Jawa Timur, blok-a.com – Persebaran agama Islam di Jawa Timur khususnya, tidak lepas dari peran Wali Songo yang mendedikasikan hidupnya untuk membawa syiar Islam. Wisata ke makam para wali adalah destinasi spiritual yang penuh makna.
Melalui kunjungan ke makam-makam ini, pengunjung dapat belajar lebih banyak tentang sejarah Islam di Jawa Timur dan menghormati para Wali yang telah berperan penting dalam menyebarkan agama dan nilai-nilai toleransi di Nusantara.
Dari total 9 Wali yang terkenal di Indonesia, ada 5 Wali yang makamnya berlokasi di Jawa Timur. Berikut penjabarannya;
1. Sunan Malik Ibrahim
Mengunjungi makam Sunan Malik Ibrahim berada di Desa Gapura, Sukolilo, yang berdekatan dengan alun-alun kota dan masjid jami’ Gresik. Sunan yang bernama lengkap Maulana Malik Ibrahim, adalah salah satu tokoh utama dari Wali Songo.
Beliau dianggap sebagai wali pertama yang membuka jalan penyebaran Islam di Jawa. Beliau adalah anak dari ulama besar bernama Barakat Zainul Alam asal Maghrib atau Maroko. Itu sebabnya dikenal juga dengan nama Malik Maghribi, yang merujuk pada tempat asal ayahnya.
2. Sunan Ampel
Makam Sunan Ampel terletak di kompleks masjid Ampel, jalan Ampel, Petukangan I, Semampir, Surabaya. Lokasinya yang berada di pusat kota dan salah satu pusat perdagangan di Surabaya membuatnya mudah ditemukan.
Nama asli Sunan Ampel adalah Raden Mohammad Ali Rahmatullah atau Raden Rahmat. Beliau lahir pada tahun 1401 di daerah Champa, Vietnam. Beliau menyebarkan syiar Islam di tanah Jawa dan menjadi pemimpin Wali 9 menggantikan Sunan Gresik yang telah wafat.
Sunan Ampel merupakan putra dari Sunan Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik, yang merupakan wali pertama yang menyebarkan ajaran Islam di Jawa. Memiliki nama asli Ahmad Rahmatillah, Beliau lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ampel.
Sebutannya ini berhubungan dengan selama hidupnya, Sunan Ampel melakukan dakwah di daerah Ampel. Daerah yang sama dimana beliau kemudian dimakamkan.
Salah satu ajarannya yang terkenal adalah falsafah “Moh Limo,” yang mengajarkan untuk menjauhi lima perbuatan tercela. Yaitu moh main (tidak berjudi), moh ngombe (tidak mabuk), moh maling (tidak mencuri), moh madat (tidak mengisap candu atau obat-obatan), dan moh madon (tidak melakukan zina)
3. Sunan Giri
Makam Sunan Giri adalah satu-satunya makam Wali Songo di Jawa Timur yang terletak di ketinggian, jadi siapkan kaki Anda untuk menaiki anak tangga yang cukup tinggi. Namun untuk Anda yang tidak ingin menaiki tangga bisa naik Ojek untuk langsung naik ke atas.
Wali Allah ini, yang merupakan putra Maulana Ishak, dimakamkan di dalam kompleks Kerajaan Astana Giri Kedaton, Kebomas, Gresik, dengan ketinggian 120 meter di atas permukaan laut.
Sunan Giri pernah belajar di Pesantren Ampel Denta dan melakukan perjalanan haji bersama Sunan Bonang. Saat itu, Sunan Giri mendirikan pesantren di daerah Giri.
Selain menjadi seorang dakwah ajaran Islam, yang asli bernama Raden Paku Muhammad Ainul Yaqin ini juga dikenal sebagai seorang ahli tata negara.
4. Sunan Drajat
Makam utama Sunan Drajat terletak di cungkup yang dindingnya di ukir dengan relief. Di sekitar kompleks makamnya, ada Museum Sunan Drajat yang memamerkan gamelan kuno dan berbagai alat musik tradisional yang digunakan dalam dakwahnya.
Lokasi makam Sunan Drajat adalah di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Sunan Drajat menyebarkan agama Islam di Lamongan dan sangat peduli terhadap masalah sosial. Beliau dikenal dengan banyak nama seperti Sunan Mahmud, Sunan Mayang Madu, Sunan Muryapada, Raden Imam, dan Maulana Hasyim.
Pada tahun 1484, Beliau juga dikenal sebagai Sunan Maya Madu, sebuah gelar yang diberikan oleh Raden Patah, penguasa Demak.
5. Sunan Bonang
Wali berikutnya adalah Sunan Bonang, yang nama aslinya adalah Syekh Maulana Makdum Ibrahim. Sunan Bonang adalah putra dari Sunan Ampel dan Dewi Condrowati atau Nyai Ageng Manila. Makam Sunan Bonang terletak di Jalan KH Mustain, Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban.
Saat memasuki kompleks pemakaman, Anda akan menemukan tiga gapura bergaya Hindu-Budha. Ini karena wilayah tersebut sebelumnya sangat dipengaruhi oleh ajaran Hindu-Budha.
Sunan Bonang menyebarkan ajaran Islam dengan cara yang sesuai dengan budaya masyarakat Jawa, termasuk melalui seni wayang dan musik gamelan.
Beliau menciptakan gending-gending dengan unsur keislaman, dan setiap bait lagu yang diciptakan diselingi dengan ucapan dua kalimat syahadat, sehingga musik gamelan yang mengiringinya dikenal sebagai sekaten.(mg4)










Balas
Lihat komentar