawa keberkahan bagi keturunannya.
Selama ceramahnya, suasana terisi oleh gelak tawa jamaah, menanggapi argumen yang disampaikan dengan cara yang santai dan cerdas.
“Saleh banget rugi, karena leluhurnya saleh kok ikut saleh,” ungkapnya, disambut derai tawa jamaah.
Dalam argumennya, Gus Baha menekankan bahwa orang saleh memiliki keistimewaan di surga, dan keturunannya akan mendapatkan manfaat dari kebaikan leluhurnya.
Bahkan, cucu-cucunya yang tidak saleh dapat diikutsertakan dalam kebaikan tersebut di surga. Ini disampaikan dengan humor, menggambarkan dialog antara mbah dan cucunya di hadapan Allah.
“Jadi kalau cucu-cucu orang saleh kok ikutan saleh banget ya rugi, tidak memanfaatkan fasilitas tadi, penyertaan tadi,” katanya sambil tertawa.
Gus Baha juga menyinggung tentang keuntungan bagi orang yang tidak memiliki leluhur yang alim. Dia mengisahkan sebuah cerita dari kitab-kitab tentang kebahagiaan orang yang tidak memiliki leluhur yang saleh.
Melalui ceramahnya, Gus Baha menyimpulkan bahwa baik orang yang memiliki nasab atau tidak memiliki nasab, sama-sama memiliki keuntungan dan kebahagiaannya masing-masing dalam ajaran Islam.(art/lio)









