Kota Malang, blok-A.com – Di depan Stasiun Kota Malang, sejumlah angkot hanya diam tak beroperasi.
Sopir-sopir itu hanya sibuk menunggu penumpang datang, bukan mengantarnya. Tak jarang dari mereka, hanya melamun menunggu cuan.
Sekitar pukul 10.00 WIB, blok-A.com menghampiri salah satu sopir, yang sibuk memperbaiki angkotnya, sembari menunggu penumpang. Ia pun berkenan untuk mengutarakan uneg-unegnya kepada seorang wartawan.
Namanya Cipto. Bekerja dari era Soeharto sejak tahun 1987, hingga sekarang. 35 tahun mengabdi menjadi sopir angkot.
“Saya sudah 35 tahun menjadi sopir angkot, waktu saya umur 17 tahun,” ucap Cipto pada Rabu (07/09/2022)
Menanggapi kasus BBM naik, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya sepatah kalimat yang terlontar dari mulutnya.
“Kalau bisa ya turun seturun-turunnya, BBM naik penumpangnya malah tidak ada,” tuturnya.
Tidak hanya para ojol, sopir angkot pun merasakan hal yang sama. Berangkat jam 6 pagi, pulang jam 5 petang. Hanya itu rutinitasnya.
Siasat Para Sopir Angkot

Cipto membutuhkan kurang lebih 12 liter dalam seharinya, untuk menarik penumpang. Total yang harus ia keluarkan untuk bahan bakar, senilai Rp 80 ribu. Karena tidak ada penumpang, ia beserta rekannya tidak berani membeli bahan bakar.
“Kalau sekarang belum narik, jadi tidak berani beli bensin. Tidak ada penumpang,
Adanya cuman satu atau dua,” ujarnya.
“Ngirit ngirit, minimal 5 penumpang lah, baru saya jalan,” tambahnya.
Dalam sehari, per penumpang ia bisa mendapatkan Rp 5 ribu saja sekali tarik. Ia mengatakan sampai saat ini, belum ada kenaikan tarif dari Dinas Perhubungan. Permasalahannya tidak hanya BBM naik, tapi juga sepi penumpang. Ia takut jika tarif ongkos dinaikan, penumpangnya malah pergi.
“Kalau per orang Rp 5 ribu, jauh dekat. Daerah Alun-Alun, Dinoyo, Landungsari,” tutur Cipto.
“Tidak bisa matok saya, masalahnya penumpangnya tidak ada. Kalau dinaikin tarifnya ya bisa lari penumpang saya,” ucapnya.
Alasan Cipto 35 Tahun Menjadi Sopir

Pekerjannya sebagai sopir, sudah mendarah daging. Hal itu dibenarkan langsung oleh Cipto, yang sudah 35 tahun setia terhadap angkot birunya.
Selain mendarah daging, ia tidak bisa mencari pekerjaan lain, karena keahliannya cuman menyopir.
“Keahliannya cuman ini mas, ya jadi supir. Kerjaan lain sulit mas. Sama lah kaya pensiunan, cari kerjaan kan sulit. Ya ada, tapi kan 101,” ucapnya.
Sejak umur 17 tahun, Cipto sudah bisa memiliki penghasilan dari keringatnya sendiri. Salah satu alasannya, untuk mencari uang. Sejenak, ia pun rindu di era Soeharto, yang mana tidak ada transportasi lain, selain angkotan umum.
“Dulu di zaman Soeharto enak, sopir itu sehari bisa beli 2 gram emas. Kalau sekarang, kerja sehari belum tentu bisa beli beras,” pungkasnya.
Cipto pun pasrah. Saat ditanya bagaimana kedepannya, ia bingung untuk menjawab. Salah satu jawaban yang terekam, ia bisa bekerja.
“Saya tidak tahu mas, saya kira sama saja. Turun naik BBM, tetap saja penumpang sepi. Pasrah saja kalo sekarang dan rezeki sudah ada yang ngatur, yang penting kerja,” tutup Cipto.
(mg1/rco)










Balas
Lihat komentar