Blok-a.com – Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di Selat Bali pada Rabu (2/7) malam telah menewaskan sedikitnya 4 orang, sementara 38 penumpang lainnya masih dalam pencarian tim SAR gabungan.
Berdasarkan data terbaru per Kamis (3/7/2025) pukul 09:17 WIB, dari total 65 orang yang berada di kapal. 27 Orang telah ditemukan dengan rincian 23 selamat dan 4 meninggal dunia. Sebanyak 38 orang lainnya masih dalam status pencarian.
Kronologi Tragedi KMP Tunu Pratama Jaya Tenggelam
Kapal feri milik PT Pasca Dana Sundari ini berangkat dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, menuju Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali pada pukul 22:56 WIB. Namun perjalanan yang seharusnya memakan waktu sekitar 45 menit itu berubah menjadi tragedi.
Sekitar pukul 23:17 WIB, kapal mengirimkan sinyal darurat melalui radio. Hanya 18 menit kemudian, pada pukul 23:35 WIB, kapal dilaporkan tenggelam setelah mengalami serangkaian masalah teknis.
Berdasarkan laporan yang diterima operator pelabuhan, kapal mengalami kebocoran di ruang mesin, kemudian blackout total, dan akhirnya terbalik sebelum tenggelam.
Menurut kesaksian penumpang yang selamat, mesin kapal tiba-tiba mati, lampu padam kemudian menyala sebentar. Kemudian, kapal miring dan tenggelam dengan cepat.
Kondisi Korban dan Evakuasi
Empat korban selamat pertama ditemukan pada pukul 05:15 WITA di Perairan Cekik, Gilimanuk. Mereka adalah Saroji (47), Mansur (40), Romi Alga Hidayat, dan Sandi (44), yang berhasil menyelamatkan diri menggunakan sekoci.
Sebanyak 18 korban lainnya ditemukan di pesisir Pantai Pebuahan, Desa Banyubiru, Jembrana, pada pukul 06:00 WITA, 14 orang selamat dan 4 orang meninggal dunia.
Korban selamat dievakuasi ke Pelabuhan Gilimanuk, sementara yang memerlukan perawatan medis dibawa ke Puskesmas Banyubiru. Jenazah korban meninggal dievakuasi ke RSU Negara untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Spesifikasi Kapal KMP Tunu Pratama Jaya dan Muatannya
KMP Tunu Pratama Jaya adalah kapal feri jenis Roll-on/Roll-off (Roro) dengan Gross Tonnage (GT) 734 yang diproduksi pada tahun 2010. Kapal ini rutin beroperasi di jalur Ketapang-Gilimanuk, menghubungkan Pulau Jawa dan Bali.

Saat tenggelam, kapal mengangkut 53 penumpang dan 12 kru, serta 22 kendaraan termasuk 8 truk tronton golongan tujuh yang mengangkut barang logistik.
Dugaan Penyebab dan Faktor Cuaca
Dugaan awal penyebab tenggelamnya kapal adalah kebocoran di ruang mesin yang menyebabkan kapal kehilangan daya dan stabilitas. Faktor cuaca buruk juga diduga berkontribusi pada tragedi ini, dengan tinggi ombak di Selat Bali mencapai 1,7 hingga 2,5 meter.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut cuaca buruk sebagai penyebab utama, meskipun penyelidikan resmi masih berlangsung untuk memastikan penyebab pasti kejadian ini.
Operasi Pencarian dan Penyelamatan
Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, dan Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) telah dikerahkan sejak pukul 00:18 WIB pada 3 Juli 2025.
Operasi pencarian menggunakan berbagai kapal, termasuk kapal RIB dari Pos SAR Banyuwangi dan Jembrana, serta Kapal Negara (KN) SAR 2249 Permadi dari Surabaya. Kapal SAR Arjuna dari Denpasar juga direncanakan untuk membantu operasi.
Polda Jawa Timur turut mengerahkan kapal patroli dari Direktorat Polairud untuk mempercepat pencarian korban yang masih hilang.
Namun, operasi pencarian menghadapi tantangan berat akibat kondisi cuaca buruk dengan ombak tinggi dan kondisi gelap pada malam hari.
Disorot Media Internasional
Tragedi ini telah menarik perhatian media internasional, termasuk The Guardian dan The Straits Times, yang menyoroti jumlah korban dan potensi kelalaian keselamatan pelayaran di Indonesia.
Hingga saat ini, belum ada kejelasan apakah seluruh penumpang terdaftar resmi di manifes, mengingat sering kali jumlah penumpang aktual berbeda dari data manifes di pelayaran Indonesia.
Pun juga belum ada rilis resmi mengenai identitas nomor lambung kapal. PT Pasca Dana Sundari mengoperasikan beberapa kapal dengan nama serupa, seperti KMP Tunu Pratama Jaya 3888 dan 5888. Dalam tragedi kali ini, kedua kapal tersebut turut membantu dalam operasi pencarian.
Sementara itu, Tim SAR terus melakukan pencarian intensif untuk menemukan 38 korban yang masih hilang, dengan harapan dapat ditemukan dalam kondisi selamat. (gni)









