Kota Malang, blok-A.com – Atas tragedi kelam Kanjuruhan, mengakibatkan belasan pelajar Kota Malang meninggal dalam peristiwa besar yang menelan ratusan korban jiwa itu, Rabu (12/10/2022).
Tercatat ada 15 siswa di Kota Malang yang menjadi korban. Sebanyak 13 anak merupakan siswa SMK negeri dan swasta, 1 anak merupakan siswa SMAN 10 Malang, dan 1 anak merupakan siswa SMPN 8 Malang.
Kasi SMA-PKLK Cabdin Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Kota Malang dan Batu,
M. Asrofi mengonfirmasi adanya kabar siswa SMA/SMK di Kota Malang yang sedang dirawat, ataupun yang sudah meninggal.
“Ada 14 siswa yang meninggal, 28 lainnya mengalami luka ringan. Saya terus menelpon beberapa sekolah, bisa saja ada yang belum terlaporkan,” ucap Asrofi.
Pria yang akrab disapa Asrofi itu, meminta sekolah yang siswanya meninggal dunia, untuk mendatangi rumah duka sekaligus melaksanakan salat gaib.
“Kami minta semua sekolah mengadakan doa bersama sebagai bentuk belasungkawa,” ucapnya.
Selain itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Surwajana telah menyebar form ke sekolah-sekolah di Kota Malang, guna mendata kondisi siswa dan siswi terkait tragedi kelam Kanjuruhan.
“Jadi kita dapat data dari wali kelasnya,” ungkap suwarjana.
Salah seorang siswa kelas 9 SMPN 8 Malang, menjadi korban meninggal dalam tragedi Kanjuruhan Sabtu malam lalu. Untuk memberikan dukungan moril, jajaran Disdikbud Kota Malang melakukan takziyah di rumah duka SMPN 8 Malang.
“Akhirnya Minggu pagi kami beserta jajaran Disdikbud Kota Malang melakukan takziyah ke rumah duka siswa SMPN 8 Malang itu yang berada di jalan Aris Munandar Gang 8 Kota Malang,” imbuhnya.
Suwarjana menghimbau agar tragedi tersebut menjadi pembelajaran bersama. Ia meminta agar semua siswa lebih berhati-hati membawa diri di mana pun.
“Jangan sampai peristiwa seperti ini terulang kembali,” pungkasnya.
Terpisah, Wali Kelas 9A SMPN 8 Malang Nurul Devira (wali kelas korban) menjelaskan Daffa Fahrudin Wijaya (korban) merupakan sosok pendiam di matanya.
Ia mengatakan bahwa tidak ada firasat apapun atas kepergian salah satu siswanya itu. Namun, Nurul teringat saat hari Jum’at, gelagat Daffa tampak berbeda.
“Biasanya anaknya diam dan cenderung pemalu. Namun, saat jam pelajaran saya Jumat lalu itu, Daffa seperti mengajak bercanda saya dengan meminta izin untuk meninggalkan kelas lebih dulu. Karena ada janji katanya,” terang Nurul.
Nurul mengatakan upacara rutin hari Senin ditiadakan kemarin. Kegiatan di sekolah pagi kemarin diisi dengan tahlil bersama.
“Lalu usai salat zuhur berjamaah lau dilanjutkan salat gaib,” tutup Nurul.
(rco)










Balas
Lihat komentar