Balada Kampoeng Heritage Kajoetangan yang ‘Tersisihkan’

Omah barang antik di Kampoeng Heritage Kajoetangan sepi pengunjung, Selasa (10/1/2023).
Omah barang antik di Kampoeng Heritage Kajoetangan sepi pengunjung, Selasa (10/1/2023).

Kota Malang, blok-a.com — Pembangunan koridor Kayutangan Heritage rupanya tak membawa dampak positif pada masyarakat Kampoeng Heritage Kajoetangan.

Mila, ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kayutangan, mengatakan bahwa saat awal pembangunan koridor Kayutangan, Pemerintah Kota Malang tidak memberikan sosialisasi pada warga sekitar.

“Awal pembangunan koridor itu pemerintah nggak ada sosialisasi sama sekali ke kami,” ujar Mila pada wartawan blok-a.com.

Mila mengaku bahwa mereka hanya mengetahui bahwa ada pembangunan infrastruktur di kampung, seperti kursi, lampu, hydrant, dan jalan.

Namun, untuk bagian koridor, mereka tidak pernah diberi sosialisasi atau pemberitahuan sama sekali.

“Kami cuman tau ada pembangunan infrastruktur di kampung kami, tapi kalau di koridor kita ngga pernah tau mau diapakan,” jelasnya.

Hal-hal seperti penebangan tanaman, pembangunan tiang, lampu dan lain sebagainya mereka tidak pernah diikut campurkan.

Pembangunan koridor Kayutangan ternyata memberikan efek kedatangan massa hanya berhenti di koridor saja, tidak sampai masuk ke dalam kampung.

“Efek dari itu (pembangunan koridor Kayutangan), mungkin karena orang berpikir adanya spot baru di Malang yang belum pernah punya hal hal semacam itu dan lokasinya ada di poros jalan jadi rame. Pas dibuka jadi membludak di bagian depan saja,” ujar Mila.

Dampak yang dirasakan selain pengurangan pendatang dalam Kampoeng Heritage Kajoetangan adalah persaingan nama.

Kalah Populer

Perlu diketahui, pengunjung Kampoeng Heritage Kajoetangan pada tahun 2018-2020 mencapai 5.000 pengunjung per bulan. Sedangkan, saat ini pengunjung yang datang hanya mencapai 500-800.

Mila juga mengeluhkan karena masyarakat lebih mengenal Kayutangan Heritage hanya di bagian koridor saja. Mereka tidak mengetahui adanya Kampoeng Heritage Kajoetangan yang lebih dahulu berdiri.

“Semua menyebut dengan Heritage Kayutangan padahal kampung kita memberi nama Kampoeng Heritage Kajoetangan itu ada prosesnya. Nggak yang asal asalan Kayutangan dulu heritage dulu pake ejaan lama atau ejaan baru,” terang Mila pada wartawan blok-a.com saat ditemui di Balai RW 09 Kayutangan.

Saat ini, Mila mengaku bahwa saingan mereka saat ini bukanlah kampung tematik lain, namun wilayah kampung mereka sendiri.

“Baru di bulan Juni 2022 kemarin kita berani buat buka, tapi malah kalah ramai sama koridor. Jadi saingan kita bukan kampung tematik lain malah saingan sama diri sendiri,” pungkasnya.

Mila mengharapkan adanya sesi hearing dari para Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk menyamakan goal masing-masing, baik dari Pemkot maupun dari warga.

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com