Kisah Guru Honorer Kota Malang: Gaji Layak-Ngajar Jadi Fokus (1)

Caption: Guru honorer SD Negeri Bakalan Krajan 2 Kota Malang, Yuli Sri Harini saat sedang mengajar siswa kelas 6 (blok-a/Nasrul)
Caption: Guru honorer SD Negeri Bakalan Krajan 2 Kota Malang, Yuli Sri Harini saat sedang mengajar siswa kelas 6 (blok-a/Nasrul)

Kota Malang, blok-a.com – Suasana kelas 6 SD Negeri Bakalan Krajan 2 pagi itu cukup menyenangkan. Para murid tak hanya serius membaca, namun juga bernyanyi untuk menghafal nama planet.

Sesekali para murid itu pun nampak bersemangat untuk menjawab pertanyaan dari sang guru Yuli Sri Harini. Bahkan ada yang sampai rebutan untuk menjawab pertanyaan Yuli.

“Merkurius, Merkurius,” teriak beberapa murid menjawab pertanyaan Yuli tentang planet terdekat dengan Matahari, Selasa (11/3/2023).

Di ruang kelas yang atapnya masih setengah jadi itu, murid-murid nampak menikmati pembelajaran oleh Yuli.

Yuli pun mengaku senang sampai saat ini bisa mengajar di SD Negeri Kota Malang itu. Meskipun sejak awal masuk ia cuma dapat honor Rp 100 ribu per bulan.

Dia sudah 15 tahun mengabdi menjadi guru di SD Bakalan Krajan 2, sekolah di Kecamatan Sukun Kota Malang, selatan Kota Malang.

15 tahun atau tepatnya sejak 2006 lalu, Yuli masuk sebagai guru bahasa Inggris di sekolah tersebut. Bayarannya kalau saat ini hanya buat makan dua hari.

Namun Yuli tetap mau mengajar sebagai Guru Tidak Tetap (GTT) di bawah Dinas Pendidikan Pemkot Malang itu pada tahun 2006.

“Awalnya saya hanya dapat Rp 100 ribu saja mas. Dan itu awal masuk cuma dua kali mengajar saja bahasa Inggris selama satu minggu,” kata dia ke blok-a.com.

Saat itu guru GTT atau honorer memang cukup memprihatinkan. Yuli bukan hanya satu-satunya masih banyak lagi guru yang tidak layak gajinya.

Alhasil, Yuli selain mengajar di SD Negeri Bakalan Krajan 2 Kota Malang dulu juga membuka jasa les atau bimbingan belajar. Hal itu ia lakukan untuk menambah pundi-pundi uang. Honor yang ia terima sebagai GTT di Kota Malang waktu itu tidak cukup untuk biayai hidupnya.

“Saya untuk menambah uang ya dulu ya sempat menerima les-les an di rumah,” kata dia.

Yuli pun sebenarnya juga tidak berpasrah dengan keadaan. Dia ingin kesejahteraannya meningkat dengan menjadi guru GTT atau honorer di Kota Malang.

Dia mencoba mengikuti beberapa program seperti Jardiknas (Jaringan Pendidik Nasional) pada tahun 2008. Dia terpilih menjadi salah satu perwakilan sekolah untuk mengikuti tes beasiswa tersebut.

Setelahnya bayarannya pun naik menjadi Rp300 ribu. Dia mengajar tidak hanya dua kali seminggu, tapi satu minggu penuh dia menjadi GTT atau guru honorer.

“Akhirnya full satu minggu masih Rp300 ribu,” kata dia.

Sempat Hendak Ganti Profesi

Yuli sebenarnya sempat berpikir untuk ganti profesi. Dengan gaji yang cukup sedikit yakni Rp300 ribu sebagai guru honorer di Kota Malang, dia ingin menjadi guru bimbingan belajar.

Tawaran pun datang kepadanya. Dia sempat tertarik. Bayaran jadi guru bimbingan belajar itu lebih besar dari pada guru honorer lebih tinggi.

