Berkunjung ke Surabaya Hanya Semalam, Wajib Datang ke Jalan Tunjungan

Suasana malam pergantian tahun di Jalan Tunjungan Surabaya. (Antara-Rizal Hanafi)
Suasana malam pergantian tahun di Jalan Tunjungan Surabaya. (Antara-Rizal Hanafi)

Blok-a.com – Surabaya memang dikenal sebagai kota industri yang sibuk. Namun di balik deretan gedung modern yang menjulang tinggi, tersimpan satu kawasan yang menyimpan jejak sejarah panjang sekaligus wajah klasik kota, yakni Jalan Tunjungan. Kawasan ini menjadi salah satu lokasi untuk melihat wajah autentik kota pahlawan.

Jalan Tunjungan telah menjadi poros perdagangan utama sejak awal abad ke-20. Dahulu jalan ini bernama Petoenjoengan dan berperan sebagai penghubung vital antara Kota Lama di utara dengan Kota Baru di selatan. Dari sinilah Surabaya berkembang pesat menjadi pusat bisnis dan gaya hidup pada masanya.

Pesona Arsitektur Kolonial yang Bersejarah dan Fotogenik

Kawasan ini menjadi saksi perkembangan Surabaya dari masa kolonial hingga era modern. Bangunan-bangunan bersejarah masih berdiri kokoh di sepanjang jalan. Salah satunya kini Hotel Majapahit yang dibangun pada 1 Juni 1910, awalnya bernama Hotel Oranje atau Hotel Yamato pada zaman Jepang. Beralamat di Jalan Tunjungan 65, hotel ini didirikan oleh Lucas Martin Sarkies bersaudara yang berkebangsaan Armenia.

Hotel Majapahit identik dengan kisah heroik arek-arek Suroboyo saat merobek bendera Belanda pada 19 September 1945. Peristiwa yang dikenal sebagai Insiden Hotel Yamato ini menjadi salah satu pemicu berkobarnya perlawanan rakyat Surabaya, yang kemudian melahirkan momentum bersejarah 10 November sebagai Hari Pahlawan.

Tak jauh dari Hotel Majapahit, ada Gedung Siola yang masih juga berdiri kokoh. Gedung ini pernah dikenal sebagai pusat perbelanjaan modern Whiteaway Laidlaw pada tahun 1920-an, destinasi belanja bagi kalangan elite pada masanya.

Seiring berjalannya waktu, Siola mengalami berbagai perubahan fungsi hingga akhirnya diubah menjadi Museum Surabaya. Kini gedung bersejarah ini menyimpan arsip dan benda-benda bersejarah yang menceritakan perjalanan panjang kota Surabaya dari masa ke masa.

Di Jalan Tunjungan fasad bergaya kolonial berjejer rapi di sepanjang jalan, berpadu harmonis dengan sentuhan modern kota besar. Beberapa bangunan merupakan karya arsitek Belanda bergaya modern tropis, membuat kawasan ini tampil unik sekaligus fotogenik.

Romansa Malam Hari & Destinasi Kuliner

Di malam hari, suasana Tunjungan terasa semakin romantis dan magis. Lampu jalan dengan desain klasik menerangi sepanjang koridor sejarah, sementara mural-mural artistik menghiasi dinding gedung-gedung tua.

Sejak November 2021, Jalan Tunjungan semakin hidup dengan program “Tunjungan Romansa” yang diluncurkan oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.

“Tunjungan hari ini harus dihidupkan kembali, jadi siapapun yang belum datang ke kawasan Tunjungan berarti dia belum pernah datang ke Surabaya”, kata Eri Cahyadi dalam sambutan peluncuran program tersebut.

Program ini berhasil mengubah kawasan menjadi ruang publik yang ramah pejalan kaki dengan konsep lifestyle, modern, dan heritage. Jalan Tunjungan tidak hanya menawarkan nilai sejarah, tetapi juga menjadi surga kuliner. Dengan deretan tempat makan hits yang cocok untuk nongkrong dan makan enak. Kawasan ini memadukan cita rasa tradisional khas Surabaya dengan konsep kuliner modern yang Instagram-worthy.

Beberapa spot kuliner favorit di kawasan ini antara lain Kokoro Kubari yang menyajikan hidangan Jepang autentik dengan menu andalan Curry Tori Katsu, Ladeed Deli dengan konsep fusion Mexico yang unik, serta Chacha Burgo yang berlokasi strategis di Jl. Tunjungan No. 78. Tidak ketinggalan, para pencinta kopi dapat menikmati suasana coffee shop kekinian dengan nuansa unik yang tersebar di sepanjang jalan ini, contohnya Toko Kopi Padma.

Bagi yang ingin merasakan cita rasa lokal, pedagang kaki lima yang beroperasi saat program Tunjungan Romansa menawarkan kuliner khas Surabaya seperti lontong balap, soto, rawon, rujak cingur, dan tahu campur. Perpaduan antara kuliner modern dan tradisional ini menjadikan Jalan Tunjungan sebagai destinasi wisata kuliner yang lengkap dan memuaskan. (mg1/gni)

Penulis: Rosa Dwi Eliyah (Mahasiswi Magang UTM Bangkalan)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com