Fakta Viral Tragedi Balita di Sukabumi Meninggal Dunia Akibat Digerogoti Cacing

Kondisi Raya, balita asal Sukabumi saat dirawat di rumah sakit, sebelum meninggal dunia (foto: @txtdarisukabumi/instagram)
Kondisi Raya, balita asal Sukabumi saat dirawat di rumah sakit, sebelum meninggal dunia (foto: @txtdarisukabumi/instagram)

Blok-a.com – Tragis menimpa seorang balita perempuan sekitar 3-4 tahun bernama Raya, asal Sukabumi, Jawa Barat. Ia meninggal dunia dengan tubuh dipenuhi ribuan cacing gelang. Peristiwa yang terjadi pada akhir Juli 2025 ini tidak hanya menimbulkan keprihatinan mendalam dari masyarakat. Namun, juga memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

1. Viral di Media Sosial

Tragedi ini pertama kali terungkap ke khalayak luas berkat unggahan video di Facebook. Pengungah video berdurasi sembilan menit tersebut diketahui adalah Iin Achsien dari Rumah Teduh, yayasan yang bergerak di bidang sosial.

Dalam video tersebut terlihat kondisi tragis Raya yang meninggal dunia dengan tubuh dipenuhi ribuan cacing gelang. Juga momen-momen mengenaskan ketika cacing keluar dari hidung, mulut, dan anus bocah malang tersebut.

Lebih tragis lagi, disertai dengan narasi relawan yang menggambarkan betapa pedihnya melihat kondisi pasien. Raya dirawat di ICU tanpa identitas kependudukan apalagi kartu BPJS.

Hingga saat ini, pihak relawan Rumah Teduh masih sulit dikonfirmasi langsung oleh media. Pengelola Rumah Teduh Sukabumi, Iin Achsien, sempat merespons salam lewat pesan singkat, tetapi tidak melanjutkan percakapan terkait tragedi yang menimpa Raya.

 

2. Kondisi Memprihatinkan Raya dan Keluarganya

Setelah kasus ini viral, barulah terungkap kondisi kehidupan Raya dan keluarganya yang memprihatinkan.

Raya tinggal bersama keluarganya di Kampung Padangenyang, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi. Lokasi ini berjarak sekitar 50 kilometer dari pusat Kabupaten Sukabumi di Kecamatan Pelabuhan Ratu.

Di rumahnya yang semi panggung dan berdinding papan GRC, Raya tinggal bersama ayahnya yang bernama Udin, ibunya Endah, serta kakak perempuannya yang masih berumur tujuh tahun.

Endah, ibu Raya, mengaku anaknya kerap dibiarkan bermain di tanah dan kolong rumah bersama ayam-ayam.

“Kan tadinya (Raya) suka main di sini, di tanah. Katanya suruh jangan suka digendong gendong mulu, nanti lumpuh. Digendong terus kan lama jalan, akhirnya diamkan saja di bawah. Sakit udah lama sih, sama kaya saya sesak, batuk,” ujar Endah, dikutip dari detikJabar (18/8/2025).

Disebutkan bahwa Endah memiliki gangguan jiwa, sementara Udin mengidap penyakit tuberkolosis (TB). Sehingga Raya sering dirawat oleh nenek atau bibinya, Sarah. Sarah juga menyebutkan bahwa orang tua Raya kerap bekerja di kebun atau hutan.

Penampakan rumah yang ditinggali Raya dan keluarganya (dok: Liputan6)
Penampakan rumah yang ditinggali Raya dan keluarganya (dok: Liputan6)

3. Memburuk, Dilarikan ke Rumah Sakit

Dalam kondisi seperti itu, keluarga tidak memungkinkan Raya untuk dibawa ke rumah sakit.

“Belum ada sih, belum pernah ke rumah sakit, belum pernah dibawa ke puskesmas. Jadi kalau selama sakit Raya dimandiin aja dulu, pakai air hangat, pakai daun singkong, kan suka pilek, tradisional lah,” kata Endah.

Mengetahui kondisi Raya semakin memburuk, Edah (40), kerabat Raya, berinisiatif melaporkan kondisi Raya kepada relawan Rumah Teduh.

“Saya masih saudara, saya yang bawa ke relawan Rumah Teduh, rumah sakit. Saya laporan ke relawan kan disuruh dibawa ke rumah sakit ke dokter anak. Dia kan enggak punya apa-apa, enggak punya KK, enggak punya BPJS. Saya coba video-in itu ke relawan, kata relawan punya BPJS nggak, enggak. Udah gitu siap ke sini, dibawa lah langsung sama saya ke situ. Raya dijemput sama relawan untuk pengobatan,” ujarnya.

Usai kasus ini viral dan pihak rumah sakit memberikan penjelasan, barulah keluarga mengetahui kondisi tubuh Raya yang sebenarnya. Edah pun tidak menyangka bahwa kondisi tubuh Raya bisa sampai seperti itu.

“Cuman bilang asalnya cuman paru, kirain cuma satu cacing itu aja. Taunya banyak, saya juga dilihatin sama relawan saat mengantar jasad Raya. Katanya diliatin tuh ini hasil scan, ronsen banyak cacing, gitu doang,” ungkapnya.

Sementara itu, Endah, juga mengaku tidak tahu bagaimana cacing bisa sampai masuk ke dalam tubuh Raya.

“Iya ada cacing, katanya ada yang ukuran sekilo, berarti udah besar dalam perut, gak tau dari makanan atau dari mana itu cacingnya,” tutur Endah.