“Saya sempat ada pikiran ganti profesi. Karena memang honornya seperti itu kurang. Dan ada tawaran jadi guru di sebuah bimbingan belajar itu,” kata dia.

Yuli pun setelah menerima tawaran itu berpikir sejenak. Dia seperti susah untuk melepas profesinya sebagai guru honorer di Kota Malang waktu itu.

Meskipun, honor yang ia terima kecil, dia tidak ingin melepas pekerjaan di tempat ia pertama kali kerja yakni di SD Negeri Bakalan Krajan 2.

“Masak saya lepas. Saya tidak ingin seperti kacang lupa sama kulitnya,” kata dia.

Akhirnya, Yuli pun tidak melepas profesinya sebagai guru honorer. Dia bertahan bertahun-tahun dengan gaji cuma Rp 300 ribu sebagai guru honorer.

Dia pun untuk mempertahankan sebagai guru honorer juga harus menempuh pendidikan lagi untuk meraih gelar sarjana pendidikan.

“Karena pada tahun 2010 itu ada aturan guru harus linier. Kan saya lulusan bahasa inggris dan saya ngajar tidak hanya bahasa Inggris tapi juga ngajar kelas, akhirnya saya sekolah lagi di UT (Universitas Terbuka) untuk raih gelar S.Pd,” kata dia.

Lima tahun dia kuliah di UT lagi saat sore, mengajar paginya di SD Badan juga jadi guru les di rumahnya. Istirahat tentunya ada namun sedikit. Bayaran pun tidak seberapa.

Namun semua itu dilakukan memang karena dia suka profesi sebagai guru meskipun hanya guru honorer waktu itu.

“Tapi harapan saya ada waktu itu untuk kesejahteraan,” tuturnya.

Era Sutiaji, Nasib Guru Honorer Kota Malang Mulai Diperhatikan

Sekitar tahun 2018 harapan untuk kesejahteraan itu mulai muncul. GTT atau guru honorer di Kota Malang dibayar dengan minimal gaji Rp 1,75 juta.

SD negeri Bakalan Krajan 2 (blok-a/Nasrul)
SD negeri Bakalan Krajan 2 (blok-a/Nasrul)

“2018 sudah mulai ada aturan Wali Kota Malang bahwa standar gaji itu Rp 1,75 juta,” kata dia.

Dengan bayaran tersebut pun Yuli seperti mendapat angin segar. Gajinya yang di bawah Rp 1 juta bahkan di bawah Rp 500 ribu itu bertahun-tahun kini mulai diperhatikan.

“Alhamdulillah itu sudah mulai diperhatikan ya mas,” kata dia.

Pada tahun 2022 lalu, Yuli juga mengaku sangat bersyukur. Ada Peraturan Wali (Perwali) Kota Malang yang mengatur tentang bayaran guru honorer. Gaji Yuli dan guru honorer lainnya naik lagi.

“Terakhir saya mendapat gaji sebagai GTT itu Rp 2,5 juta tentunya ini worth it menunggu kesejahteraan seperti ini,” kata dia.

Gaji yang diterima oleh Yuli dan guru honorer lainnya pada tahun 2022 itu cukup menyejahterakan. Sebab, Yuli tidak memungkiri, di daerah lain guru honorer tidak diperhatikan seperti di Kota Malang.

“Jangan jauh-jauh di Kabupaten Malang saja ini ada yang masih Rp 500 ribu guru honorer itu,” kata dia.

Dengan gaji yang layak itu, Yuli mengatakan, dirinya dan guru lainnya lebih fokus mengajar. Para guru honorer tidak lagi mencari tambahan lagi di luar jam sekolah untuk biaya hidup. Para guru honorer bisa fokus untuk mendidik anak.

“Saya sudah gak lagi ngelesi di rumah. Sekarang fokus ngajar anak-anak,” kata dia.

Kini Yuli pada tahun 2023 diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Dia bukan lagi guru honorer atau GTT.

“Ya barusan kemarin alhamdulilah-nya saya diangkat jadi PPPK alhamdulillah,” tutupnya. (bob)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?