Tanggapi Pemburu Liar Biang Kebakaran Hutan Arjuno, Profauna: Mereka Halalkan Segala Cara

Caption : Situasi patroli hutan yang kerap dilakukan oleh Tim Profauna (Dok. Profauna for Blok-a.com)
Caption : Situasi patroli hutan yang kerap dilakukan oleh Tim Profauna (Dok. Profauna for Blok-a.com)

Kabupaten Malang, Blok-a.com – Menanggapi dugaan adanya pemburu liar pemicu kebakaran lahan di wilayah lereng Gunung Arjuno, aktivis kesejahtaraan hewan menyebut, aktivitas pemburuan satwa liar masih marak terjadi di wilayah Jawa Timur khususnya Malang Raya.

Founder Profauna Indonesia, Rosek Nursahid mengatakan, walaupun ada penurunan 80 persen dibandingkan tiga tahun yang lalu. Namun, angka pemburuan satwa liar masih marak ditemukan di hutan wilayah Malang Raya dan sekitarnya.

Hal itu terbukti saat patroli hutan, ia masih menemukan dua orang pemburu satwa di Gunung Kawi wilayah Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang.

“Dua minggu yang lalu kita mergokin dua orang pemburu satwa di Gunung Kawi, Ngantang. Jadi mereka kepergok kami saat patroli hutan, untuk berburu satwa,” ujarnya pada Blok-a.com, Selasa (29/8/2023).

Sebagai aktivis kesejahteraan hewan, ia menyebutkan, ada sejumlah wilayah rawan pemburu liar di hutan pegunungan Jawa Timur.

Diantanya yakni di Gunung Arjuno, Gunung Kawi dan Gunung Kelud, terutama terjadi di musim kemarau seperti saat ini.

“Mereka (pemburu) tidak menargetkan secara spesifik jenis satwa tertentu. Artinya kalau ketemu monyet ya monyet yang dibawa, kalau ketemu babi hutan ya itu yang dibawa, ketemu kijang ya dibawa,” lanjutnya.

Sehingga, apapun yang ditemui di hutan akan menjadi sasaran empuk para pemburu yang tak bertanggung jawab itu. Perilaku tersebut, tentunya tanpa memikirkan dampak jangka panjang yang akan ditimbulkan.

Disinggung terkait dengan dugaan pemicu kebakaran di lereng Gunung Arjuno, Rosek juga menduga, kebakaran tersebut ada kaitannya dengan aktivitas pemburu liar.

Sebab menurutnya, sikap pemburu liar itu tak tanggung-tanggung. Bahkan, kata Rosek, pemburu akan menghalalkan segara cara memperoleh hasil buruan yang maksimal.

“Jadi ada dua penyebab kebakaran. Satu mereka membuat api unggun, karena mereka kan menginap. Kedua yg parah, mereka sengaja membakar supaya satwanya keluar, kemudian mereka menunggu. Setelah satwa keluar, di situlah mereka tembak semua. Itu modus yang sangat parah terhadap ekosistem,” pungkasnya.

Sebelumnya, polisi tengah melakukan pengejaran terhadap pemburu liar pemicu kebakaran yang menyebabkan hutan di wilayah lereng Gunung Arjuno seluas ratusan hektare hangus, pada Sabtu (26/8/2023) lalu.

Hal tersebut disampaikan oleh Kasi Humas Polres Malang, Iptu Ahmad Taufik. Ia menyebut, hingga saat ini polisi tengah melakukan penyelidikan terkait dengan pemburu yang diduga sebagai penyebab kebakaran.

“Kami bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mengumpulkan bukti dan informasi yang diperlukan dalam penyelidikan ini. Tindakan seperti ini yang harus dihindari agar kita dapat menjaga kelestarian alam kita,” terang Taufik pada awakmedia, Selasa (29/8/2023). (ptu/bob)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?