Blok-a.com – Mulai tahun 2026, pemerintah akan menaikkan insentif bagi guru honorer menjadi Rp400 ribu per bulan. Kebijakan ini diambil sebagai bentuk apresiasi terhadap peran penting para guru non-ASN yang selama ini berjuang di tengah keterbatasan fasilitas dan kesejahteraan di berbagai daerah Indonesia.
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi mengumumkan kenaikan insentif bagi guru honorer menjadi Rp400 ribu per bulan mulai tahun 2026. Kenaikan ini disampaikan langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti dalam Taklimat Media di Jakarta pada awal pekan ini.
Menurut Abdul Mu’ti, langkah ini merupakan kelanjutan dari kebijakan tahun 2025, di mana para guru honorer telah menerima insentif sebesar Rp300 ribu per bulan untuk tujuh bulan sekaligus, dengan total Rp2,1 juta per orang.
“Kami ingin terus memperhatikan kesejahteraan para guru, terutama mereka yang belum diangkat menjadi ASN atau PPPK. Tahun depan, insentifnya akan naik menjadi Rp400 ribu per bulan,” ujarnya, dikutip dari CNN Indonesia.
Selama ini, guru honorer menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan nasional, terutama di daerah-daerah terpencil yang kekurangan tenaga pendidik tetap. Namun, kesejahteraan mereka kerap tertinggal jauh dibandingkan guru berstatus ASN. Dengan kebijakan baru ini, pemerintah berupaya memberikan penghargaan lebih kepada mereka yang tetap mengabdi meski di tengah keterbatasan.
Kemendikdasmen memastikan bahwa penyaluran dana insentif akan dilakukan secara langsung ke rekening masing-masing guru. Ini untuk mencegah terjadinya keterlambatan atau pemotongan di tingkat daerah. Pemerintah juga tengah melakukan pemutakhiran data guru honorer agar penerima manfaat benar-benar sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.
Selain kenaikan insentif, pemerintah juga tengah menyiapkan program peningkatan kompetensi bagi guru non-ASN, salah satunya melalui program beasiswa studi. Program beasiswa tersebut disiapkan bagi 150 ribu guru yang ingin melanjutkan studi ke jenjang D4 atau S1 pada tahun depan.
“Tahun depan kita sudah mengalokasikan untuk 150 ribu beasiswa bagi guru yang belum D4 atau S1 dan itu sudah masuk dalam anggaran tahun 2026,” kata Mu’ti.
Program beasiswa ini sejatinya sudah dilaksanakan pada tahun ini. Hanya saja, jumlahnya tidak sebesar rencana penyelenggaraan tahun depan. Jika tahun 2026 direncanakan sebanyak 150 ribu, tahun ini beasiswa menyasar 12.500 guru, dengan nominal sebesar Rp3 juta per semester.
“Masing-masing Rp3 juta per semester dan informasi yang saya terima, semua sekarang sudah mulai kuliah dengan sistem RPL, Rekognisi Pembelajaran Lampau. Sehingga harapan kami dalam 1 tahun program ini selesai dan mudah-mudahan bisa diwisuda pada tahun yang akan datang,” ujarnya.
Langkah ini diharapkan mampu mendorong profesionalisme dan kualitas pengajaran yang lebih baik. Sehingga kebijakan kesejahteraan berjalan beriringan dengan peningkatan mutu pendidikan. (mg1/gni)









Balas