Blok-a.com – Setelah sebelumnya warganet ramai membicarakan Tugu Biawak Wonosobo yang dalam pembuatannya hanya memakan anggaran sekitar Rp 50 juta. Kini, perhatian warganet beralih ke monumen yang lain. Sorotan kali ini tertuju pada sebuah patung raksasa berbentuk burung rajawali yang berdiri megah di Desa Cipaat, Kecamatan Bongas, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Patung tersebut, yang dinamai “Monumen Rajawali Sakti”, berdiri megah di depan Kantor Desa Cipaat. Monumen ini diresmikan pada 15 Januari 2025 dan sejak peresmiannya, langsung menjadi ikon baru bagi desa sekaligus menarik perhatian masyarakat luas, baik di dalam maupun luar daerah.
Kehebohan dimulai ketika akun Instagram @indramayuinfo mengunggah video tentang patung tersebut. Video tersebut memperlihatkan detail patung yang begitu nyata, kepala putih, paruh kuning, tubuh kecokelatan, serta cakar berwarna kuning lengkap dengan kuku hitam. Pose rajawali seolah sedang siap mencengkeram mangsa, berdiri kokoh di atas palang bertuliskan “Kantor Kuwu Desa Cipaat”.
Patung ini memiliki berat sekitar 20 ton, dengan bentang sayap mencapai 10 meter dan tinggi sekitar 7 meter. Pembuatan patung ini berlangsung selama tiga bulan dan dikerjakan oleh warga setempat.
Menurut Kuwu (Kepala Desa) Cipaat, Kusnadi, pembangunan patung ini terinspirasi dari kesenian lokal, yaitu singa depok, yang cukup populer di Kecamatan Bongas. Dalam kesenian tersebut, rajawali sering dijadikan bentuk sisingaan atau hewan tunggangan simbolis.
“Bongas terkenal dengan depoknya. Nah saya terinspirasi dari situ,” ucap Kusnadi, dilansir dari Detik (14/5/2025).
Menariknya, pembangunan patung ini tidak menggunakan dana hibah dari pemerintah pusat maupun provinsi. Seluruh pembiayaan berasal dari Pendapatan Asli Desa (PAD) dan dana pribadi. Total dana yang terkumpul sebesar Rp 180 juta, terdiri dari PAD sekitar Rp100 juta dan sumbangan pribadi Kuwu sebesar Rp80 juta.
Penggunaan anggaran dilakukan secara transparan dan melibatkan pengawasan dari Badan Permusyawaratan Desa (BPD), sehingga masyarakat merasa yakin bahwa dana desa digunakan sesuai peruntukannya.
Warganet pun memberikan berbagai komentar positif terhadap patung ini. Sebagian menyebut bahwa model burung mirip jenis elang di Amerika Serikat. Namun, Kusnadi menegaskan bahwa ia tidak terlalu memikirkan jenis burung yang dibahas oleh warganet. “Saya kurang paham tentang elang Amerika. Niat saya bikin rajawali,” tegasnya.
Pembangunan patung ini diharapkan bisa memperindah kawasan sekaligus memberikan identitas visual yang kuat bagi desa. Dukungan warga menunjukkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah desa dan masyarakat dalam menciptakan kemajuan. (mg1/gni)
Penulis: Siti Kholifah (mahasiswi magang STIMATA)









