Malang Bumi Hangus, Sejarah yang Hampir Terlupakan

Balai kota Malang setelah dilakukan pembakaran (Sumber: nationaalarchief.nl)
Balai kota Malang setelah dilakukan pembakaran (Sumber: nationaalarchief.nl)

Malang Kota, blok-a.com – Mungkin Kebanyakan dari Anda hanya tahu tentang Bandung Lautan Api, di mana bangunan yang ada di Bandung dibakar habis oleh para pejuang agar tidak digunakan penjajah. Begitu juga di Malang tahun 1947, para pejuang membakar bangunan yang berpotensi digunakan oleh para penjajah.

Tindakan ini dilakukan oleh para pejuang di Kota Malang seperti TNI hingga rakyat malang, yang tidak ingin Kota Malang dikuasai oleh pihak militer Belanda. Mereka bersatu untuk menciptakan kekuatan yang lebih besar.

Penyebab Peperangan Terjadi

Dimulai dari Agresi Militer Belanda I, yang dikenal sebagai Clash Pertama pada 21 Juli 1947. Terjadi sebagai akibat dari pembatalan sepihak oleh Belanda terhadap Perjanjian Linggarjati. 

Tujuan utama dari Agresi Militer Belanda I adalah untuk menguasai wilayah perkebunan yang kaya sumber daya alam di Jawa dan Sumatera. Agresi ini dimulai tak lama setelah pengumuman oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu. 

Van Mook, pada tanggal 20 Juli 1947, yang menyatakan bahwa Belanda tidak lagi terikat pada Perjanjian Linggarjati. Dalam waktu kurang dari 24 jam setelah pengumuman tersebut, Belanda memulai Agresi Militer pertamanya.

Namun, dari perspektif Indonesia, Agresi Militer ini jelas melanggar hasil perjanjian yang dicapai dalam Perjanjian Linggarjati. Perundingan ini berlangsung pada November 1946 di Linggarjati, Cirebon, dengan perwakilan Belanda yang dipimpin langsung oleh Van Mook dan Lord Killean dari Inggris sebagai penengah.

Pihak Republik diwakili oleh Sutan Syahrir, Moh. Roem, dan A.K Gani. Hasil perundingan tersebut mencapai beberapa kesepakatan, seperti pengakuan de facto, wilayah Republik Indonesia yang meliputi Jawa, Sumatera, dan Madura oleh Belanda.

Penarikan pasukan Belanda akan dilaksanakan paling lambat pada 1 Januari 1949. Selain itu, disepakati pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS) dan keterlibatan Indonesia dalam persemakmuran atau Uni Indo-Belanda.

Pembatalan sepihak oleh Belanda terhadap perjanjian ini menyulut Agresi Militer Belanda I, yang juga mempengaruhi wilayah Malang dan sekitarnya. Setelah Surabaya jatuh ke tangan pasukan Sekutu pada akhir tahun 1945, pasukan Republik mundur ke wilayah seperti Sidoarjo, Pasuruan, Mojokerto, Malang, dan wilayah sekitarnya. 

Mempertahankan Malang 

Malang kemudian menjadi basis pertahanan pasukan TNI dan Republik dari tahun 1946 hingga 1947. Bahkan pada tahun 1947, Kota Malang menjadi tuan rumah sidang KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat), menunjukkan bahwa wilayah tersebut saat itu relatif aman dari ancaman militer Belanda.

Namun, pada 21 Juli 1947, situasinya berubah secara drastis. Belanda melancarkan Agresi Militer pertamanya dengan memasuki wilayah Lawang, Malang, dan melakukan serangan. Pasukan TNI di Malang dengan cepat menghadapi pasukan Belanda, berusaha menghentikan kemajuan mereka. 

Untuk menghadapi kemungkinan penaklukan Kota Malang oleh Belanda, dipilih strategi “bumi hangus.” Ini adalah strategi yang melibatkan penghancuran bangunan dan infrastruktur kota untuk mencegah pasukan Belanda memanfaatkannya. 

Dari tanggal 31 Juni 1947, gedung-gedung di Kota Malang mulai dibakar, termasuk gedung-gedung penting seperti di Kayutangan, Balai Kota, Penjara Lowokwaru, dan lainnya. Jaringan telepon dan pasokan air bersih juga diputus untuk menghambat pasukan Belanda. 

Ini dikenal sebagai “Malang Bumi Hangus” dan merupakan inisiatif dari pihak pejuang dan pemerintah setempat. Dengan harapan dapat mempertahankan Kota Malang dari genggaman pihak belanda.

Setelah strategi “bumi hangus,” perjuangan Republik dilanjutkan dengan gerilya di wilayah Malang Selatan dan Lumajang. Walaupun pasukan Belanda mencoba merekrut warga yang tinggal di dalam kota untuk kerjasama, banyak warga lebih memilih bergabung dengan gerilyawan di luar kota. Ini membuat Belanda mendirikan pos penjagaan di batas kota.

Pertahanan di Malang kemudian dipimpin oleh Gerakan Rakyat Kota (GRK), yang merupakan kolaborasi berbagai kelompok perjuangan di wilayah Malang. Kapten Soemitro memainkan peran penting dalam Serangan Umum untuk mempertahankan Kota Malang, yang terjadi pada Januari dan Maret 1949. 

Meskipun pejuang pertahanan di Malang hanya berhasil mempertahankan Kota Malang dalam waktu singkat. Serangan Umum tersebut menunjukkan bahwa rakyat Malang bersatu dan turut serta aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.(mg4)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com