Kabupaten Malang, blok-a.com – Penggunakan QR Code untuk pembelian Bahan Bakar Motor (BBM) bersubsidi dikeluhkan masyarakat, termasuk sopir angkot di Kabupaten Malang. Pemberlakuan kebijakan ini dinilai menyusahkan dan dianggap tak efesien.
Perlu diketahui, uji coba kendaraan penerima subsidi Pertalite mulai diberlakukan di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Malang sejak awal November 2024.
Untuk dapat membeli BBM bersubsidi baik Pertalite maupun solar, kendaraan roda empat diminta menunjukkan QR Code yang telah disediakan oleh My Pertamina di setiap gerai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) setempat.
Menanggapi hal tersebut, salah satu sopir angkutan umum di kawasan Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang menyebutkan bahwa kebijakan baru yang diterapkan Pertamina terkait penggunaan QR Code untuk membeli BBM bersubsidi dinilai menyusahkan.
“Rasanya kok makin susah beli bensin (pakai QR Code), ruwet banyak aturannya,” kata Mustakim saat ditemui Blok-a.com, Kamis (14/11/2024).
Terlebih, menurutnya tidak semua sopir angkutan umum memiliki ponsel pintar. Sedangkan, QR Code sendiri harus memiliki smartphone yang memadahi untuk mendaftarkan kendaraannya. Hal ini tentunya semakin membuat kuwalahan bagi sebagian orang.
“Sopir punya HP saja jarang, kebanyakan HP-nya ya HP biasa pokok bisa buat telepon. Kalau gitu, ya mana bisa beli,” sambungnya.
Tidak hanya dirinya, sambung pria berusia 54 tahun itu, ia mengaku bahwa sebagian dari rekannya mengeluhkan hal yang sama.
“Banyak yang mengeluh, teman saya itu banyak yang gak punya HP banyak yang ngeluh gak bisa beli bensin. Jadinya mereka harus beli ecer,” ungkapnya.
Hal yang sama juga dikeluhkan oleh salah satu pengguna roda empat, Aguspri. Pria asal Kepanjen ini terpaksa beralih ke Pertamax ketika kehabisan bahan bakar saat berada di SPBU.
“Waktu itu males ribet daftar-daftar, karena posisinya juga sudah malam. Jadi terpaksa beli Pertamax biar cepat,” singkat Aguspri. (ptu/bob)









