Bentuk Kesiapan Mental Anak, Bunda PAUD Jember Sukseskan Gerakan Satu Tahun Prasekolah

Bunda PAUD Kabupaten Jember, Ghyta Eka Puspita dalam momentum Hari Anak Nasional 2026 yang berlangsung meriah di Alun-Alun Jember, Senin (10/8/2026) (foto: istimewa)
Bunda PAUD Kabupaten Jember, Ghyta Eka Puspita dalam momentum Hari Anak Nasional 2026 yang berlangsung meriah di Alun-Alun Jember, Senin (10/8/2026) (foto: istimewa)

Jember, Blok-a.com – Paradigma lama di masyarakat yang menganggap pendidikan prasekolah sebagai ajang percepatan kemampuan calistung (baca, tulis, hitung) secara paksa mulai diluruskan oleh Pemerintah Kabupaten Jember. Memanfaatkan momentum Hari Anak Nasional (HAN) 2026 yang berlangsung meriah di Alun-Alun Jember, Senin (10/8/2026), Bunda PAUD Kabupaten Jember, Ghyta Eka Puspita, secara resmi mengampanyekan pentingnya reformasi substansi pendidikan anak usia dini melalui program “Satu Tahun Prasekolah”.

‎Kebijakan Satu Tahun Prasekolah yang didorong oleh Pemkab Jember menitikberatkan pada kesiapan mental, kemandirian, dan regulasi emosi anak sebelum mereka memasuki jenjang pendidikan dasar (Sekolah Dasar/SD).

‎Langkah ini diambil setelah para pakar pendidikan anak menemukan banyaknya kasus anak yang mengalami stres, kecemasan berlebih, dan mogok sekolah di tingkat SD. Akibat dipaksa menguasai kemampuan akademik yang belum sesuai dengan tahapan perkembangan usia mereka saat berada di TK atau PAUD.

‎Ghyta Eka Puspita menjelaskan secara metodologis bahwa dunia anak usia dini adalah dunia bermain dan bereksplorasi. Oleh karena itu, kurikulum prasekolah harus didesain untuk menyenangkan dan menumbuhkan rasa ingin tahu, bukan diisi dengan lembar kerja soal yang menjemukan. Sesi melukis media celemek yang diikuti oleh 2.632 anak dalam pemecahan rekor MURI hari ini merupakan salah satu contoh konkret bagaimana stimulasi motorik kasar dan halus diaplikasikan secara menyenangkan melalui aktivitas seni luar ruangan.

“Pendidikan prasekolah itu bukan anak dikenalkan untuk membaca dan menulis secara kaku. Tetapi bagaimana menyiapkan putra-putri kita, membentuk rasa aman di tempat baru, menumbuhkan rasa percaya diri saat berinteraksi dengan teman sebaya, dan membentuk kesiapan psikologis dalam pendidikan berikutnya,” jelas Ghyta Eka Puspita saat membedah draf kurikulum merdeka bermain.

‎Ghyta menambahkan, rasa aman di sekolah merupakan modal utama bagi anak untuk dapat menyerap ilmu pengetahuan di masa depan. Jika dari jenjang prasekolah anak sudah mendapatkan trauma akibat tekanan akademik yang berat, maka motivasi belajar mereka akan menurun secara permanen. Oleh karena itu, program Satu Tahun Prasekolah bertugas menjembatani masa transisi anak dari lingkungan domestik rumah yang penuh proteksi keluarga menuju lingkungan sekolah formal yang lebih mandiri secara halus dan tanpa paksaan.

‎Melalui momentum HAN 2026 ini, Bunda PAUD Jember mengetuk kesadaran para kepala sekolah dan guru TK/PAUD di seluruh Kabupaten Jember untuk menyelaraskan metode pembelajaran mereka dengan visi pemda. Kerja sama dari para orang tua juga sangat dibutuhkan untuk tidak menuntut anak segera bisa calistung di usia balita.

‎Pemkab Jember memberikan garansi jaminan perlindungan regulasi bahwa seluruh anak di Jember berhak mendapatkan lingkungan masa kecil yang ceria, aman, inklusif, dan mendukung mereka untuk tumbuh menjadi versi terbaik (best version) dari potensi diri mereka masing-masing demi menyongsong Indonesia Emas. (rio)‎

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com