Tagar Save Raja Ampat Trending di Media Sosial, Ini Penyebabnya

raja ampat
Aktivitas penambangan nikel di Raja Ampat (Foto: Instagram/@greenpeaceid)

Blok-a.com – Raja Ampat, yang dikenal sebagai surga bawah laut dunia, tengah menghadapi ancaman serius yang memicu gelombang protes massif di media sosial. Tagar #SaveRajaAmpat merebak di berbagai platform digital. Setelah penambangan nikel di kawasan konservasi menimbulkan kekhawatiran luas terhadap kerusakan ekosistem.

Raja Ampat sendiri memiliki keanekaragaman hayati laut tertinggi di Bumi, dengan 1.638 spesies ikan karang dan 534 spesies karang. Kawasan ini menjadi rumah bagi 75% spesies karang dunia dan sekitar 2.500 spesies ikan. Keistimewaan lainnya terletak pada kondisi geografis yang unik, di mana Raja Ampat berada di persimpangan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, sehingga mendapat julukan sebagai ‘pabrik spesies’.

Kepulauan yang terdiri dari lebih dari 1.500 pulau ini juga memiliki keunikan geologi. Berupa pulau-pulau karst yang menjulang tinggi di tengah laut. Ini menciptakan pemandangan yang menakjubkan di atas dan bawah permukaan air.

Polemik bermula ketika Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menemukan empat perusahaan tambang nikel yang beroperasi di Raja Ampat, yaitu PT GN, PT KSM, PT ASP, dan PT MRP. PT GAG Nikel, anak perusahaan PT Antam Tbk, adalah yang saat ini beroperasi aktif. Sementara beberapa perusahaan lainnya masih dalam tahap eksplorasi.

Keberadaan aktivitas tambang ini dinilai kontradiktif dengan status Raja Ampat sebagai kawasan konservasi dan destinasi pariwisata bahari kelas dunia. Isu penambangan dan hilirisasi nikel di Raja Ampat menjadi sorotan publik. Terutama setelah aktivis Greenpeace Indonesia melakukan aksi damai dalam acara Indonesia Critical Minerals Conference & Expo di Hotel Pullman, Jakarta, pada 3 Juni 2025.

Protes Warganet

Mendukung aksi tersebut, warganet, aktivis lingkungan, dan masyarakat adat bersatu menyuarakan penolakan ekspansi tambang di Raja Ampat. Mereka menilai kebijakan hilirisasi nikel pemerintah mengorbankan kawasan konservasi demi keuntungan ekonomi jangka pendek. Padahal pemerintah secara bersamaan gencar mempromosikan Raja Ampat sebagai destinasi pariwisata premium.

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, turut menyuarakan keprihatinannya. Melalui akun media sosial @susipudjiastuti pada 6 Juni 2025, ia menulis, “Yth. Bapak Presiden Prabowo, mohon dengan sangat, hentikan penambangan di Raja Ampat ini. Salam hormat.”

Selain tagar Save Raja Ampat, seruan “Papua bukan tanah kosong!” juga viral sebagai bentuk penolakan terhadap eksploitasi yang mengabaikan hak-hak masyarakat adat setempat.

Menanggapi tekanan publik yang massif, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah akan mengevaluasi kembali aktivitas pertambangan nikel dengan memanggil pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP). Langkah konkret diambil dengan menghentikan sementara kegiatan operasional tambang nikel di Raja Ampat, Papua Barat Daya.

Bahlil juga mengklarifikasi bahwa lokasi tambang nikel di Pulau GAG berjarak sekitar 30-40km dari kawasan wisata Raja Ampat, seperti Pulau Piaynemo. Meski hal ini tidak mengurangi kekhawatiran terhadap dampak ekologis yang lebih luas.

Meskipun tagar #SaveRajaAmpat telah berhasil menghentikan sementara aktivitas tambang, masyarakat tetap waspada dan berkomitmen mengawal isu ini untuk jangka panjang. Mereka menginginkan Raja Ampat mendapatkan perlindungan permanen sebagai kawasan konservasi, bukan sebagai wilayah industri ekstraktif. (mg2/gni)

Penulis: Siti Cholifah (mahasiswi magang STIMATA)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com