BLOK-A – Sinten Remen dan Endah Laras membuka penampilannya dengan lagu Syair Kerinduan. Lagu ini dibawakan grup orkes musik keroncong tersebut sebagai bentuk ungkapan kerinduan terhadap mendiang Djaduk Ferianto.
“Ndoro (panggilan sayang Sinten Remen pada mendiang Djaduk Ferianto) tepat satu tahun ini meninggalkan kita. Biasanya beliau duet sama saya setiap kami tampil. Nah, untuk mengobati kerinduan, kita nyanyikan Syair Kerinduan,” kata Endah Laras.
Sesuai dengan aliran musiknya, Sinten Remen menyuguhkan musikalitas khas keroncong yang menggunakan instrumen musik dawai, suling, biola dan gitar bass.
Selain Syair Kerinduan, Sinten Remen turut membawakan Geef Mij Maar Nasi Goreng, lagu berbahasa Belanda yang diciptakan dan dipopulerkan Wieteke van Dort, seorang aktris dari Negeri Kincir Angin yang lahir dan besar di Indonesia.
Geef Mij Maar Nasi Goreng sendiri dibuat Wieteke van Dort sebagai ungkapan kerinduannya pada Indonesia, terutama pada masakan nasi goreng.
“Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei // Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij,” lantun Silir Pujiwati.
Pertunjukan musik Sinten Remen semakin atraktif kala mereka membawakan lagu ‘Ayo Ngguyu’. Silir dan Endah menyanyikan lagu tersebut yang diselingi dengan orkes humor dipadu musik keroncong.
“Uwis suwe yo mas, ora ketemu // Luwih becik ayo geguyonan // Ayo ngguyu (ha ha ha.) // Ayo ngguyu (ha ha ha.),” penggalan lirik lagu ‘Ayo Ngguyu’.
Sinten Remen menutup penampilannya dengan lagu tradisional Sunda, Es Lilin.
Secara keseluruhan, suguhan musik kental dengan keroncong yang dibawa Sinten Remen bersama duet maut Silir Pujiwati dan Endah Laras membuat Prambanan Jazz Virtual Festival 2020 terasa megah, semakin menambah kerinduan para penonton yang harus menyaksikan konser ini secara virtual.










Balas
Lihat komentar