Beberapa cacing yang berhasil dikeluarkan dari tubuh Raya (dok: detik)
Beberapa cacing yang berhasil dikeluarkan dari tubuh Raya (dok: detik)

4. Ternyata Sudah Gizi Buruk Sejak Bayi

Setelah kasus ini mencuat, terungkap fakta bahwa kondisi Raya sebenarnya sudah terpantau oleh petugas kesehatan. Seorang bidan di desa setempat, Cisri Maryati, mengaku sudah lama memantau pertumbuhan Raya. Menurutnya, berat badan anak itu selalu berada di bawah garis merah (BGM) dalam Kartu Menuju Sehat.

“Ya kebetulan Raya itu sering ke Posyandu, sehingga berat badannya kita kontrol. Memang sejak kecil Raya termasuk BGM itu di bawah garis merah, benar benar terpantau kalau untuk berat badannya,” kata Cisri.

Sayangnya, ketika bidan mengusulkan agar Raya dirujuk ke Puskesmas, keluarga menolak, sehingga ia tidak bisa berbuat lebih banyak.

“Jadi memang waktu itu sempat sama kita juga mau dirujuk ke Puskesmas, sudah berkali kali, untuk konsultasi minimal dengan ahli gizinya. Cuman memang kalau jawaban dari ibunya, “gak bisa mang Rizal-nya gak bolehin,” katanya begitu,” tambahnya.

Selama ini, Raya juga telah mendapat berbagai bantuan dari susu, telur, ayam, hingga program Pemberian Makanan Tambahan Berbahan Pangan Lokal (PMT Lokal) selama 60 hari.

“Udah gitu sebetulnya obat cacing kalau untuk Raya dan semua anak-anak itu dapat setiap 6 bulan sekali, setiap bulan Februari dan Agustus. Jadi untuk Raya juga terakhir dapat itu bulan Februari itu obat cacing,” ujarnya.

RSUD Syamsudin SH Kota Sukabumi (dok: tribunnews)
RSUD Syamsudin SH Kota Sukabumi (dok: tribunnews)

5. Penanganan Medis yang Gagal

Hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa Raya menderita askariasis, sebuah infeksi parasit yang disebabkan oleh cacing gelang (Ascaris lumbricoides), yang biasanya hidup di tanah. Kondisinya diperparah dengan kemungkinan adanya komplikasi lain. Misalnya tuberkulosis meningitis, mengingat kedua orang tuanya diketahui sedang menjalani pengobatan TB paru.

dr. Irfan, Humas RSUD R. Syamsudin SH Kota Sukabumi, menyampaikan bahwa Raya dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) oleh keluarga dan tim relawan dari Rumah Teduh Sukabumi.

“Pasien datang dibawa keluarga dan tim pengantar dalam keadaan tidak sadar. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan syok atau kekurangan cairan berat,” ujar Irfan, dikutip dari iNews (19/8/2025).

dr. Irfan menambahkan bahwa meski kondisi syok berhasil ditangani, penyebab ketidaksadaran masih belum jelas. Saat berada di IGD, cacing tiba-tiba keluar dari hidungnya, yang lalu membuka dugaan awal bahwa kondisi Raya terkait infeksi cacing. Setelah kondisinya mulai stabil, Raya dirujuk ke ruang PICU untuk perawatan intensif.

Tim medis berhasil mengeluarkan cacing seberat 1 kilogram, meski yang tersisa di tubuh Raya masih cukup banyak. Berdasarkan hasil CT-scan dan rontgen, ditemukan bahwa ratusan telur cacing telah bersarang di kepala balita tersebut.

Ia menjelaskan bahwa infeksi bisa terjadi ketika telur cacing tertelan melalui makanan, minuman, atau tangan yang kotor. Telur cacing dapat menetas di usus, lalu berkembang menjadi larva yang bisa masuk ke berbagai organ, bahkan mencapai otak, melalui aliran darah.

Dugaannya, kondisi tubuh yang sudah dipenuhi parasit inilah yang mungkin membuat Raya mengalami penurunan kesadaran. Hingga dinyatakan meninggal dunia pada 22 Juli 2025 pukul 14.24 waktu setempat.

6. Respons Pihak Berwenang

Kasus meninggalnya Raya tentu saja mengundang perhatian luas publik. Setelah ramai dibicarakan, pihak kecamatan akhirnya memberikan keterangan resmi melalui Budi Andriana, Plt Camat Kabandungan.

“Betul kejadian di wilayah kita, terkait video viral yang beredar kami dari kecamatan kabandungan sudah melakukan berbagai upaya. Administrasi kependudukan sampai ke pengusulan dan pengajuan KIS, termasuk dengan pihak desa memperbaiki rumahnya waktu itu. Terkait dengan video viral yang beredar alangkah bagusnya di konfirmasi terlebih dahulu,” jelasnya.

Menurut Budi, pihak kecamatan sudah sejak lama memantau kondisi keluarga Raya. Ia menyebut bahwa sejak bayi, keluarga ini memang menghadapi berbagai persoalan.

Namun, soal detail medis mengenai tubuh Raya yang dipenuhi cacing, Budi mengaku tidak memiliki data resmi. Ia hanya mengetahui informasi tersebut dari pihak yang mengantar Raya ke rumah sakit.

Setelah video viral, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi pun menunjukkan perhatiannya. Ia menyatakan minta maaf dan ikut prihatin, juga menilai bahwa tragedi meninggalnya Raya mencerminkan tidak berjalannya fungsi dasar layanan kesehatan di tingkat desa, khususnya posyandu dan pendampingan PKK.

“Perhatian yang utama kepada ketua tim penggerak PKK, kepala desa, dan bidan desa di daerah tersebut. Dimungkinkan saya akan memberikan sanksi bagi desa tersebut,” ujar Dedi dalam sebuah video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, @dedimulyadi71, Selasa (19/8/2025).  (gni)

Exit mobile version