Siap Aksi – Antisipasi, Mentan: El Nino Bukan Barang Baru

Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL). (blok-a.com/Lionita)
Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL). (blok-a.com/Lionita)

blok-a.comPemerintah telah menyiapkan berbagai langkah strategis dalam menghadapi dampak El Nino yang dapat menyebabkan kekeringan di beberapa wilayah Indonesia.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengaku dirinya memiliki bekal pengalaman dalam hal mempertahankan produktivitas pertanian selama masa kekeringan.

Hal itu dipraktikkan ketika dirinya menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Selatan.

“El Nino bukan barang baru mungkin dia lebih jahat dari yang lalu tapi paling tidak dasar-dasarnya sudah ada. Saya pernah menghadapinya. Saya pernah jadi Kepala Kelurahan menghadapi seperti ini, pernah Bupati, pernah Gubernur,” ujarnya saat forum diskusi bertajuk Meski El Nino, Bisa Panen secara virtual, Selasa (4/7/2023).

Menurutnya, banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi kekeringan akibat El Nino.

“2015 El Nino paling keras, saya dapat (gelar) Maha Bintang Putra Utama dari negara, Sulawesi Selatan saya Gubernurnya memberi makan 17 provinsi di saat krisis pangan 2015. Oleh karena itu El Nino ini tinggal cari ruangnya, cari peluangnya dari pengalaman yang ada. Pasti ada cara-cara yang bisa kita lakukan,” sambung SYL.

Upaya antisipasi yang bisa dilakukan yakni mengidentifikasi dan memetakan lokasi terdampak kekeringan serta mengelompokkan menjadi daerah merah, kuning, dan hijau.

Kemudian melakukan percepatan tanaman untuk mengejar sisa hujan, meningkatkan ketersediaan alsintan untuk percepatan tanam hingga penyediaan benih lahan kekeringan.

“Saya berharap peningkatan kapasitas produksi harus jadi bagian pilihan pilihan ini dan maping lokasi serta mengelompokan daerah yang merah, kuning, hijau, aku pernah ngalamin ini di 2015. Masih ada daerah yang basah yakni hijau, daerah kuning perlu digali bikin irigasi, dan merah fokus menanam tumbuhan yang bisa hidup di daerah kering,” jelas dia.

Sebagai informasi, El Nino adalah fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normal yang terjadi di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur.

Adanya pemanasan SML itu mengakibatkan bergesernya potensi pertumbuhan awan dari wilayah Indonesia ke wilayah Samudra Pasifik tengah sehingga akan mengurangi curah hujan di wilayah Indonesia.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memberikan peringatan potensi terjadinya El Nino di Indonesia pada 2023 ini.

Kepala Badan BMKG Dwikorita Karnawati menyebut El Nino dapat menyebabkan beberapa dampak pada Indonesia, seperti kekeringan dan minimnya curah hujan yang terjadi.

“Kombinasi dari fenomena El Nino dan IOD Positif yang diprediksi akan terjadi pada semester II 2023 dapat berdampak pada berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia selama periode musim kemarau 2023,” ungkap Dwikorita beberapa waktu lalu.

“Bahkan sebagian wilayah diprediksi akan mengalami curah hujan dengan kategori Bawah Normal (lebih kering dari kondisi normalnya) hingga mencapai hanya 20 mm per bulan dan beberapa wilayah mengalami kondisi tidak ada hujan sama sekali (0 mm/bulan),” sambungnya.

El Nino juga disebut akan berpotensi meningkatkan jumlah titik api dan kondisi kerawanan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

“Langkah-langkah strategis perlu dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi dampak lanjutan. Utamanya sektor-sektor yang sangat terdampak seperti sektor pertanian, terutama tanaman pangan semusim yang sangat mengandalkan air,” ujar Dwikorita.

“Situasi saat ini perlu diantisipasi agar tidak berdampak pada gagal panen yang dapat berujung pada krisis pangan,” tambahnya.(lio)